Hizbut Tahrir dan Gerakan Politik Ideologis Dibalik Liwa dan Rayah

bendera HTI

Pecihitam.org – Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi. Dengan berbagai macam suku, agama, ras, dan budaya. Indonesia menjadi negara yang majemuk, banyak kultur budaya di masing-masing tempat menjadi sebuah identitas tertentu di daerahnya. Sehingga mengerucut menjadi semboyan biasa kita sebut Bhinneka Tunggal Ika yang mempunyai arti bermacam-macam tapi satu tujuan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menjadi negara majemuk memang tidak mudah dibutuhkan perawatan ekstra demi menjaga keutuhan suku dan agama sehingga menjadikan Indonesia menjadi negara yang percontohan perdamaian dunia. Namun, akhir-akhir ini negara Indonesia sedikit dibuat ribut oleh ormas Islam yang bernama Hizbut Tahrir Indonesia.

Bendera dalam Hizbut Tahrir dibagi menjadi dua yaitu,  Rayah dan Liwa. Rayah berati bendera yang bertulisan sahadat berwana hitam dan Liwa adalah bendera berwarna putih dengan tulisan yang sama yaitu sahadat.

Bendera yang menggunkan kalimat sahadat dan berwarna hitam dan putih yang berlafad Laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah yang mempunyai arti tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah. Dari kedua simbol bendera inilah Hizbut Tahrir Indonesia dengan penuh semangat dan menyebarkan panji-panji syari’at Islam.

Ormas Hizbut Tahrir Indonesia mempunyai visi dan misi mengganti idiologi pancasila menjadi idiologi syariat dan mendirikan negara khilafah. Dengan simbol berupa bendera, ormas tersebut mencoba masuk kedalam sendi-sendi masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Gerakan dan Simbolisasi Ideologi Islam Radikal Dibalik Liwa dan Rayah

Hizbut Tahrir Indonesia mempunyai selogan bahwa din wa daulah berati agama dan negara “ kerajaan”, dan menjadikan bendera yang bertulisan lafad Laillahaillallah. Bendera tersebut sering difahami sebagai perwujudan sebagai berikut:

  • Pertama sistem pemerintahan dalam negara-negara Islam merupakan inti dari ajaran Islam.
  • Kedua, politik merupakan bagian dari Islam, karenanya praktik berpolitik berarti praktik beragama. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan antara agama dan politik.
  • Ketiga kewajiban mendirikan negara Islam berdasarkan, baik perundangundangan maupun fiqih-nya yakni penerapan syari’at Islam.
  • Keempat adalah dasar dari negara Islam merupakan manhaj Islami dan sistem moral Islam.

Pada gilirannya, Islam menjadi ideologi politik bagi masyarakat dalam kerangka yang lebih konkret bahwa Islam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menegakkan negara dan menerapkan aturan berdasarkan hukum-hukum Islam. Bendera menjadi salah satu simbol legitimasi politik idiologis untuk mencari kekuasaan dan secara perlahan menjadikan sebuah alat untuk mendoktrin secara masal didalam masyarakat.

Seorang pakar dibidang semiotika asal Amerika bernama Charles Sanders Peirce mengatakan bahwa simbol terbentuk atas kebiasaan masyarakat dan ditasfirkan oleh tiap-tiap manusia itu sendiri. Dan setiap tanda mempunyai fungsi untuk mengemukakan sesuatu atau maksud tertentu. Sehingga proses penafsiran simbol bendera berlafad Laillahaillallah mempunayi pesan tersendiri bagi seorang yang menafsirkannya.

Baca Juga:  Jika HTI Menolak Saran Ini, Lebih Baik Berhenti "Menjual" Ilusi Khilafahnya

Kebenaran obyektif dalam ranah ini diukur atas dasar kesepakatan bersama dalam bahasanya Peirce adalah legisigns berati sebuah tanda yang dibuat atas dasar peraturan. Jika tidak ada kesepakatan dalam peraturan maka tanda tersebut tidak layak untuk di perlihatkan.

Sehingga tanpa di sadari jika kita melihat bendera Hizbut Tahrir Indonesia secara tidak langsung bayangan kita terpaku pada nuansa Islami padahal dibalik bendera tersebut terdapat pesan politik.

Selanjutnya, muncul reaksi yang dihadapi oleh kalangan pembaharu dalam masyarakat Islam Indonesia, di antaranya Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir yang didirikan Taqiyuddin al-Nabhani pada tahun 1953 Bila dilihat dari latarbelakang didirikanya Hizbut Tahrir pada ingin dijadikan ”kendaraan politik” oleh Taqiyuddin al-Nabhani untuk melakukan aktivitas politiknya.

Sejak al-Nabhani memproklamirkan Hizbut Tahrir sebagai sebuah partai politik pembebasan, dengan visi dan misi memperjuangkan kemenangan Islam melalui pembentukan khilafah Islam, partai ini kemudian berkembang pesat ke seantero dunia dan dogmanya terkenal mulai dari Yordania di Timur Tengah, Inggris, Australia hingga ke pelosok Indonesia dan menjadi Hizbut Tahrir Indonesia.

Hizbut Tahrir Indonesia organisasi politik Islam yang independen. Organisasinya memiliki kekhasan seperti berasaskan syari’at Islam, ide dan aksi politiknya bukan politik praktis tetapi politik-ideologis, dan konseptual. Ketika masuk didalam negara Indonesia sungguh sangat berbahaya dikarnakan ajaran atau pendoktrinan yang HTI gunakan tidak sesuai dengan kultur budaya, tradisi dan lingkungan masyarakat Indonesia. Lebih-lebih jika berhasil merubah sistem dan idiologi pancasila.

Oleh karena itu, bendera Hizbut Tahrir Indonesia merupakan sebuah simbol politik idiologis bukan islami, meskipun bendera tersebut bertulisan Laillahaillallah  akan tetapi mempunyai maksud Politik idiologis yang berbasis agama.

Jika masyarakat  sudah terdoktrin dengan ajaran maupun cara mereka mengerjakan sesuatu khususnya didalam sistem pemerintahan sungguh tidak cocok jika di terapkan di Indonesia. Karena dapat mengikis budaya leluhur yang sudah mendarah daging di dalam setiap tradisi kemasyarakatan.

M. Dani Habibi, M. Ag