Bukti Kasih Sayang Allah dalam Kisah Umar Radiyallahu Anhu

Bukti Kasih Sayang Allah dalam Kisah Umar Radiyallahu Anhu

PeciHitam.org  – Narasi dalam kitab Suci al-Quran diawali dengan lafadz (بسم الله الرحمن الرحيم)-dengan menyebut Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan diakhiri surah An-Naas (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ )-katakanlah bahwa saya berlindung kepada Tuhannya Manusia dan Penguasa Manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kedua Narasi yang menggambarkan betapa Allah SWT mensifati dirinya dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang serta menyebut dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam dan Manusia, bukan takhsis kepada orang-orang Muslim.

Hikmahnya adalah keumuman penyebutan Sifat Allah menandakan kepada pengarus-utamaan sifat yang dimiliki Allah adalah dzat yang pengasih serta penyayang.

Bahkan dalam asmaul Husna tidak bakal ditemukan nama Allah sebagai al-Adzab atau dzat Penyiksa. Cukuplah bukti tersebut menarasikan bahwa sifat kasih dan penyayang Allah melebihi segalanya.

Kasih sayang Allah meliputi segala yang ada di langit dan bumi, termasuk di dalamnya orang-orang Kafir, Musyrik, Munafik serta orang bermaksiat akan terliputi sifat rahman-nya Allah SWT.

Beberapa dasar Normatif tentang sifat kasih sayang Allah yang sangat luas bisa kita lacak dalam beberapa Kitab riwayah. Riwayat Hadits Abdullah bin Umar mengatakan, Nabi Muhammad SAW pernah berkata;

Baca Juga:  Umur 7 Tahun, Imam Abu Hanifah Sudah Menang Debat Melawan Seorang Atheis

الرَّحمُوْنَ يَرْحَمْهُمْ اَلرَّحْمَنُ, إِرْحَمُوْ مَنْ فِي الاَْرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فَي السَّمَاء

Orang penyayang adalah orang yang disayangi oleh Allah (ar-Rohman) yang Maha penyayang, Maka sayangilah makhluk di bumi niscaya kalian akan disayangi Dzat yang di langit

Paralel dan sejalan dengan Hadits tentang kasih-sayang tersebut di atas, beberapa hikayat juga menyebutkan bahwa sifat saling menghormati dan mengasihi antar sesama bahkan kepada seekor binatang;

الحديثْ عن عمر رضي اللّه تعالىعنه : كان يمشِى فى سككِ المدينة فراَىصبِيا فى يدهِ عصفورُ وكان يلعبُ به فرحمَ عمرُ ذلك العصفورَ فاشتراهُ مِنَ الصبِى فاَعتقهُ. فلماتوفى عمر رضي اللّه تعالى عنه راه الجمهور فى المنام فسالوهُ عن حاله فقالوا: كيف حالك يا عمر؟ مافعل اللّهُ بك؟ قال: غفرلى وتجاوز عنى.  بأي شَيْءِ؟ بجودك؟ أوبعدلك؟ أوبزهدك؟  قال: لماوضعتمونى فىالقبر وسترتمونى بالتّراب وتركتمونى وحدَا فدخل على ملكان مهبّان طار عقلى وارتعدت مفاصلى من هيبتهما واَخذانى وأجلسانى وأرادا أنْ يساَلانى فسمعتُ نداءَ منَ الهاتفِ أُتركا عبدى ولاتخوفاهُ فاِنّى رحمته وتجاوزت عنه لانّه رحم عصفورَا فى الدّنيا فرحمته فى العقبى.

Cerita Khalifah Umar R.A, yang suatu saat berjalan jalanan kota Madinah, beliau melihat seorang anak kecil, di tangan anak kecil itu sedang memegang/ mempermainkan seekor burung pipit (emprit), Lalu Umar muncul ibanya (kasihan) melihat si burung pipit lalu membelinya dari si anak kecil itu. kemudian melepaskannya ke angkasa.

Baca Juga:  Kisah Nuaiman Jual Sahabatnya Jadi Budak dan Tawa Rasulullah

Maka, ketika Umar wafat salah seorang ulama terkenal (Imam besar di masa itu) melihat Umar dalam mimpinya, ia pun bertanya, “Apa kabar, Umar?”,“Apa yang telah Allah lakukan atasmu?”  Umar pun menjawab: “Allah telah mengampuniku dan melewatkan segala dosaku”.

“Atas dasar apa Allah mengampunimu? Atas dasar kedemerwananmu? Atau karna Keadilanmu? Atau kah karena zuhudmu yang membuatmu acuh tak acuh terhadap dunia?” Umar menggelengkan kepala.

“Ketika kalian menguburkanku dan menutupiku dengan tanah, dan meninggalkanku sendiri, maka datang dua malaikat yang menakutkan aku, Akalku hilang, gemetar sendi-sendi tulangku, sebab sangat Menakutkan nya kedua malaikat itu,  Kedua malaikat itu mengambilku dan mendudukkanku, dan hendak menayaiku.

Akan tetapi, dengan segera muncul suara tanpa sosok yang menghardik keduanya. Suara tanpa sosok itu berbicara pada kedua malaikat itu, Tinggalkan hamba-Ku ini, jangan kalian takut-takuti.

Sesungguh nya Aku menyayangi nya dan segala dosanya telah Ku-ampuni, karena ia telah menyayangi seekor burung pipit (emprit)  di dunia. Maka Pahala yang aku berikan, Kusayangi dia (Umar)di akhirat.

Baca Juga:  Kisah Cinta dan Patah Hati Salman al-Farisi, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Cerita Hikmah dengan pesan utama, bahwa Kasih sayang akan membawa keselamatan di Akhirat. Bayangkan saja seorang Khalifah Umar RA dengan sifat yang ada pada beliau, tidak disiksa oleh Allah karena Sifat Rahman pada seekor Binatang.

Jikalau saja sifat ini yang menjadi arus utama setiap individu, betapa menyenangkan dan indahnya hidup. Tanpa permusuhan dan saling memahami antar sesama. Ash-Shawabu minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq