Hadits Shahih Al-Bukhari No. 69 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 69 – Kitab Ilmu ini, menjelaskan bahwa jika Allah swt menghendaki kebaikan pada diri seseorang maka Allah akan menjadikannya ahli ilmu atau ahli agama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Rasulullah saw juga mengingatkan dalam hadis ini bahwa sebagian dari umat ini akan tetap berpegang teguh pada agama Allah  dan tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhinya. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 311-312.

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Sa’id bin ‘Ufair] Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahab] dari [Yunus] dari [Ibnu Syihab] berkata, [Humaid bin Abdurrahman] berkata; aku mendengar [Mu’awiyyah] memberi khutbah untuk kami, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah”.

Baca Juga:  Keutamaan Mengantar Jenazah Menurut Para Ulama dalam Hadis Nabi Muhammad

Keterangan Hadis: Muawiyah dalam hadits ini adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Hadits ini mengandung tiga pelajaran penting, yaitu:

1. Keutamaan mendalami agama.

2. Pada hakikatnya yang memberi segala sesuatu adalah Allah.

3. Akan selalu ada sebagian orang yang tetap berpegang teguh kepada kebenaran (agama Islam).

Pelajaran pertama adalah berkaitan dengan bab “ilmu” dan pelajaran kedua berkaitan dengan permasalahan shadaqat (sedekah), oleh karena itu Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam bab “Zakat”, yaitu bab “Khumus” (seperlima rampasan perang).

Sedangkan pelajaran ketiga berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat, maka Imam Bukhari meletakkannya dalam bab “I’tisham” (berpegang teguh pada agama), karena hal itu mengisyaratkan bahwa seorang mujtahid akan tetap ada sepanjang masa.

Adapun yang dimaksud dengan أَمْرِ اللَّهِ di sini adalah angin yang mencabut jiwa setiap orang yang beriman dan membiarkan orang-orang jahat tetap hidup sehingga mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat.

Ketiga hadits di atas sangat berkaitan dengan bab “Ilmu”, karena hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang mendalami agama Allah akan selalu mendapatkan kebaikan, dan hal ini tidak hanya dapat dicapai oleh manusia dengan usaha saja, tetapi dapat dicapai juga oleh orang yang hatinya telah dibukakan oleh Allah, dan orang semacam itu akan tetap ada sampai hari kiamat nanti.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 85 – Kitab Ilmu

Imam Bukhari berpendapat, bahwa orang-orang tersebut adalah para ulama hadits. Ahmad bin Hambal berkata, “Jika bukan ulama hadits, maka saya tidak tahu siapa selain mereka.”

Al Qadhi Iyadh berkata, “Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ahli sunah wal jama’ah dan orang-orang yang mengikuti jejak para ulama hadits. Dalam hal ini. Imam Ahmad berpendapat bahwa kelompok tersebut adalah kelompok kaum mukminin yang terdiri dari orang-orang yang menjalankan perintah Allah seperti para mujahid (orang yang berjihad), ahli fikih, ahli hadits, orang yang zuhud, orang yang melaksanakan amar ma ‘ruf nahi munkar dan kebaikan-kebaikan lainnya.”

Maksud يُفَقِّههُ adalah. Allah akan menjadikannya sebagai orang yang memahami agama – seperti yang telah dijelaskan. Penggunaan kata خَيْرًا  (kebaikan) menggunakan bentuk nakirah (indefinit) yang menunjukkan arti yang lebih umum, yaitu mencakup kebaikan yang sedikit maupun yang banyak. Dari hadits ini dapat dipahami secara implisit, bahwa orang yang tidak mendalami agama atau tidak mempelajari dasar-dasar dan masalah-masalah furu ‘iyyah (cabang) dalam Islam, maka ia tidak akan mendapatkan kebaikan.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 53-54 – Kitab Iman

Abu Ali telah meriwayatkan hadits Muawiyah tersebut dari jalur lain dengan sanad dha’if ((lemah) yang berbunyi, وَمَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين لَمْ يُبَالِ اللَّه (barangsiapa yang tidak mendalami agama, maka Allah tidak akan memperhatikannya). Meskipun lafazhnya berbeda, akan tetapi maksudnya dapat dibenarkan. Karena orang yang tidak mengetahui permasalahan agamanya, maka ia tidak dapat disebut sebagai orang yang mendalami agama. Oleh karena itu. ia dapat dikatakan sebagai orang yang tidak menginginkan kebaikan.

Hadits ini juga menerangkan tentang keutamaan para ulama dibanding manusia lainnya, dan keutamaan memperdalam ilmu-ilmu agama dibanding ilmu-ilmu lainnya.

M Resky S