Hukum Kredit dalam Islam Sama dengan Riba? Pahami Perbedaannya Disini

Hukum Kredit dalam Islam Sama dengan Riba? Pahami Perbedaannya Disini

PeciHitam.orgKeinginan orang memiliki barang tertentu dengan ketiadaan uang cash, tentu akan beralih kepada kredit. Menggunakan pembayaran tenor dengan menyicil pada periode tertentu menjadikan pembayatan kredit lebih meringankan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Satu sisi dirasa meringankan dengan pembayaran berjangka, akan tetapi disatu pihak kredit meniscayakan harga berbeda dengan harga cash. Apakah model akal kredit seperti ini masuk dalam kategori Riba atau Halal. Berikut pandangan Hukum Kredit dalam Islam.

Teori dan Praktek Kredit di Indonesia

Manusia melakukan kegiatan mu’ammalah jual beli bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Membeli barang yang tidak terjangkau dalam sekali pembayaran cash menjadikan penjual membuat program kredit. Program kredit memang menjadikan orang cepat mendapatkan barang dengan uang muka kecil atau bahkan nihil.

Kredit motor, mobil, Kredit perumahan rakyat, handphone sampai kredit kepemilikan peralatan rumah tangga banyak ditemukan di Indonesia. Apalagi bagi Ibu rumah tangga, jika melihat barang murah dengan pembayaran kredit akan sangat menarik.

Kredit meniscayakan adanya pembayaran lebih dari barang yang diperjual-belikan dari harga cash atau tunai. Perbedaan nilai berasal dari risiko penurunan nilai mata uang dan dengan alasan lainnya. Penjual dengan metode kredit dan cash pasti akan memasang dua harga, yakni harga jual tunai dan harga jual kredit.

Praktek kredit banyak digunakan untuk meningkatkan penjual sebuah produk tertentu. Pembayaran kredit banyak diasumsikan sebagai solusi untuk mendapatkan barang terlebih dahulu dengan uang rendah. Kewajiban mencicil setiap bulan dengan nominal tertentu harus dilakukan pembeli sampai barang terbayar lunas.

Memerlukan pelurusan bahwa praktek kredit disamakan dengan menggandakan uang atau praktek riba yang dilarang Islam. Istilah dalam Islam untuk membahasakan jual beli kredit sebagaimana umum dilakukan dalam Islam terkait erat dengan 3 akad.

Pertama; Jual beli kredit atau pembayaran dengan menyicil nominal tertentu disebut dengan Bai’u Taqsith (بيع تقسيط). Misal seorang membeli mabeler dengan harga 5 juta, dengan sistem kredit berangsuran 10 kali.

Kedua; Jual beli dengan menggunakan tempo dalam pembayaran disebut dengan Bai’u bi Ast-Tsamanil Ajil (بيع بالثمن الآجل). Ccontohnya, Ahmad membeli motor seharga 15 juta rupiah, dan akan membayar jika ia telah panen padi. Jangka pembayaran Ahmad untuk sepede motor menunggu padi yang masih disawah panen dan terjual.

Baca Juga:  Gaya Berhubungan Badan yang Dilarang dalam Islam

Ketiga; jual Beli bertempo waktu yang disertai dengan uang muka atau down payment disebut dengan istilah (بيع عربان). Tiga bentuk akad jual beli tersebut adalah jual beli dengan sistem tidak cash atau tidak tunai.

Praktek jual beli sebagaimana di atas sering disematkan kedalam jenis jual beli sistem kredit di Indonesia. Penggunaan sistem kredit sangat luas di Indonesia sebagai salah satu solusi kepemilikan barang yang berharga tidak terjangkau.

Apakah dilarang dalam Islam, akad kredit sebagaimana banyak dilakukan oleh orang di Indonesia? Memerlukan kajian hukum kredit dalam Islam berdasar pendapat fiqh komtemporer sebagai berikut!

Kredit dalam Islam

Jual beli dalam Islam sebagaimana dalam mu’ammalah biasa berhukum Boleh atau Mubah. Bolehnya Jual beli dalam Islam tentu harus terhindar dari unsur-unsur Gharar (penipuan), Maysir (Spekulatif sebagaimana Judi) dan terhindar dari barang yang dijual dua kali.

Selama larangan-larangan dalam berdagang di atas tidak dilakukan, maka Buyu’ atau Jual Beli diperbolehkan dalam Islam. Diperbolehkannya jual beli dalam Islam apakah mencakup sistem jual beli dengan sistem kredit?

