Fenomena Pengkafiran Ala Kelompok Khawarij

Fenomena Pengkafiran Ala Kelompok Khawarij

PeciHitam.org Model keberagamaan serta polarisasinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fenomena-fenomena masa lampau. Ramai pada masa sekarang segolongan umat Islam yang menduduh Muslim lainnya sebagai pengamal ahlul bid’ah, orang sesat bahkan mengkafirkan orang lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang baru sama sekali, karena sejak era Nabi Muhammad SAW muncul nama Dzi Khuwaisirah yang menyalahkan Rasulullah SAW. Kelompok ini yang kemudian dikenal dengan Khawarij yang memahami Al-Qur’an dengan sangat tekstual dan idealis, buta akan realitas.

Nalar takfiri kelompok khawarij memiliki kemiripan dengan pola dakwah salafi wahabi yang pandangannya sangat tekstual. Berikut ulasan kedekatan keduanya!

Pembajakan Ayat secara Tekstual

Benih kelompok Khawarij sudah muncul pada era Rasulullah SAW dengan munculnya tokoh Dzi Khuwaisirah yang berani membantah Rasulullah SAW. Pembagian ghanimah perang Hunain yang terjadi pada tahun 8 H (630 M) dirasa kurang adil oleh Dzi Khuwaisirah. Fakta pembagian ghanimah Hunain memang tidak dibagi rata sesuai jasa kepada Islam.

Namun ghanimah Hunain banyak dialokasikan kepada sahabat-sahabat yang baru masuk Islam guna menguatkan keimanan mereka. Protes keras Dzi Khuwaisirah menunjukan keimanan tidak sempurna kepada Rasulullah SAW sebagai seadil-adilnya manusia. Ulama banyak mensifati Dzi Khuwaisirah sebagai ahli Ibadah, Ahli Shalat, ahli puasa dan beribadah sangat banyak.

Baca Juga:  Dialog Antara Syeikh Albani Dengan Syeikh Dr.Ramadhan Al Buti

Akan tetapi ketaatan dalam beribadah tidak dibarengi dengan akhlak yang baik serta sangat tekstual. Alur gerakan Dzi Khuwaisirah kemudian mengkristal kepada golongan khawarij yang banyak membajak ayat guna membenarkan tindakan kekerasan mereka. Sebagaimana pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh Khawarij dengan mendasar ayat;

فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (٤٤

Artinya; “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Qs. Al-Maidah: 44)

Ayat tersebut digunakan untuk menuduh kafir Ali bin Abi Thalib, Amr bin Ash, Muawiyyah bin Abi Sufyan dan semua golongan yang berada dipihak keduanya. Karena mereka mau menggunakan hukum hasil musyawarah yakni Tafkhim di Dumatul Jandal.

Faktanya Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljim yang menebas khalifah ke-4 tersebut pada waktu subuh. Abdurrahman bin Muljim adalah algojo yang dipersiapkan oleh golongan khawarij untuk memberangus kekafiran, termasuk para sahabat yang tidak sesuai dengan pemikiran mereka.

Baca Juga:  Antara Tauhid Ibn Taimiyah dan Albani, Anda Pilih yang Mana?

Kesamaan Pola dengan Salafi Wahabi

Gerakan khawarij banyak bergerak dalam ranah kekerasan dengan menuduh Muslim lainnya yang tidak sesuai dengan ide pemikiran mereka sebagai kafir. Gerakan tersebut pada era modern banyak diadopsi oleh kelompok ISIS, Ansharud Daulah, dan lain sebagainya.

Gerakan yang lebih soft namun memiliki nalar yang hampir sama adalah gerakan salafi wahabi yang mengklaim golongan yang tidak sesuai dengan pemikiran mereka sebagai ahlu bid’ah, sesat, atau penyembah kuburan. Pembajakan dalil yang dilakukan oleh salafi wahabi adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan bid’ah.

إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Artinya; “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i)

Hadits tersebut menjadi bahan propaganda dalam dakwah salafi wahabi dengan pemahaman satu arah, hanya dari kelompok mereka sendiri. Sedangkan pandangan para Ulama Syafiiyah dan Ibnu Rajab al-Hanbali tidak demikian. Pendapat Ulama Syafiiyah dan Ibnu Rajab adalah pandangan Mayoritas Muslim di dunia.

Baca Juga:  Menelusuri Jejak dan Perkembangan Gerakan Wahabisme di Media Sosial

Kesamaan nalar yang dikembangkan oleh khawarij dan salafi wahabi tentang perbedaan pendapat diluar kelompoknya adalah salah. Dua kelompok ini menjadi ‘polisi’ ayat dan membajaknya untuk kepentingan golongan mereka.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan