Jarang yang Tahu, Inilah Rahasia Dibalik Dialog Nabi Musa dengan Tuhan-nya

dialog nabi musa dengan allah

Pecihitam.org – Al-kisah, Nabi Musa as bermunajat kepada Tuhan. Sang Maha suci bertanya, “Hai Musa, terlalu banyak ibadahmu, mana ibadah untuk-Ku? Musa terkejut, sebab selama ini ibadah yang ia lakukan untuk Tuhan-nya, lalu kenapa Dia pertanyakan itu?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tuhan berkata, “semuanya untuk kamu, mana untuk-Ku? Musa bingung dan berkata: “Tunjukkan hambamu yang lemah ini, jika itu saya lakukan itu untuk-ku bukan untuk-Mu? Tuhan berkata: “Berkhidmatlah kepada hamba-hamba-Ku. Itulah ibadah untukku bukan untukmu.

Kisah ini memantik nalar berpikir kita, untuk merenungkan alur dialog Nabi Musa as dengan Tuhan-Nya. Jika dipikirkan baik-baik, memang ibadah kita selama ini hanya untuk kita saja.

Bila melakukan shalat, kita mendapatkan pahala besar apalagi di bulan Ramadhan. Melakukan puasa di bulan Ramadhan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Melakukan amalan lailatul qadr itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap hurufnya dilipat gandakan oleh Allah swt. Bersedekah di bulan Ramadhan pun Allah lipatgandakan.

Ibadah shalat, puasa, zakat (sedekah), membaca al-Qur’an, amalan lailatul qadr semuanya mendapatkan pahala, maka di dunia maupun di hari akhirat Allah swt membalasnya dengan surga. Lagi-lagi, ibadah tersebut hanya untuk kepentingan kita saja.

Baca Juga:  Umar bin Khattab Pernah Menangis dan Tertawa Karena Kebodohannya

Tuhan bertanya, “mana ibadah untuk-Ku? Bukan untukmu? Untung Nabi Musa as meminta petunjuk kepada Tuhan-Nya, “tunjukkan ibadah jika dilakukan itu untuk-Mu bukan untukku. Dan Tuhan-Nya berkata, “berkhidmatlah kepada hamba-hamba-Ku.

Tuhan ingin menegaskan ibadah yang dilakukan tanpa pengkhidmatan adalah ibadah yang kering. Ibadah yang tidak memberi manfaat kepada sesama manusia adalah yang bukan hanya mendekatkan diri pada Tuhan, malah semakin menjauhkan dia dari Tuhan-Nya.

Dalam konteks hubungan antara orang kaya dengan miskin, tuhan menegaskan berdasarkan hadis qudsi bahwa, “orang adalah perbendaharaan-Ku di bumi. Artinya orang kaya harus menjadi wasilah/media dalam menyampaikan anugerah tuhan kepada makhluknya yang lain.

Dalam konteks bersyukur, Nabi saw menegaskan bahwa, “laa yasykuru Allah ma Laa yasykuru al-nas.  Tidaklah bersyukur kepada Allah selama tidak bersyukur kepada manusia. Artinya kesyukuran kita kepada Allah swt itu harus disalurkan kepada sesama manusia.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Menyimpan Dendam Terhadap Orang-orang Kafir

Dalam konteks keluarga, Nabi saw menegaskan bahwa, khairukum li ahli sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Artinya terlarang bagi suami ataupun istri untuk berprilaku buruk terhadap keluarganya.

Ketika Nabi saw ditanya amal yang paling baik, Nabi saw berkata, “birrul walidain berbuat baik kepada kedua orang tua. Anak yang ahli ibadah tetapi menyakiti hati orang tuanya akan dicela oleh Allah swt, betapapun banyaknya ibadah yang ia lakukan.

Di hadis lain Nabi saw bersabda, “khair al-nas anfa’uhum li al-nas” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada manusia yang lain.

Jadi ada manusia yang ahli ibadah minus khidmat, ada manusia ahli ibadah plus khidmat. Yang mana ibadah untuk Allah, apakah yang pertama atau yang kedua? Tentu saja yang kedua, ibadah yang disertai khidmat kepada makhluk yang lain.

Dasar pokok ajaran Islam ada rahmatan lil ‘alamin kasih sayang kepada seluruh alam semesta. Oleh karena itu, setiap ibadah yang Allah wajibkan atau sunnahkan pada hakikatnya untuk seluruh alam semesta.

Baca Juga:  Muallaf di Era Modern, Haruskah Langsung Berdakwah? Mbok ya Sabar

Tidak ada “keterpisahan” Allah swt dengan hamba-Nya. Menyakiti hamba-Nya sama halnya menyakiti Allah swt, berbuat baik kepada hamba-Nya sama halnya berbuat baik kepada Allah swt.

Kesimpulan dialog Nabi Musa as dengan tuhan-Nya hanya ingin menegaskan bahwa tuhan menghendaki ibadah yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan kita saja, tetapi ibadah yang dilakukan hendaknya memberi manfaat kepada orang lain atau berkhidmatlah kepada hamba-hamba-Ku, berilah pelayanan kepada sesama manusia.

Wallahu a’lam bisshawab.

Muhammad Tahir A.