Dalam literasi fiqh kontemporer dijelaskan bahwa Jual beli dengan sistem kredit atau Bai’u Taqsith didefinisikan;

البيع بالتقسيط بيع بثمن مؤجل يدفع إلى البائع في أقساط متفق عليها، فيدفع البائع البضاعة المبيعة إلى المشتري حالة، ويدفع المشتري الثمن في أقساط مؤجلة، وإن اسم ” البيع بالتقسيط ” يشمل كل بيع بهذه الصفة سواء كان الثمن المتفق عليه مساويًا لسعر السوق، أو أكثر منه، أو أقل، ولكن المعمول به في الغالب أن الثمن في ” البيع بالتقسيط ” يكون أكثر من سعر تلك البضاعة في السوق، فلو أراد رجل أن يشتريها نقدًا، أمكن له أن يجدها في السوق بسعر أقل ولكنه حينما يشتريها بثمن مؤجل بالتقسيط، فإن البائع لا يرضى بذلك إلا أن يكون ثمنه أكثر من ثمن النقد، فلا ينعقد البيع بالتقسيط عادة إلا بأكثر من سعر السوق في بيع الحال

Artinya: “Jual Beli Kredit (Bai’u Taqsith) yakni jual beli dengan harga pembayaran bertempo tertentu dan dibayarkan kepada penjual (atau pihak yang mewakili) dalam bentuk cicilan. Penjual menyerahkan barang dagangan (Bidha’ah) secara langsung pada saat Akad awal walaupun belum ada pelunasan pembayaran.

Baca Juga:  6 Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

Pembeli berkewajiban untuk mencicil barang yang dibeli dengan cicilan berjangka tertentu. istilah Bai’u Taqsith merujuk kepada akad jual beli digunakan dalam  bentuk, 1. Jual beli sesuai dengan harga pasar. 2. Jual Beli Lebih Tinggi dari Harga Pasaran (jika dibayar tunai). Dan 3. Jual Beli lebih rendah dari harga pasar.

Keumuman jual beli kredit di Indonesia, meletakan harga barang kredit lebih tinggi dari harga pasar. Dasar dalil ini bisa dilihat dalam kitab Ahkamul Bai’u Taqsith oleh Hakim Muhammad Taqi al-Utsmani.

Memperhatikan pengertian dalam kitab Ahkamu Bai’u Taqsith di atas, maka dapat diambil simpulan bahwa jual beli kredit (Bai’u Taqsith) adalah jual beli berjangka dan nilai jualnya akan lebih tinggi dari nilai pembayaran tunai.

Misalkan Hasba membeli Mobil seharga 150 Juta jika Cash, dengan sistem kredit 2 tahun maka cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan adalah  6,5 juta. Dan jika dikumulatifkan akan menjadi 156 Juta rupiah. Harga Kredit memang akan lebih tinggi dari pada Harga Pasaran Sistem pembayaran Cash/ Tunai.

 Gambaran sederhana kredit di Indonesia adalah sebagaimana di atas, berdasar ilustrasi dari artikel tulisan Muhammad Taqi’ al-Utsmani.

Hukum Kredit dalam Islam

Jual beli kredit pernah disamakan dengan Jual beli era jahiliyah. Akan tetapi Allah SAW membantah bahwa jual beli sama dengan riba. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 275 diterangkan;

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٧٥

Artinya; “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Riba adalah hasil berlebih dari uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Sedangkan jual beli hampir sama dengan riba karena penjual mengambil margin dari Jual Beli sebagai Keuntungan. Seorang yang membeli barang seharga 1 juta rupiah, menjual dengan harga 1,2 juta rupiah dibenarkan dalam Islam dan Bukan Riba.

Baca Juga:  Perdebatan Terkait Hukum Makan Kodok Dan Kepiting Dikalangan Para Ulama'

Hukuk Kredit dalam Islam kiranya sama dengan jual beli dengan memenuhi syarat dalam Syariat. Syarat yang harus dipenuhi oleh agar Jual Beli Kredit sasma dengan Jual beli yakni terhindar dari unsur, Gharar (Penipuan), Maysir (Spekulatif seperti Judi), dan Menjual Barang dua kali.

Hukum kredit dalam Islam dengan sistem Kredit Sah dan Halal jika tidak melanggar larangan dalam jual beli di atas. Dalam kredit sangat umum membedakan jual beli dengan harga berbeda dari jual beli tunai. Dalam hal ini, Imam Nawawi Ad-Damsyq menjelaskan;

أما لو قال بعتك بألف نقداً وبألفين نسيئة… فيصح العقد

Artinya: “Jika dalam sebuah Akad Jual Beli, Sang Penjual Mengatakan ‘Saya Akan Jual barang ini kepada Anda dengan Ahrga 1000 dirham bila Tunai’ dan ‘Jika dengan Tempo kredit tertentu berharga 2000 dirham’ maka Jual beli seperti Sah menurut Hukum”

Maka jelas, Hukum Kredit dalam Islam diperbolehkan berdasarkan dalil kuat para Ulama mu’tabar. Jual beli kredit sebagai salah satu solusi memiliki barang dengan uang sedikit, sebagaimana tukang ojek mengajukan kredit Motor untuk mencari penghidupan.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan