Babylonia, Kota yang Terkenal Sebagai Tempat Praktek Sihir

Babylonia, Kota yang Terkenal Sebagai Tempat Praktek Sihir

PeciHitam.org Pusat peradaban Islam masa Rasulullah SAW beberapa kali bersentuhan dengan bangsa-bangsa diluar Arab. Islam, peradaban dan  ajarannya banyak tersiar sampai kenegara-negara para penyembah pagan seperti Negara Babilonia, Romawi dan Habasyah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Persinggungan Islam dengan dunia luar juga terekam ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan para Sahabatnya untuk berhijrah menuju Habasyah guna menghindari intimidasi kaum musyrik Makkah. Habasyah sendiri berada di Jazirah Afrika, tepatnya Negara Ethiophia pada saat ini.

Persinggungan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dengan Babylonia juga pernah terjadi pada masa kakek buyut beliau, Ibrahim AS. Berikut kisah tentang Babylonia yang dijuluki kota sihir.

Ibrahim dan Babylonia

Babylonia adalah sebuah  wilayah yang  dikenal dalam sejarah dunia sebagai peradaban Mesopotamia, atau peradaban diantara dua sungai besar di Jazirah Arab, Eufrat dan Tigris. Peradaban ini disebut sebagai peradaban tertua di dunia yang berkembang sejak 3500 tahun sebelum Masehi.

Negara yang  berkembang didaerah ini berasal dari bangsa Asyria, Babylonia, Sumeria dan lain sebagainya. Dan yang terekam dalam Al-Qur’an adanya suku bangsa Babylonia yang disebut sebagai kota sihir sejak era dahulu. Pada masa sekarang, Babylonia era sekarang masuk dalam kawasan Negara Irak Modern.

Babylonia adalah sebuah kawasan delta sungai yang sangat subur, karena terapit 2 sungai yang sangat  besar ditengah gersangnya gurun pasir khas timur tengah. Oleh karenanya sejak era peradaban Mesopotamia Kuno, daerah ini menjadi sumber bahan pangan yang sangat berharga pada masanya.

Kesuburan yang dikaruniakan Allah SWT kepada bangsa Babylonia tidak berbanding terbalik dengan ketaatan penduduknya untuk menyembah kepada Allah SWT. Warga negara bangsa Babylonia terkenal sebagai bangsa penyembah Api, atau dikenal dengan Majusi.

Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT kepada bangsa disekitar Mesopotamia termasuk Babylonia antara lain Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, Nabi Luth AS dan Nabi Ishak AS. Nabi Ibrahim AS menggambarkan pratek peribadatan yang dilakukan oleh bangsa Babylonia;

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (٧٨

Artinya; “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (Qs. Al-An’am: 78)

Nabi Ibrahim AS dalam perjalanan kehidupannya memang banyak bersinggungan dengan pemikiran tentang ketuhanan. Beliau menjadikan dirinya sebagai ‘alat percobaan’ dan terus berpikir tentang kebenaran hakiki terkait ketuhanan. Perjalanan penyembahan matahari pernah dialami oleh Nabi Ibrahim AS dalam perjalanan beliau mencari Tuhan.

Baca Juga:  Sejarah Beridirinya Kesultanan Kanoman Cirebon; Kasultanan Islam Ternama di Pesisir Pantai Utara

Paripurnanya beliau menemukan bahwa Tuhan yang tidak ada sekutu bagiNya adalah Allah SWT yang tidak lekang ruang dan waktu. Tidak seperti matahari yang dapat terbenam, bukan seperti bukan yang kalah dengan awan, dan bukan gunung yang lebih rendah dari langit.

Kesimpulan akhir perjalanan pencarian kebenaran Hakiki tentang ketuhanan terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٢٥٨

Artinya; “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Qs. Al-Baqarah: 258)

Perdebatan antara Ibrahim dan Raja Babylonia, Namrudz menjadi bahan diskusi yang baik tentang kebenaran konsep tauhid/ teologi Islam. Pergulatan pemikiran dan perjalanan mencari nilai hakikat sejati Ketuhanan yang dilakukan oleh Ibrahim AS menjadikan beliau dijuluki ‘Bapak Tauhid’.

Kota Sihir

Kisah kota Babylonia yang dikenal sebagai kota sihir bukan tanpa dasar. Memang sejak dulu kala Kota Babylonia kota ini menjadi pusat para tukang sihir berpraktek. Al-Qur’an mengabadikan dalam sebuah ayat al-Qur’an surat Al-Baqarah 102 tentang kisah Harut dan Marut.

