Belajar dari Seekor Lebah, Menjadi Umat yang Tak Mudah Marah

belajar dari seekor lebah agar tidak marah

Pecihitam.org – Dalam keseharian kita memang begitu banyak hal yang dapat menjengkelkan hati dan membuat kesal. Ketika hal-hal itu datang tak jarang pula kita menyikapinya dengan marah. Marah bukanlah solusi bagi semua persoalan, ia malah mengundang kerusakan yang lebih besar. Anehnya, Islam yang diyakini sebagai solusi segala masalah justru didakwahkan dengan cara marah pula. Mungkin kita perlu belajar dari seekor lebah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ribuan ayat telah disajikan oleh Allah dalam al-Qur`an untuk memancing hamba-hamba-Nya untuk berfikir, melihat, meneliti dan menelaah alam semesta dan segala kejadian di dalamnya.

Allah menegaskan bahwa dengan berfikir mengenai alam semesta ini, manusia akan sampai pada pengenalan sempurna tentang diri-Nya Yang Maha Kuasa dan mengambil i’tibar atau pelajaran dari fenomena alam yang menakjubkan itu.

Allah menggambarkan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya itu ada di balik pergantian malam dan siang, pergantian musim, bergantungannya bintang-gemintang sebagai penunjuk arah, adanya petir dan guntur yang kita takuti, disediakannya hewan-hewan ternak untuk kita ambil manfaatnya, di balik adanya pasangan hidup tempat kita bermanja, bahkan tanda-tanda kekuasaan Allah ada di balik hadirnya hewan-hewan kecil seperti nyamuk, semut dan lebah.

Lebah adalah binatang yang unik. Allah telah menceritakan bahwa lebah adalah makhluk kecil yang memberi banyak manfaat besar bagi manusia. Dalam al-Qur`an disebutkan:

Baca Juga:  Catatan Kecil Seorang Santri untuk Umat Islam Menghadapi Wabah Corona

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. Al-Nahl: 68)

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang berfikir.” (QS. Al-Nahl: 69)

Karena lebah memberi banyak faedah bagi makhluk-Nya yang lain, Allah memberinya perlindungan guna mencegah tindakan jahat yang dilakukan makhluk lain terhadapnya.

Sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan memang menjadi rebutan atau terkadang mengundang niat jahat makhluk-makhluk serakah yang ingin mengambil keuntungan darinya.

Allah memberi lebah sistem pertahanan diri berupa sengatan yang sangat menyakitkan. Alat sengat itu berdaya kuat sangat tinggi sehingga makhluk manapun yang disengatnya akan menderita bahkan bisa mati seketika.

Namun demikian, sebagaimana diinformasikan ilmu Biologi, bentuk alat sengat lebah sangatlah unik. Bentuknya seperti jarum namun sisi-sisinya bergerigi-gerigi tajam di sepanjang jarum sengat itu, sehingga ketika lebah selesai menancapkan jarum sengatnya dan menanamkan racun ke dalam tubuh makhluk yang disengat, lalu ia mencabut jarum itu, dengan seketika tubuh lebah ikut terkoyak-koyak karena gerigi jarum sengatnya tersangkut di bagian dalam kulit makhluk yang disengatnya.

Baca Juga:  Arus Besar Metode Ushul Fiqih dalam Islam

Perlu kesabaran yang sangat kuat bagi seekor lebah untuk tidak menyengat makhluk lain meski makhluk lain mengganggu keamanannya. Perlu kesabaran yang sangat kuat bagi seekor lebah agar tidak menjemput maut gara-gara menyengat makhluk lain.

Oleh karena itu, seekor lebah haruslah menjadi makhluk yang tidak mudah marah, sebab marah, meski dalam waktu singkat menghasilkan rasa puas, justru mengoyak-ngoyak dirinya sendiri.

Demikianlah Allah telah mengajari manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi ini melalui wujud binatang kecil berupa lebah. Banyak hal yang membuat kesal hingga menimbulkan amarah yang menggelora.

Memang benar bahwa marah itu terasa memuaskan. Memang benar bahwa marah menghasilkan luapan emosi yang menyenangkan. Tetapi pada akhirnya marah hanya mengoyak-ngoyak hati kita.

Marah hanya akan mematikan kebaikan dalam diri kita. Marah itu seperti sengatan lebah yang menyakitkan bagi orang yang kita anggap bersalah, dan kita senang dan puas melihatnya menderita karena amarah kita. Namun marah juga menyakiti diri kita seperti lebah yang tubuhnya terkoyak-koyak, hingga akhirnya hati kita pun mati tanpa ampun lagi.

Baca Juga:  Bagaimana Menjaga Akhlak Berkomentar di Media Sosial

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. suatu saat seseorang mendatangi Rasulullah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, berikan aku nasihat.” Rasul berkata: “Jangan marah!”, lalu beliau mengulang-ulangi perkataan itu berkali-kali: “Jangan marah!” (disadur dari HR. Bukhari)

Rasulullah juga bersabda: “Orang hebat bukanlah yang menunjukkan keperkasaannya, tapi bagaimana ia menjaga hatinya saat sedang marah” (HR. Bukhari-Muslim)

Marilah kita semua sama-sama menjaga hati kita agar tidak dijajah oleh rasa marah terhadap segala hal. Hadapilah segala hal secara bijaksana. Niscaya Allah akan membantu kita mengatasi segala masalah itu.

Marah memang menyenangkan tapi akhirnya menyakiti diri sendiri. Kendalikan amarah kita sebab rasa marahlah yang acapkali menimbulkan gejolak konflik dalam kehidupan umat Islam saat ini. Jika kita mau belajar dari seekor lebah, jangan marah.

Yunizar Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published.