Belajar Islam Ramah ala Indonesia di Era Millenial

islam ramah

Pecihitam.org – Kemudahan dalam mengakses informasi menjadikan semua orang semakin di mudahkan dalam mengakses dan belajar tentang agama islam melalui teknologi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudahan ini menjadi keunggulan tersendiri namun juga menjadi kewaspadaan kita terhadap narasi beragama yang tidak ramah. Sebab, kehidupan dengan serba teknologi membuat nalar kritis beragama kita terkadang kurang peka.

Banyaknya narasi islam membuat kita terdistorsi terhadap informasi keberislaman itu sendiri. Narasi keberagamaan yang banyak ini menjadi sebuah tantangan untuk memilah dan memilih hal-hal yang sesuai dengan ketentuan dalam Islam.

Narasi tentang islam di era milenial selalu menjadi bahan perbincangan yang asyik dengan karakter milenial yang ingin serba cepat dan instan.

Istilah berislam pada dasarnya adalah meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW yang menjadi uswatun hasanah bagi umat islam di manapun berada.

Karakter Islam yang santun sudah diajarkan sejak dulu oleh Nabi Muhammad SAW yang senantiasa membawa narasi besar tentang islam ramah bukan islam marah.

Narasi yang dicontohkan sejak dulu itu sudah seharusnya di gaungkan kembali saat banyak generasi muslim di era milenial saat ini yang hidup di tengah narasi keberagaman yang radikal.

Baca Juga:  Memahami Konsep Islam Moderat Dalam Pandangan Berbagai Tokoh

Banyaknya literasi keislaman yang radikal dan intoleran saat ini menjadi kekhawatiran tersendiri terhadap narasi keberagamaan di era virtual sekarang ini. Dan itu menjadi suatu hal dari sekian hal lain mengancam kehidupan beragama umat muslim. Seringkali umat muslim mengalami kehilangan spirit dan jati diri sebagai seorang muslim yang kritis namun santun dalam beragama.

Melihat persoalan umat islam saat ini tentu saja berbeda jika menengok kembali pada masa Nabi Muhammad SAW. Banyaknya benturan yang terjadi setelah masa Nabi Muhammad SAW wafat banyak yang menjadikan islam sebagai alat kepentingan.

Kemunculan berbagai persoalan pelik yang banyak membuat kekacauan identitas umat muslim ini memantik kemunculan beberapa buku yang dapat menjadi panduan dalam berislam di era milenial.

Tawaran yang diberikan oleh Khoirul Anwar (2019) dalam bukunya Berislam di Era Milenial memberikan jawaban atas kondisi benturan antar narasi keberislaman yang benar dan cenderung mengacaukan kondisi keberagamaan tersebut.

Baca Juga:  Fenomena Netizen Muslim yang "Beragama" Medsos

Berislam di era milenial sekarang ini membutuhkan kecermatan lebih, khususnya dalam memahami narasi-narasi yang dibawakan ustadz-ustadz yang lahir dadakan misalnya.

Fenomena ini banyak berkembang dan terjadi di Indonesia, youtube, twitter dan berbagai media lain menjadi sarana dalam menyebarkan ajaran islam.

Hal demikian ini sebetulnya tidak apa-apa dilakukan dalam mempelajari islam, namun seringkali pemahaman keislaman yang didapatkan terkadang tidak utuh dan cenderung memiliki kepentingan tertentu yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan islam itu sendiri.

Hidup ditengah cepatnya perubahan informasi dan sosial seperti ini membuat semua orang menjadi bingung dengan banyaknya isu yang berkembang ditengah masyarakat.

Sudah semestinya Indonesia sebagai populasi terbanyak umat muslim di dunia menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk merepresentasikan islam di mata dunia.

Melihat situasi seperti narasi islam ramah menjadi gambaran umum bahwa islam itu ramah dan menyenangkan tidak marah. Indonesia merupakan satu dari sekian negara yang memiliki peluang besar untuk menjadi kiblat pembelajaran islam di dunia.

Baca Juga:  Menjadi Ahli Ibadah atau Ahli Syariah, Pilih yang Mana?

Jauh dari narasi keberislaman yang tidak benar dan tidak ramah, justru Indonesia malah memberikan wajah sumringah terhadap narasi Islam yang damai, toleran, saling mengisi, dan menghormati satu sama lain.

Islam ramah sejatinya merupakan jati diri yang dimiliki umat islam untuk melakukan akomodasi terhadap nilai-nilai kebudayaan di Indonesia.

Banyaknya kultur budaya yang mewarnai Indonesia membuat muslim Indonesia disegani dibanyak berbagai belahan dunia. Bahwa belajar islam ramah itu sangat menyenangkan dan sangat merepresentasikan Islam itu sendiri.

Arief Azizy

Leave a Reply

Your email address will not be published.