Adab Buang Air dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali

adab buang hajat

Pecihitam.org – Islam mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan kepada manusia. Seperti halnya kita sebagai muslim diajarkan bagaimana adab buang hajat atau buang air kecil dan besar sesuai sunnah Rasulullah saw. Hal ini penting diperhatikan dengan baik, sebab masih banyak kaum muslim yang celaka sebab kesalahannya dalam adab dan cara buang air.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini pernah Rasulullah Saw. peringatkan kepada seluruh umatnya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Sucikanlah dari buang air kecil, sebab kebanyakan siksa kubur karena buang air kecil”.

Di sini kita dapat belajar tentang apa saja yang harus dilakukan ketika buang hajat dan yang tidak boleh dilakukan. Berikut ini adalah adab buang air besar maupun kecil sesuai sunnah yang disampaikan Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Hendaklah setiap orang muslim yang hendak buang hajat melakukan hal-hal di bawah ini:

A. Jika buang air di WC/Toilet

  1. Mendahulukan kaki kiri ketika hendak masuk ke toilet/jamban dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar.
  2. Jangan membawa benda atau sesuatu yang terdapat Asma Allah dan Nabi atau Rasul.
  3. Hendaknya masuk dalam kondisi kepala memakai penutup (kopiah atau sejenisnya) dan memakai alas kaki.
  4. Ketika hendak masuk (di depan pintu toilet) membaca doa berikut ini:

    بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجْسِ الْخَبِيْثِ الْنُخْبِثِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

    Artinya: Dengan menyebut nama Allah aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang menjijikkan dan keburukan yang menjatuhkan manusia dalam keburukan yaitu Syaitan yang terkutuk”.
  5. Ketika hendak keluar membaca doa berikut (dalam hati):

    غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِّى مَايُؤَذِّنِى وَأَبْقَى فِيْمَا يَنْفَعُنِى

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah dengan dengan sifat maha pengamounmu. Segala puji hanya milik Allah yang telah menghilangkan sesuatu yang berbahaya dariku dan menyisakan apa yang bermanfaat bagiku”.
  6. Sediakan tiga batu sebagai alat istinja (cebok) sebelum menggunakan air (tidak wajib). Mungkin batu adalah alat yang digunakan di masa itu. Namun untuk saat ini mungkin bisa diganti dengan tisu. Hanya saja, jika kebiasaan orang barat hanya menggunakan kertas tisu saja untuk cebok, maka Islam menganjurkan penggunaan air setelah menggunakan batu atau tisu tersebut untuk istinja.
  7. Tidak boleh beristinja (cebok) di dalam tempat air (bak mandi). Melainkan kemaluaan harus bersihkan dan disiram di luar bak mandi.
  8. Menuntaskan buang air (kecil) dengan cara berdehem 3 (tiga) kali dan memijat kemaluan 3 kali untuk laki-laki. Tujuannya untuk memastikan dan supaya semua kotoran yang ada keluar dari tubuh.
  9. Menggunakan tangan kiri untuk membersihkan kotoran pada kemaluan. Dan menggunakan tangna kanan untuk menyiramkan air.
Baca Juga:  Bacalah Basmalah Setiap Memulai Suatu Pekerjaan Agar Menjadi Lebih Berkah

B. Buang Air di Tempat agak Terbuka

  1. Memilih tempat yang jauh dari keramaian dan menghindari sebisa mungkin dari kemungkinan dilihat orang. Gunakan penutup/pelindung yang aman.
  2. Menutupi aurat ketika sedang buang air.
  3. Jangan menghadap matahari maupun bulan dan juga membelakangi keduanya.
  4. Tidak menghadap ataupun membelakangi kiblat saat buang air.
  5. Jangan berbicara ketika sedang buang air.
  6. Tidak buang air di tempat-tempat sebagai berikut:
    a. Air yang menggenang (diam, tidak mengalir)
    b. Di bawah pohon yang berbuah
    c. Pada batu
    d. Tanah yang basah
    e. Tempat di mana angin bertiup kencang
  7. Tidak boleh kencing dengan berdiri kecuali dalam kondisi darurat.
  8. Menggunakan batu atau tisu yang disusul kemudian dengan air dalam beristinja (cebok). Disarankan lebih baik memilih air sebagai alat istinja jika ada air. Namun jika tidak ada maka gunakan batu atau tisu sebagai alat pembersih dan pakailah batu atau tisu dengan agak banyak.
  9. Gunakanlah tangan kiri saat membersihkan kemaluan dari kotoran.
Baca Juga:  Muhasabah: Hidup Ini Hanya Sementara Jadi Jangan Mengikuti Hawa Nafsu Semata

C. Ketika Selesai Buang Air (Baik di toilet maupun tidak)

  1. Membaca doa sebagaimana berikut:

    أَللهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِى مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِى مِنَ الْفَوَخِشِ.

    Artinya: “Ya Allah bersihkanlah hatiku dari sifat munafik dan jagalah kemaulanku dari berbagai kejelekan”.
  2. Mengusapkan tangan kiri yang dipakai membersihkan kemaluan dari kotoran pada tanah. Namun untuk sekarang ini bisa diganti dengan sabun untuk menggantikan pengusapan tangan pada tanah tersebut. Sebab hal ini mungkin di waktu itu karena belum ditemukan sabun.

Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Sumber:

  • Kitab Bidayah al Hidayah oleh Imam Al-Ghazali.
  • Kitab Maraqil Ubudiyyah Syarah Bidayah oleh Syekh Nawawi al Bantani.