Dasar “Monyet”! Antara Ketiadaan Etika dan Contoh Baru Bagi Anak Bangsa

Pecihitam.org – Saya masih ingat ketika awal awal menjadi mahasiswa, beberapa teman yang kulitnya sedikit cokelat merasa minder terlebih berpegangan tangan dengan seorang teman lainnya yang kulitnya putih. Katanya “Kulitku hitam”.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jujur saja waktu itu sebagai teman malah hanya bisa mengkerutkan dahi dan merasa bahwa tak ada hubungannya dengan warna kulit itu. Atau saat kami berfoto, bagi mereka yang merasa kulit wajahnya gelap akan menyerahkan dirinya sebagai tukang foto ketimbang harus tertangkap kamera.

Mungkin karena sebagian orang beranggapan bahwa kulit yang gelap atau hitam tidak menarik dipandang dan posisinya tidak sama dengan mereka yang memiliki kulit putih. Padahal faktanya?

Dalam islam sendiri, warna kulit ataupun perbedaan suku merupakan sebuah penciptaan Allah yang begitu maha besar guna mempermudah kita dalam saling mengenal dan bersilaturahmi, sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Hujurat [49] ayat 13.

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal

Dan pada akhirnya pandangan yang bisa dibilang sedikit sensi itupun kembali bergejolak pasca ditemukannya bendera yang jatuh tepat di depan Asrama Mahasiswa Papua pada Agustus lalu di Surabaya.

Hingga dengan perihal tersebut dan berbagai prasangka prasangka terkait pelaku yang melakukan aksi yang dianggap tidak sopan akhirnya pandangan RASIS kini kembali menindis masyarakat Papua.

Baca Juga:  Refleksi Dakwah Digital NU; Menyemai Moderatisme, Mengikis Ekstremisme

Padahal kalau kita pelajari dengan seksama mengenai penyebab dari kejadian tersebut adalah karena adanya tiang bendera yang patah dan jatuh secara kebetulan tepat berada di depan asrama Mahasiswa Papua.

Sehingga dari hal ini ada tiga kemungkinan yang terjadi perihal pelaku, pertama bendera itu mungkin awalnya berdiri dengan baik hanya saja karena hadirnya angin yang tak pernah diundang akhirnya membuat tiang bendera patah dan jatuh, kedua memang yang melakukan perihal itu adalah berasal dari asrama dengan alasan tepat di depan asrama meskipun orang yang lewat berpeluang melakukan hal itu, dan yang ketiga berasal dari orang lain yang memang sengaja melakukan aksi tersebut sebagai bentuk adu domba dengan tujuan memecah belah bangsa.

Namun bukannya mencari pelaku dengan seksama, pihak berwajib malah ikut bersama ormas mengepung asrama Papua dengan meneriakinya dengan teriakan yang bisa dikatakan tidak beretika. Padahal para pengepung sendiri berasal dari kalangan berpendidikan yang bertugas untuk menjaga kedamaian rakyat, kan kedengaran lucu!

Hanya saja, kali ini mungkin mereka terlalu marah ketika menyaksikan Bendera Merah Putih terlihat jatuh ke selokan yang kotor namun tidak begitu malu ketika melakukan aksi yang bisa dibilang memecah bangsa karena dinilai Rasis.

Mengapa harus dengan teriakan Monyet? Jangan katakan karena bapak Darwin mengungkapkan Teori Evolusi dengan kepercayaannya bahwa manusia awal mulanya berasal dari monyet, kali ini kita malah dengan tegasnya memperjelas dengan meneriaki saudara kita yang ada di surabaya sana dengan teriakan monyet.

Baca Juga:  Dakwah Kiai NU dan Ekonomi Kerakyatan

Maka tak heran jikalau anak anak kita nanti yang ketika mungkin sedang marah kepada teman temannya, terlebih jika teman temannya memiliki kulit hitam atau berasal dari kalangan masyarakat Papua maka tak segan segan mereka memanggilnya dengan sebutan “Monyet” atau dengan sebutan lainnya.

Bagaimana tidak? Seruan nama binatang seperti ini seolah menciptakan lapangan baru bagi anak anak yang merupakan peniru yang paling produktif.

Seperti yang telah diketahui bahwa kejadian tersebut terjadi sebelum 17 agustus-an, sedangkan tanggal 17 agustus sendiri merupakan tanggal penting bagi bangsa ini sebagai peringatan akan merdekanya bangsa dan bersatunya rakyat Indonesia.

Namun sayangnya di tahun ini dengan kehadiran pandangan mengenai
teriakan “Monyet” dan “babi” rupanya membuat tanggal 17 lewat begitu saja, dan malah membuat beberapa bagian dari Indonesia itu sendiri terpecah akibat dari pandangan Rasis tersebut.

Bisalah sedikit flashback pada sejarah ketika tanggal 16 Agustus 1945 yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Dimana hadirnya perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda perihal kemerdekaan, namun tengok keesokannya pada buku sejarah?

Pada tanggal 17 Agustus rupanya semua golongan bersatu dan menitihkan air mata haru dengan lonceng kemerdekaan dari pembacaan
nash Proklamasi dan berkibarnya bendera Merah Putih. Dan kali ini, bukannya menangis haru dikarenakan usia bangsa yang telah
bebas dari penjajahan selama 74 tahun. Malah bangsa Indonesia menggombar gombarkan sikap rasis terhadap mereka yang merupakan saudara sebangsa.

Baca Juga:  Islam Menolak Rasisme, Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

Mungkin banyak yang berpikir bahwa tindakan ini bukanlah bentuk rasis, namun karena tindakan tidak senonoh dengan membiarkan bendera jatuh di selokan kotor dinilai sebagai tindakan yang tidak pantas, tidak bisa dibiarkan begitu saja dan dianggap tidak nasionalis. Sayangnya, menghakimi suatu golongan tanpa adanya bukti disertai dengan teriakan yang tidak beretika adalah bukti bahwa semakin hari semakin tidak bisanya kita mengontrol mulut dalam berbicara dengan baik kepada sesama saudara sebangsa kita.

Padahal beretika dalam berbicara amatlah dinilai penting terlebih dalam Islam itu sendiri. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan” (HR.Bukhari)

catatan kecilnya ialah kita bisa saja tidak berpendidikan namun tidak beretika dalam berbicara adalah hal yang perlu kita buang [*]

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.