Doa Kepada Orang yang Sudah Meninggal Apakah Sampai?

doa kepada orang yang sudah meninggal

Pecihitam.org – Seperti halnya orang yang masih hidup akan bahagia bila di doakan yang baik dan diberi hadiah, begitupun bagi orang yang sudah meninggal. Mereka juga butuh yang namanya doa baik dan hadiah, namun apakah benar doa kepada orang yang sudah meninggal begitu juga dzikir, atau bacaan al-Qur’an yang kita bacakan sampai kepada orang yang sudah meninggal?.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jawabannya adalah sampai, seperti sebuah kisah yang dikisahkan oleh Syekh Zainuddin al-Malaibari dalam kitab Irsyad al-‘Ibad. Tentang seorang laki-laki bermimpi melihat beberapa ahli kubur yang keluar dari kuburnya. Mereka kemudian sibuk memunguti sesuatu. Tetapi belum diketahui apa yang sedang mereka punguti. Laki-laki itu kemudian menceritakan mimpinya sebagai berikut:

Aku heran melihat pemandangan dalam mimpiku. Dimana dalam mimpiku terlihat ada seorang ahli kubur yang hanya duduk dan tidak ikut memunguti sesuatu bersama mereka. Aku mencoba untuk menghampirinya dan bertanya, “Apa yang sedang dipunguti mereka?”

Ahli kubur yang duduk tadi menjawab, “Kebaikan yang berasal dari bacaan Al-Qur’an, sedekah, dan doa yang dihadiahkan kaum Muslimin untuk mereka.”

Aku kembali bertanya, “Lalu mengapa engkau tidak ikut memungutinya?” Dijawabnya, “Aku sudah cukup.”

Aku pun bertanya lagi, “Karena apa engkau sudah merasa cukup dan tidak memerlukannya?” Dijawab oleh ahli kubur tersebut, “Dengan khataman Al-Qur’an yang dilakukan dan dihadiahkan oleh anakku setiap hari. Anakku ada di pasar ini dan berjualan zalabiyah (sejenis makanan ringan berbahan tepung dan telur).”

Baca Juga:  Doa Untuk Orang Meninggal; Apakah Bisa Menjadi Pahala Bagi Mayit? Ini Ulasannya

Keesokan paginya, setelah terbangun, aku langsung pergi ke pasar yang disebutkan oleh ahli kubur dalam mimpiku semalam. Dan benar apa yang dikatakan ahli kubur dalam mimpiku itu, di sana ada seorang anak muda yang berdagang zalabiyah, sedangkan kedua bibirnya tak pernah henti berucap.

Aku pun menanyakannya, “Mengapa engkau tak henti menggerakkan kedua bibirmu?” Si anak muda menjawab, “Aku sedang membaca Al-Qur’an lalu menghadiahkannya kepada ayahku yang sudah meninggal.”

Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian aku bermimpi lagi melihat beberapa ahli kubur keluar lagi dari kuburnya, seperti pada mimpi sebelumnya. Namun, yang membuatku heran kali ini adalah ahli kubur yang semula tidak ikut memunguti sesuatu, kini ikut serta memungutinya bersama ahli kubur yang lain.

Maka begitu terbangun, aku segera pergi lagi ke pasar guna mengetahui kabar si anak muda yang biasa berdagang zalabiyah sambil membaca Al-Qur’an itu. Dan ternyata, sekarang ia sudah meninggal.

Hal ini membuktikan bahwa kebaikan yang dihadiahkan kaum Muslimin kepada ahli kubur atau orang yang sudah meninggal, baik berupa bacaan Al-Qur’an, doa, ataupun sedekah, terbukti sampai kepada mereka.

Demikian pula kebaikan yang dihadiahkan oleh seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal. Contohnya bacaan Al-Qur’an si anak muda dalam kisah di atas. Hadiah kebaikan dari seorang anak, kerabat, atau siapa saja kepada orang yang telah meninggal cukup meringankan kesulitan orang yang telah meninggal tersebut.

Baca Juga:  Merubah Nasib dalam Pandangan Al Quran, Berikut Penjelasannya

Benar apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa di antara kebaikan yang terus mengalir, walaupun seseorang telah meninggal diantaranya adalah anak shaleh yang selalu mendoakan. Berhenti orang yang mendoakan, maka berhenti pula aliran kebaikan tersebut. Sebagaimana berhentinya kebaikan si anak muda yang membaca Al-Qur’an dan dihadiahkan kepada ayahnya, karena dirinya meninggal.

Kisah tersebut mengingatkan kepada semua orang yang masih hidup di dunia agar senantiasa mengingat dan mengirimkan hadiah kepada mereka yang sudah meninggal. Dalam tradisi ahlussunah wal jamaah ada yang namanya ziarah kubur dan tawasul yang merupakan hal yang diperbolehkan. Ulama sepakat bahwa membaca Al-Qur’an, dzikir, tahlil di atas kuburan hukumnya tidak haram.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali menyebutkan bahwa:

الدعاء للأ موات بمنزلة الهدايا للأحياء

“Do’a bagi orang-orang yang mati itu kedudukannya seperti hadiah.”

Sehingga bisa dikatakan bukan hanya orang yang hidup saja yang suka dikasih hadiah namun juga orang yang sudah meninggal juga akan bahagia ketika diberi hadiah. Ibnu Qadamah al-Maqdisi al-Hanbali berkata,

“Segala bentuk qurban (ibadah) yang diilakukan seseorang dan diberikan pahalanya untuk seorang mayit muslim akan bermanfaat baginya”.

Adapun menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal apakah sampai atau tidak? Mayoritas ulama berpendapat bahwa pahalanya sampai kepada orang yang sudah meninggal itu. Namun dengan syarat jalurnya nyambung sehingga sampai. Misalkan ketika yang mendo’akan mukmin maka yang dido’akan mukmin jadi sinyalnya satu dan sama.

Baca Juga:  Daging Buatan, Hukum Membuat dan Mengkonsumsinya Menurut Islam

Adapun kisah tentang Gus dur yang ditanyai seseorang yang tidak percaya bahwa doa kepada orang yang sudah meninggal akan sampai, kemudian dengan gampangnya gusdur menjawab dengan sederhana, “Apakah kamu punya keluarga yang sudah meninggal?”

Orang tersebut menjawab bahwa dia punya, lalu Gusdur berkata lagi “ya sudah, tak do’akan bahwa dia akan disiksa di kubur dan dimasukkan ke neraka.” Dan orang tersebut kaget dan tidak terima dengan yang diucapkan oleh Gusdur, “Katamu doa untuk orang yang sudah meninggal tidak akan sampai, lalu kenapa engkau tidak terima saya bilang seperti itu.”

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik