Hijrah Yang Sesungguhnya Menurut Ilmu Tasawuf

hijrah

Pecihitam.org – Belakangan ini terutama dikalangan milenial kata hijrah sedang menjadi trend. Hijrah bahkan dijadikan tolak ukur dalam arti fisik menjadi unsur penting dalam keislaman seseorang. Hingga seseorang yang hijrah sampai dengan merubah penampilan, cara berbicara, kebiasaan, meninggal kan pekekrjaan yang tidak islami katanya, dan yang paling ekstrim mengatakan jihad lewat jalan yang keras.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hijrah pada zaman Rasulullah dapat diartikan migrasi dan itu menjadi perintah wajib dari kota Mekkah, yang sulit diharapkan bagi berseminya nilai-nilai Islam pada mulanya berpindah ke Kota Madinah, sebuah wilayah harapan dan terbuka.

Hijrah sebagai perintah al-Quran mengandung keutamaan luar biasa karena menuntut pengorbanan fisik, harta, dan mental sekaligus sebagaimana ibadah haji. Akan tetapi, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya untuk tidak mencederai ibadah mulia itu dengan niat atau kepentingan lain.

Ketulusan niat ini diingatkan oleh Rasulullah. Perihal ketulusan niat ini kemudian diulas oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkut ini:

وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

Artinya, “Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Akan tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. renungkanlah hall ini jika engkau termasuk orang yang memiliki daya paham.”

Baca Juga:  Membayangkan Hijrah Bersama Gus Baha’

Syekh Ibnu Ajibah lebih dalam mengulas tentang pandangan Syekh Ibnu Athaillah ini. Menurut beliau, hijrah merupakan perpindahan tingkat tinggi, yaitu perpindahan spiritual atau migrasi kerohanian. Beliau memaparkan tiga jenis hijrah spiritual tersebut sebagai berikut:

قلت الهجرة هي الانتقال من وطن إلى وطن آخر بحيث يهجر الوطن الذي خرج منه ويسكن الوطن الذي انتقل إليه وهي هنا من ثلاثة أمور من وطن المعصية إلى وطن الطاعة ومن وطن الغفلة إلى وطن اليقظة ومن وطن عالم الأشباح إلى وطن عالم الأرواح أو تقول من وطن الملك إلى وطن الملكوت أو من وطن الحس إلى وطن المعنى أو من وطن علم اليقين إلى وطن عين اليقين أو حق اليقين

Artinya, “bagiku, hijrah itu berpindah dari satu ke lain daerah di mana seseorang meninggalkan tanah asalnya dan kemudian mendiami tanah tujuan. Hijrah ini terdapat tiga jenis, yaitu berpindah dari tempat maksiat ke tempat taat, dari lalai ke sadar, dan dari alam jasad ke alam rohani. Atau dapat dikatakan berpindah dari alam malak ke alam malakut, dari lahiriah fisik ke makna, dan dari ilmul yakin ke ainul yakin atau haqqul yakin,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, (Beirut, Darul Fikr: juz I, halaman 73-74).

Menurut Syekh Ibnu Ajibah, orang yang berhijrah dari tiga tempat asal tersebut ke tiga tempat tujuan dengan maksud mengharapkan ridha Allah dan rasul-Nya atau dengan maksud makrifatullah dan rasul-Nya, maka aktivitas hijrah itu akan mengantarkannya pada Allah dan rasul-Nya sesuai maksud dan tekadnya.

Baca Juga:  Fenomena Crosshijaber dan Patologi Beragama

Adapun orang yang berhijrah menuju hawa nafsunya, maka maksud dan upayanya akan sia-sia. Karena tujuan dari hijrah tersebut hawa nafsu itu sendiri sebagai tempat bersandar sehingga hijrahnya itu menjadi sebab celaka baginya.

Beliau menjelaskan lagi bahwa hijrah adalah persoalan keikhlasan niat. Hanya dengan ikhlas itulah, hijrah mempunyai makna bagi seseorang, sehingga seseorang dapat menggapai makrifatullah dan ridha-Nya.

Hijrah dalam pengertian hadits Rasulullah SAW yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Athaillah dan Syekh Ibnu Ajibah menekankan ketulusan niat, jauh dari hanya sekadar perubahan lahiriah saja, yaitu cara berpakaian, cara berpenampilan, dan perilaku berlebihan dalam syariat beragama, yang pada hal tertentu berperilaku ekstrim seperti memaksakan pakaian yang dianggap islami, memakai bahasa yang katanya islami, meninggalkan profesi yang dianggap tidak islami seperti karyawan bank, aktor, atau musisi, dan ujungnya mengkampanyekan ideologi negara yang dianggap paling islami.

Baca Juga:  Itikaf Adalah Amal yang Sangat Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan, Inilah Tata Caranya!

Syekh Ibnu Ajibah mengutip dari Syekh Yazidi, beliau memberikan cara untuk menguji keikhlasan seseorang dalam berhijrah. Untuk mengujinya beliau menganjurkan seseorang untuk menghadapkan seluruh hawa nafsu duniawi diletakkan di depannya. Jika ia masih menginginkannya, maka niat dan tujuan hijrahnya masih problematis.

“Allah itu cemburu. Tidak senang jika Dia sebagai tujuan hijrah disusupi dengan hawa nafsu dan kepentingan lain di luar diri-Nya. Orang yang masih menyisakan selain Allah di dalam hatinya tidak akan pernah sampai kepada-Nya,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, (Beirut, Darul Fikr: juz I, halaman 74).

Hijrah secara dhohir dari Mekkah ke Madinah sudah tidak ada lagi, seperti sabda Rasulullah SAW. Hijrah dalam pengertian perpindahan spiritual yang berbentuk menata hati dan niat tetap diperintahkan dalam Islam. Bukan sekedar perubahan penampilan, pakaian dan cara berbicaranya tetapi hakikatnya keikhlasan hati dan niat. Wallahua‘lam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.