Bagaimana Etika Tawasul Yang Benar Agar Doa Kita Segera di Kabulkan Allah SWT?

etika tawasul yang benar dalam berdoa

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pecihitam.org Tawassul artinya ialah berwasilah atau menjadikan perantara doa untuk mendekatkan seseorang dan Allah SWT. Tawasul sifatnya hampir sama dengan sholawat karena sholawat itu menyanjung . Sanjungan disitu dimaksudkan agar doa kita di doakan juga oleh Nabi Muhammad SAW dan tersampaikan kepada Allah SWT. Lalu bagaimana etika tawasul yang benar agar doa kita segera di kabulkan Allah?

Baca juga: Biografi Syekh Nawawi Banten,Ulama Indonesia yang bergelar Pemimpin Ulama Hijaz

Pada dasarnya Islam memerintahkan pemeluknya untuk bertawasul sebagai cara untuk membangun jalan penghubung antara hamba dan Tuhannya. Perintah ini termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 35 berikut ini:


ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.


Berdasarkan ayat tersebut para ulama bersepakat bahwa tawasul adalah sesuatu yang disyariatkan dalam islam. Para ulama berpendapat tawasul yang dimaksud adalah dengan amal sholeh yang mana menjadikan sesorang semakin dekat dengan Allah. Dan amal sholeh tersebut dijadikan tawasul agar doa-donya segera terkabul.

Selain dengan amal Sholeh tawasul juga dapat dilakukan dengan menyertakan orang-orang sholeh atau benda. Namun ulama ada yg berbeda pendapat dengan hal ini. Ada ulama yang berpendapat boleh, ada ulama yang berpendapat tidak boleh. Namun perbedaan tersebut hanya sekedar formalitas dan bukan sebuah perbedaan yang prinsipil.

Baca Juga:  Benarkah Mengeringnya Sungai Eufrat Salah Satu Tanda Hari Kiamat?

Mengutip dawuh KH Wazir Ali, Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur. Dengan merujuk beberapa kitab tafsir Kyai Wazir mengatakan:

“Ada yang mengartikan wasilah itu surga, ada yang mengartikan amalan-amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan ada yang mengartikan, seseorang bisa menjadi perantara, karena orang tersebut alim dan dekat kepada Allah SWT, misalnya seorang wali.”

Nabi Adam AS juga pernah tawassul kepada Nabi Mahammad SAW, padahal Nabi Muhammad waktu itu belum lahir. “Ketika Nabi Adam AS melakukan kesalahan, kemudian beliau bertaubat dan berdoa “Ya rabbi as’aluka bihaqqi Muhammdin”

Baca juga: Bagaimana Hukum Bermakmum di Belakang Imam Wahabi, Sahkah Shalat Kita?

Berikut macam-macam dan etika tawasul yang benar berdasarkan keterangan para ulama:

  1. Tawassul bi asmaillah (tawassul dengan nama Allah). Tawassul ini adalah tawasul yang paling tinggi. Misalnya ketika bedoa seseorang bertawasul dengan perkataan a‘ûdzu biqudratillah, a‘udzu bi izzatillah dan yang lainnya. Tawassul ini juga bisa dilakukan dengan menyebut Asmaul Husna, secara lengkap atau sebagian atau dengan ismul a’dham. Ismul a’dham, merupakan kata kunci untuk berdoa. Ismul a’dham ini disamarkan, tetapi bisa dipelajari, misalnya dalam kitab Imam Nawawi, Fatawa Nawawi, disebutkan tentang Ismul a’dham.
  2. Tawasul bi a’mal shalihat (tawassul dengan amal yang baik). Dalam kitab Riyadus Shalihin dikisahkan, pernah ada 3 orang sahabat, yang kemudian dalam perjalanan mereka menemukan gua. Karena penasaran, ketiganya memasuki gua tersebut. Setelah sudah masuk, tiba-tiba terjadi angin kencang yang merobohkan batu besar sehingga menutupi mulut gua tersebut. Mereka mengalami kesulitan untuk keluar, seminggu tidak makan dan memanggil-manggil orang tidak ada yang mendengar, lalu ketiganya bermuhasabah. Seseorang dari mereka berdoa dan bertawassul menyebut perbuatan birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua). Akhirnya batu terbuka sedikit demi sedikit dan ada sinar matahari. Kemudian yang lain berdoa dengan amal unggulannya, akhirnya batu tergeser, mulut gua tersebut terbuka dan akhirnya mereka dapat keluar.
  3. Tawassul bis shalihin (tawassul dengan orang-orang shalih). Tawasul kepada orang-orang sholeh, baik orang sholeh masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Diceritakan dalam hadits shahih, ada salah satu sahabat yang buta, dan ingin bisa melihat. Kemudian ia tawassul Allahumma inni as’aluka wa atawajjahu bi nabiyyika fi hajati hadzihi… (Ya Allah saya meminta dan menghadapmu dengan wasilah kepada Nabi dalam memenuhi kebutuhan saya ini…). Akhirnya sahabat tersebut bisa melihat.
  4. Tawassul bi dzat (tawassul dengan dzat). Cara melakukan tawassul macam ini, misalnya bi jahi (dengan kedudukan), bi hurmati (dengan kemuliaan), bi karamati (dengan kemurahan). Shalawat Nariyah merupakan salah satu contoh tawassul bi dzat.
Baca Juga:  Masya Allah! Sekalipun Karena Riya' Shalawat Tetap Berpahala

Lafal-lafal tawasul yang biasa digunakan masyarakat:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allâhumma innî atawassalu ilaika binabiyyika muhammadin shallallâhu alaihi wa sallam.

Artinya: “Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui kemuliaan nabi-Mu, Nabi Muhammad SAW.”

يَا رَبِّ بِالمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الكَرَمِ

Yâ rabbi bil mushthafâ, balligh maqâshidanâ, waghfir lanâ mâ madhâ, yâ wâsi‘al karami.

Artinya: “Tuhanku, berkat kemuliaan kekasih pilihan-Mu Rasulullah, sampaikanlah hajat kami. Ampunilah dosa kami yang telah lalu, wahai Tuhan Maha Pemurah.”

Jika kita perhatikan ternyata rukun sholat juga mengandung tawasul yaitu pada duduk tahiyat terakhir. Pada rukun tersebut wajib membaca tasyahud atau tahiyat, dalam tahiyat iku juga wajib memabaca sholawat jika tidak maka sholatnya tidak sah. Maka dari itu hal tersebut juga termasuk tawassul menyebut nabi di dalam doa karena sholat iku makna aslinya dalam bahasa adalah الدعاء (doa). Itulah beberapa keterangan mengenai tawasul, semoga dengan etika tawasul yang benar dan keihklasan doa hajat-hajat kita segera terkabul. Wallahu’alam Bisshawab.

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Tentang Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa
Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *