Belajar Cinta dari Tokoh Sufi Jalaluddin Rumi

Belajar Cinta dari Tokoh Sufi Jalaluddin Rumi

PeciHitam.org – sebelum mencintai atau dicintai ada kata cinta dan setelah memahami tigat itu, muncullah kata rindu. Kita perlu memahami definisi cinta terlebih dahulu. Maka dari itu kita perlu belajar cinta dari tokoh sufi Jalaluddin Rumi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelum belajar cinta dari tokoh sufi Jalaluddin Rumi, penulis berikan biografi singkat Jalaluddin Rumi. Beliau merupakan seorang tokoh sufi berpengaruh di dunia Islam dilahirkan di Balkh (sekarang Afganistan) pada tahun 604 H/1207 M. Ia dikenal sangat piawai dalam pemikiran esoteriknya melalui ungkapan syair-syair yang indah. Pemikiran Rumi berbeda dari sebagian tokoh sufi lainya.

Puisi adalah salah satu sarana yang biasa digunakan oleh para sufi untuk mengungkapkan keadaan batin mereka. Para sufi yang biasa melakukan hal tersebut adalah Rabiah al Adawiyah, Yahya ibn Mu’adzal, Razi al Halaj, Umar ibn al Farid, dan Jalaluddin Rumi. Jalaluddin Rumi dan Umar ibn al Farid berpendapat bahwa puisi adalah sarana paling tepat untuk mengungkapkan realitas secara sentimental.

Adapun puisi Jalaluddin Rumi (diterjemahkan bahasa Indonesia) sebagai berikut:

Baca Juga:  Al-Alusi dan Karyanya Kitab Ruh al-Ma'ani

Cinta bagaikan sayap

dengannya manusia terbang di angkasa

menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan

menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh

Cinta berjalan di gunung maka gunungpun bergoyang menari

(Jalaluddin Rumi: 1707)

Rumi metaforkan cinta seperti sayap, agar dapat terbang tinggi menemui Tuhannya. Dengan terbang tinggi manusia bisa melampaui rute-rute darat yang cukup rumit, bisa melihat keluasan bumi dan menghalau pandangan yang rabun, serta  memiliki pengetahuan lebih luas dari pandangan darat yang hanya bisa melihat sekelilingnya dengan sekat-sekatnya, tapi terbang melampaui sekat-sekat bumi dan bahkan dapat melihat sekat itu sendiri dari berbagai arah yang kemudian menerobosnya.

Dalam ajaran sufi yang cukup menonjol adalah mahabbah. Di mana sang Maulana Jalaluddin Rumi adalah tokoh yang tertkemuka dalam hubungan dengan ajaran mahabbah. Dalam karya-karya Rumi, mahabbah menjadi tema sentral. Adapun pendapat cendekiawan Indonesia, sebgai berikut:

“Rumi itu sosok yang berbeda. Dia tidak punya aliran, dia tidak punya mazhab, dia tidak punya ajaran khusus tentang tasawuf. Disebut sufi karena dalam seluruh aspek kehidupannya senantiasa terjun pada dunia spiritual,” kata Prof Muhtar Sholihin.

Baca Juga:  Wajibkah Umat Islam Bertasawuf? Ini Penjelasannya

“Kenapa demikian? Karena Rumi ini adalah seorang fiosofi dan filsufi yang pemahaman-pemahaman wihdatul wujudnya dan sebagainya dituangkan dalam karya sastra,” tegasnya.

Sebuah contoh karya Jalaluddin Rumi adalah tentang penciptaan alam semesta ini yang dihubungkan dengan cinta, sebab katanya hal pertama yang di ciptakan oleh Tuhan adalah cinta.

“Cinta adalah samudra (tak bertepi) tempat langit menjadi sekadar serpihan-serpihan busa, (mereka kacau balau) bagaikan perasaan Zulaikha yang menghasrati Yusuf,” kata Prof Muhtar menyebutkan salah satu karya rumi tentang “Cinta Universal”.

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Bandung ini pun menjelaskan mengapa cinta digambarkan sebagai sebuah samudra yang tak bertepi dalam kata lain pengkiasan bumi, tetapi bumi yang kita pijaki ini adalah sebuah serpihan, karena bumi itu di ciptakan karena cinta.

“Jadi yang disebut hukum alam atau sunatullah itu adalah sebuah proses bergerak oleh cinta,” jelasnya.

Dalam perspektif Rumi, lanjutnya, dalam sebuah contoh, dua orang yang saling membenci, pada saat ketika bisa melakukan sikap saling membenci? Menurut pandangan Rumi kedua orang tersebut dilandasi karena cinta, sebab dibalik kebencian terdapat rasa sayang.

Baca Juga:  Adab Murid Terhadap Guru yang Harus Dimiliki Penuntut Ilmu

“Seperti dalam teori es, ketika berada pada titik 4 derajat Celcius menjadi sangat beku dan dingin, turun di titik 0 Celcius masih dingin, dan pada titik negatif ke bawah menjadi panas. Itu artinya karena bencinya kepada orang, itu menjadi cinta, maksud saya adalah kebencian itu ialah wujud cinta yang teramat cinta,” imbuhnya.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.