Harta Kita yang Sebenarnya, Bukan Hanya Milik Sendiri Tapi Juga Milik Mereka

harta kita yang sebenarnya

Pecihitam.org – Kerja yang kita lakukan setiap hari akan diupah oleh sang majikan. Kemudian kita kumpulkan terus menerus, akan tetapi lupa untuk membaginya dengan orang yang membutuhkan. Padahal dalam setiap harta yang kita peroleh, sebenarnya ada hak orang lain yang harus diberikan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh karenanya, kita tidak boleh pelit dan harus mentransaksikan harta tersebut sebaik mungkin agar tidak menjadi harta yang sia-sia untuk kehidupan di akhirat kelak. Terkadang seseorang lupa dengan tujuan pemerolehan harta.

Dirinya menganggap semua harta yang diperoleh untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tidak terpikir olehnya bisa membantu sesama dengan harta yang diperolehnya. Hingga pada akhirnya, kita sering melihat harta yang didapatkan tidak berbuah apa-apa dan hanya melahirkan kesia-siaan saja.

Dalam Al-Qur’an sendiri dijelaskan secara detail tentang konsep kepemilikian harta. Betapapun keras kita menahan harta tersebut, pasti suatu saat akan terdistribusikan ke pemiliknya. Entah sebagian kecil, setengahnya, ataupun seluruhnya.

Semuanya itu terserah kepada Sang Pemilik Keputusan. Bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain (orang yang meminta-minta dan orang yang tidak meminta-minta) (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 19).

Ketika kita berlaku pelit, tidak jarang hati kita akan terasa begitu sakit ketika kehliangan harta. Kita akan mengalami kesedihan yang panjang karena konsep kehilangan tidak terbiasa dilatih. Kita terkaget atas harta yang hilang, kita ingin sekali menyalahkan namun diri sendirilah yang dirasa paling bertanggung jawab atas rasa kehilangan. Maka kita hanya terdiam sambil meratapi kesedihan.

Baca Juga:  Berpikirlah Kembali Membeli Buku Jika Bertitel Nashiruddin Al Albani

Betapapun itu, sebenarnya konsep kepemilikan harta itu mengajarkan kita untuk berbagi. Berbelas asih kepada setiap makhluk yang ada di bumi. Kita diperkenankan menyapa mereka dengan keramahan. Menyalurkan uluran tangan kasih sayang yang meratap pada bantuan-bantuan yang mereka butuhkan. Mereka adalah makhluk Allah, sama seperti kita. Sudah menjadi tugas kita untuk membantu.

Menurut Abu Dzar Al Ghifari sebenarnya ada tiga pemilik dalam setiap harta yang kita dapatkan. Meskipun kita bersikukuh tidak mau memberikannya, pasti suatu saat mereka akan mendapatkannya. Semuanya sudah digariskan dan akan berlaku sebagaimana mestinya.

Pertama, takdir. Hal paling menyakitkan ketika mendapatkan kesulitan dalam takdir. Sudah diperingatkan beberapa kali untuk berbagi dan berbagi. Namun yang kita lakukan adalah menyimpan dan menyimpan. Pada akhirnya takdirlah yang menjadi perampok atas semua harta yang kita punya.

Baca Juga:  Inilah 3 Keutamaan Umat Nabi Muhammad Dibanding Umat Nabi-Nabi Terdahulu

Tidak perlu permisi atau basa basi. Kalau dia ingin langsung saja diambil. Jumlahnya pun tidak bisa kita prediksi, kadang banyak, kadang sedikit, kadang semuanya akan diambil.

Kedua, ahli waris. Dalam ikatan keluarga, kita mempunyai beberapa hubungan paling dekat. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membantu kita ketika berada dalam kesulitan. Mereka disebut sebagai ahli waris. Saat kita hidup, mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita. Oleh karenanya, tidak ada salahnya jika kita membagi harta dengan mereka.

Jangan sampai kita menunggu mati baru mau memberi. Berilah sewaktu hidup, maka kita akan melihat senyum bahagia mereka. Kasih sayang berlipat-lipat akan rela mereka berikan pada kita. Ini bukan soal harta saja, akan tetapi bagaimana kita lebih prioritaskan mereka dibanding harta yang kita punya. Kita membuat mereka percaya bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada dirinya.

Baca Juga:  Penjelasan Imam Ghazali Tentang Menuntut Ilmu Hanya untuk Mengejar Pangkat

Ketiga, diri sendiri. Setelah dua urusan tadi berhasil kita selesaikan, tinggalah bagian harta kita manfaatkan untuk kepentingan pribadi. Kita bisa membeli sesuap nasi untuk mengganjal perut yang sudah laprar. Kita pun bisa membeli beberapa bahan pokok untuk kebutuhan sehari-hari.

Oleh karenanya, kita membutuhkan kepintaran dalam pengelolaan harta. Kita membutuhkan kebijaksanaan agar harta yang didapatkan tidak berbuah kesia-siaan. Seberapa besar harta yang kita dapatkan, harus bisa digunakan dan ditransaksikan sebagaimana mestinya. Karena hanya dengan itulah kita bisa bahagia atas semua karunia yang Tuhan berikan.

Muhammad Nur Faizi