Kisah tentang julukan Babylonia sebagai kota sihir tidak terlepas dari kebiasaan orang-orang dinegara ini yang menjadikan sihir sebagai bagian dari kehidupan. Asal muasal sihir yang banyak dipraktekan oleh penduduk Babylonia simpang siur.

Baca Juga:  Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah

Riwayat awal sihir merebak dikota Babylonia ketika Raja Babylonia yang bernama Nebucadnezar menawan orang Yahudi yang menginvasi Baitul Maqdis, Palestina. Para tawanan perang tersebut kemudian membuat sebuah lingkaran yang berguna sebagai simbol Lingkaran Sihir.

Akibat sihir yang dilakukan orang-orang Yahudi ini menjadikan Babylonia terserang pagebluk atau pandemi penyakit serta perceraian. Negara menjadi kacau balau akibat fitnah sihir yang dilepaskan oleh tawanan orang-orang Yahudi. Akibat  sihir yang dihasilkan diterangkan dalam ayat;

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

Artinya; “Mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya” (Qs. Al-Baqarah: 102)

Dalam tafsir dijelaskan tentang akibat sihir yang dikerjakan orang Yahudi, yakni dapat mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri. Akibat adanya sihir ini menjadikan orang-orang Babylonia terjebak dalam sihir yang menyesatkan dan membuat syirik warganya.

Maka Allah SWT menurunkan dua malaikat yang dikenal dengan Harut dan Marut sebagai anti-tesis penangkal sihir. Cara Harut dan Marut dengan menerangkan sihir kepada warga Babylonia dengan hakikatnya, bahwa sihir berasal dari Syaitan.

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ

Artinya; “Dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu” (Qs. Al-Baqarah: 102)

Tugas Harut dan Marut mengajarkan sihir kepada warga Babylonia yaitu untuk menangkal sihir yang dibuat oleh orang Yahudi. Orang-orang Babylonia banyak mengamalkan mantra-mantra sihir sebagaimana disebutkan dalam tafsir petikan ayat ‘وَاتَّبَعُوا مَا’ yang dimaksudkan mengikuti mantra-mantra sihir.

Baca Juga:  Sejarah Singkat Lahirnya Hizbut Tahrir dari Palestina hingga Indonesia

Awalnya adalah sebuah berita yang dibisikan oleh Syaitan kepada warga Babylonia bahwa Nabi Sulaiman AS yang terkenal sebagai Raja Besar menyimpan lembaran-lemabaran sihir. Ibnu Katsir menjelaskan terkait tafsir petikan ayat ‘تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ’ tentang gosip yang berkembang di Babylonia tentang Raja Sulaiman AS.

Isu raja Sulaiman memiliki kitab mantra sihir dibantah oleh Al-Qur’an yang mana sihir hanya diperuntukan kepada mereka yang mengikuti syaitan. Sedangkan Sulaiman AS adalah orang yang beriman, maka tidak mungkin menyimpan mantra-mantra untuk sihir dan santet. Dan tugas Harut dan Marut sebagai penetralisir Ilmu sihir yang sudah ada sebelum kedatangan mereka.

Ajaran Harut-Marut untuk meredam sihir ternyata disikapi berbeda oleh penduduk Babylonia. Setelah Harut Marut kembali kelangit, orang Babylonia menggunakan pelajaran sihir dari Harut Marut untuk kepentingan pribadi. Bukannya Babylonia menjadi damai, malah bertambah kacau balau karena semakin merebaknya Ilmu Sihir.

Menurut Gus Baha (KH. Bahaudin Nursalim), sejarah Babylonia sangat relevan untuk menjelaskan kejadian di Irak yang tidak pernah berhenti perang.

Kota Kuffah, Basrah, Tikrit dan sekitaran Negara Irak tidak pernah damai berasal dari sumpahan para Nabi terdahulu. Dahulu Babylonia adalah kota sihir yang mana menjadikan orang disana tidak akan jauh dari sifat-sifat tersebut.

Maka ketika konflik tidak pernah redam dari Irak, yang dahulu dikenal dengan Mesopotamia-Babylonia, tidak menjadi hal baru. Karena sejak Nabi Ibrahim AS sudah terkenal negara yang kacau tidak pernah damai karena warganya yang banyak menggunakan sihir.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan