Siapakah Cak Nun Sebenarnya? Inilah Profil, Riwayat Pendidikan, Pemikiran dan Prestasinya

Siapakah Cak Nun Sebenarnya? Inilah Profil, Riwayat Pendidikan, Pemikiran dan Prestasinya

PeciHitam.org – Aktifis sempurna, tidak silau dengan kehormatan, kedudukan serta cenderung menyingkir pada saat damai. Muncul dengan solusi pada saat kacau melanda negeri, kiranya hal ini sangat pas disematkan untuk Cak Nun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau menjadi motor penggerak sebuah jagongan Ilmiah untuk membahasa tentang segala hal, baik politik, budaya, Agama dan hal lainnya.

Kumpulan jagongan Miyah para pemuda sampai orang tua untuk sekedar mencari identitas sebagai rakyat kaitannya dengan Negara, mencari Identitas Hamba kaitannya dengan Tuhan yang Maha Esa.

Beliau menegaskan kepada kita bahwa pendidikan harus membuat seorang manusia menjadi tersadar akan ketidak-adilan dalam hidup. Bukan menjadi penutup atas ketidak-adilan.

Profil Cak Nun

Jombang bukan hanya menjadi daerah kandung dari Kiai sekaliber KH. Hasyim Asyari, KH. Abdurrahman Wahid tetapi juga menjadi asal Muhammad Ainun Nadjib atau terkenal Emha Ainun Nadjib. Emha Ainun Najib lebih sering disebut dengan Cak Nun atau Mbah Nun.

Cak Nun Lahir di Jombang Jawa Timur pada 27 Mei 1953. Beliau dikenal luas sebagai tokoh Intelektual, Reformis sejati dan Pendiri Maiyah (Majlis Diskusi Ilmiah berskala besar). Beliau berasal dari keluarga besar dengan 14 saudara kandung. Ayah beliau bernama Muhammad Abdul Latif dan ibunya bernama Chalimah.

Ayah Emha Ainun adalah seorang Kiai desa Menturo, Kec. Sumobito Jombang. Pamannya adalah seorang mantan Ketua PBNU yang aktif mengembangkan Yayasan Pendidian Maarif NU di Sidoarjo.

Kakak tertuanya juga merupakan seorang tokoh besar, beliau adalah Ahmad Fuad Effendy yang menjadi anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center For Arabic Language (KAICAL) Saudi Arabia.

Cak Nun juga merupakan ayah bagi 5 orang anak dari 2 Istri. Istri Pertama Cak Nun adalah Neneng Suryaningsih bercerai tahun 1985 dan melahirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Anak dengan Neneng ini dikenal dengan Noe, merupakan vokalis salah satu Grup Band terkenal Indonesia yaitu Letto. Sedangkan dengan Istri kedua, Novia Kolopaking, Cak Nun mempunya 4 anak yaitu Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha.

Novia Kolopaking pada medio tahun 80-90an sangat terkenal sebagai artis Ibu kota. Cak Nun menikahi Novia pada tahun 1997 setelah 12 tahun menduda.

Baca Juga:  KH Ahmad Dahlan, Pahlawan Nasional Pendiri Muhammadiyah

Riwayat Pendidikan Cak Nun

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun memulai pendidikan di Sekolah Dasar pada tempat tinggalnya. Beliau lulus dari SD pada masa pemberontakan PKI berlangsung, 1965. Masa SD menjadi gambaran “Kebengalan-Kebenaran” Cak Nun.

Masa itu beliau pernah melawan guru yang sewenang-wenang menghukum siswa yang terlambat. Sedangkan jika guru yang terlambat tidak mendapat hukuman sebagaimana siswa.

Kebengalan dan kebandelan dalam kebenaran Cak Nun berlanjut di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Memasuki tahun ketiga menimba ilmu di Gontor, ia memimpin “Demonstrasi” kebijakan Pesantren.

Hasilnya bisa ditebak, beliau dikeluarkan dari Pesantren dan melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Akan tetapi, belakangan ia mengakui bahwa Gontor banyak membentuk karakter kepribadiannya.

Setelah keluar dari Gontor, beliau melanjutkan studinya di SMP 4 Muhammadiyah kota Gudeg, Yogyakarta. Beliau lulus dari SMP pada tahun 1968. Dan melanjutkan di SMA 1 Muhammadiyah Yogyakarta dan lulus tahun 1971.

Menyelesaikan jenjang SMA, Cak Nun melanjutkan sekolah di Universitas Gadjah Mada tepatnya Fakultas Ekonomi bersama sahabatnya yaitu Busyro Muqaddas, Mantan Ketua KPK.

Di UGM beliau hanya bertahan 4 bulan karena sering Nginep di Malioboro dan bolos Kuliah. Kebiasaan nginep di Jalan Malioboro ini sangat mempengaruhi sikap dan kemantapan pemikiran seorang Cak Nun.

Pemikiran Cak Nun

Aktivitas Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun adalah menyampaikan kebenaran lewat gagasan, pemikiran dan kritik-kritiknya dalam berbagai bentuk. Media beliau adalah dengan Puisi, Esai, artikel di Koran, Film, drama lagu serta majelis-majelis Ilmiah lainnya yang beliau bentuk.

Cakupan tema pemikiran, ilmu, dan kegiatan Emha sangat beragam. Bidang sastra, teater, tafsir, tasawwuf, musik, filsafat, pendidikan, kesehatan, Islam, dan lain-lain.

Sebagai seorang penulis, Beliau sangat produktif dengan banyaknya tulisan beliau antara lain Slilit Sang Kiai, Markesot Bertutur, Orang Maiyah, Anggukan Ritmis kaki Pak Kiai, Arus Bawah, Surat Kepada Kanjeng Nabi dan masih banyak lainnya.

Oleh karena bahan kajiannya yang sangat banyak menjadikan beliau fasih berbicara dalam bidang Seni, Budaya, Syair, Ilmu Keislaman, Sastra bahkan Tassawuf. tidak heran beliau disemati dengan manusia multi-dimensi dan literasi.

Penghargaan

Sepak terjang Cak Nun mendapat apresiasi pada bulan Maret 2011, Beliau memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca Juga:  Inilah Sosok Ayah Abdullah bin Mubarak, Budak Asal India yang Jujur dan Bertakwa

Penghargaan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran besar Guru Sastra, Seni dan Budaya beliau yang diakui adalah Umbu Landu Paranggi yang sekarang bermukim di Pulau Dewata.

Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina tahun 1980, International Writing Program di Universitas Iowa, AS tahun 1984, Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda tahun 1984 dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman pada tahun 1985.

Sepak Terjang di Dunia PSK

Kebiasaan nginep sebagai gelandangan di Malioboro dilakoni Cak Nun sejak akhir tahun 1969. Tahun itu adalah tahun-tahun awal bersekolah di SMA 1 Muhammadiyah. Praktis selama 5 tahun (sampai tahun 1975) beliau menapak diri di jalanan Malioboro bersama teman-teman seninya.

Jalanan Malioboro menjadi medan proses kreatifnya bersama aktivis mahasiswa, sastrawan, dan seniman Yogyakarta. Malioboro menjadi salah satu poros dalam jalur Bulaksumur-Malioboro-Gampingan yang menandakan dialektika intelektual-sastra-seni rupa.

Sekolah tidak menjadi penting bagi beliau karena “PSK” menyediakan ruang belajar lebih daripada bangku sekolah. PSK disini adalah Persada Studi Klub, sebuah ruang studi sastra bagi penyair muda Yogyakarta yang diasuh oleh Seniman Misterius Umbu Landu Paranggi.

Umbu Landu P dikenal sebagai presiden Malioboro dan seorang sufi yang hidupnya misterius dan jauh dari hingar bingar media. Pertemuannya dengan Umbu Landu Paranggi memberikan pengaruh dalam perjalanan hidupnya pada masa mendatang.

Jebolah PSK yang didirikan tahun 1969 dan aktif hingga 1977 antara lain Imam Budhi Santoso, Ragil Suwarna, Linus Suryadi, dan Emha Ainun Najib.

Eksistensi Persada Studi Klub tidak dapat dipisahkan dari Mingguan Pelopor Yogya, sebuah harian pagi yakng aktif pada tahun 70an. Umbu Landu Paranggi dalam PSK seperti menjadi Ruh, karena menuntut setiap penyair mudanya untuk berpacu setiap saat dengan “kehidupan puisi”.

Dan lewat PSK Cak Nun dikenal sebagai penyair pada umur 17 tahun. beliau mendapat legitimasi sebagai penyair dan disematkan sebagai penyair garda depan yang dimiliki Yogyakarta.

Cak Nun dan Soeharto

Beberapa waktu sebelum “kejatuhan”  Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang Presiden ke Istana. Para tokoh tersebut dimintai Nasihat oleh Soeharto yang sudah minim dukungan karena tekanan Demonstrasi Mahasiswa.

Baca Juga:  Cak Nun; Cendekiawan dan Budayawan yang Aktif Berdakwah Lewat Buku

Emha mengajukan sebuah Nasihat nyleneh yang berbunyi “Ora dadi presiden ora pathèken (Tidak Jadi Presiden tidak Masalah). Selain nasihat tersebut, beliau juga menginisiasi Mudun Keprabon bagi Soeharto agar bisa Khusnul Khatimah.

Cak Nun menginginkan Soeharto turun Tahta Presiden dengan baik-baik sesuai dengan harapan para mahasiswa agar terjadi reformasi yang damai. Soeharto menyetujui saran dari Cak Nun dan beberapa tokoh sentral Indonesia masa itu, antara lain Gus Dur dan KH. Ali Yafie. Soeharto ingin mundur dalam situasi dalam dan menjamin peralihan kekuasaan secara baik.

Fakta terungkap bahwa peralihan kekuasaan Soeharto, seorang Jendral Besar, kepada BJ Habibie terjadi begitu lunak. Cak Nun mengatakan bahwa ketakutan Soeharto bukan kepada Mahasiswa, akan tetapi kepada situasi chaos, seperti penjarahan dan kerusuhan. Oleh karenanya Soeharto legowo untuk mundur dari Presiden Republik Indonesia.

Cak Nun banyak menampilkan Informasi genuine lepas dari kepentingan-kepentingan politik para elitis partai politik. Terutama dalam menggambarkan kejatuhan Presiden Soeharto. Hal ini berkaitan erat dengan tidak adanya kepentingan Cak Nun terhadap kekuasaan politik.

Pasca Reformasi 1998, beliau bersama “Kiai Kanjeng” (Grup Gamelan asuhan ak Nun) memfokuskan diri berkeliling pelosok Indonesia untuk menyebarakan kebenaran.

Kelompok kajian inilah yang kemudian dikenal dengan Maiyah dan berjalan terus dengan menginisiasi Masyarakat Maiyah, yang berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara.

Beliau bersama Kiai Kanjeng dan Masyarakat Maiyah mengajak untuk membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka. Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.

Perjalanannya dengan Kiai Kanjeng, Maiyahan, Mocopat Syafaat dan forum-forum lainnya masih eksis sampai sekarang. Masih-masing daerah memiliki jadwal sendiri untuk bisa menghadirkan Cak Nun dan Kiai Kanjengnya. Di Yogyakarta setiap tanggal 17 akan selalu ada forum Maiyah didaerah Tamantirto Bantul.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan