Inilah Niat Puasa Ramadhan: Lengkap dengan Lafadz Arab, Teks Latin dan Terjemah

Niat Puasa Ramadhan

Pecihitam.org Tidak lama lagi kita akan menghadapi bulan puasa Ramadhan. Sebagai seorang muslim, jika tidak ada udzur yang syar’i, maka wajib bagi kita untuk melakukan puasa, karena merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Salah satu chal terpenting yang harus dipahami adalah tentang niat puasa Ramadhan, karena jika tanpa niat atau salah niatnya, puasa menjadi tidak sah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan niat puasa Ramadhan. Mulai dari lafadz, waktu dan ketentuan-ketentuan lainnya, sebagaimana akan dibahas dalam tulisan ini.

Hukum Niat Puasa Ramadhan

Sebagaimana dalam ibadah-ibadah lainnya, niat merupakan kewajiban. Dalam kajian fiqih, niat puasa merupakan salah satu rukun yang mesti dipenuhi. Dalam artian jika seseorang tidak berniat, maka puasanya hanyalah sia-sia.

 إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya (HR. Muslim)

Hadits yang dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam kumpulan 40 haditsnya (kitab Arbain Nawawi) inilah yang dijadikan dasar oleh para ulama Fiqih untuk merumuskan kewajiban niat dalam setiap amal termasuklah dalam puasa.

Rukun puasa sendiri ada dua. Pertama, niat, sebagaimana akan dibahas secara detail dalam tulisan ini. Kedua, menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Sighat Niat Puasa Ramadhan

Niat Puasa Ramadhan

Agar lebih mempermudah, dalam sighat niat puasa Ramadhan ini, selain lafadz Arab, kami sertakan pula dengan teks latin dan terjemahnya.

Baca Juga:  Puasa Syaban, Dalil Kesunnahan dan Niatnya

Lafadz Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ إِيْمَانًا وًاحْتِسَابًا لِلَّه تَعَالَى

Teks Latin

Nawaitu shawma ghadin ‘an adâ-i fardhi ramadhâni hâdzihis sanati îmânan wah-tisâbân lillâhi ta-‘âlâ

Terjemah

Saya niat berpuasa esok hari karena menunaikan fardhu Ramadhon pada tahun ini dengan iman dan mengharap ridha Allah karena Allah Ta’ala.

Sighat niat di atas adalah yang paling sempurna, sebagaimana disebutkan Syaikh Nawawi Banten dalam Nihayah al-Zain Juz II halaman 168

Adapun jika memakai yang biasa dipakai, cukuplah dengan lafadz berikut

Lafadz Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّه تَعَالَى

Teks Latin

Nawaitu shawma ghadin ‘an adâ-i fardhi ramadhâni hâdzihis sanati lillâhi ta-‘âlâ

Terjemah

Saya niat berpuasa esok hari karena menunaikan fardhu Ramadhon pada tahun ini dengan karena Allah Ta’ala.

Ketentuan Niat Puasa Romadhan

Berkaitan dengan niat puasa, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan.

Pertama, karena puasa Ramadhan merupakan puasa fardhu, maka niatnya harus sudah dilaksanakan sebelum Fajar Shadiq (tabyit).

Kedua, apabila niat puasa Ramadhan dilakukan bersamaan dengan munculnya Fajar Shadiq, maka puasanya tidak sah.

Ketiga, niat puasa letaknya adalah dalam hati, sedangkan talaffudz atau melafadzkan niat hukumnya adalah sunnah.

Keempat, untuk mengantisipasi lupa membaca niat, boleh membaca niat puasa Ramadhan setelah melakukan shalat tarawih atau sebelum tidur.

Ramadhana atau Ramadhani?

Sebagaimana sering kita dengar, bahkan mungkin sebagian dari kita termasuk salah seorang yang membaca niat puasa Ramadan dengan membaca fathah huruf nunnya, yakni رَمَضَان. Apakah ini sudah benar?

Mari perhatikan penjelasan di bawah ini

Baca Juga:  Kapankah Batas Akhir Qadha Puasa Ramadhan?

Yang benar dalam niat puasa Ramadhan adalah lafadz رَمَضَانِ dibaca kasrah huruf nun-nya, bukan dibaca fathah, َرَمَضَان seperti banyak kekeliruan di kalangan masyarakat selama ini.

Karena walaupun lafadz رَمَضَان berupa isim ghairu munshorif harus dibaca kasrah, sebab dimudhafkan pada lafadz setelahnya.

Sebagaimana kaidah ilmu Nahwu yang disebutkan di dalam Nadzam Imrithi

فَاِنْ يُضَفْ اَوْ يَأْتِى بَعْدَ اَلْ صُرِفْ

Apabila isim ghairu munsharif dimudlafkan atau jatuh setelah اَلْ, maka kembali menjadi munsharif.

Maka, sekali lagi, bacaan yang benar adalah رَمَضَانِ, bukan رَمَضَانَ

Tentang Niat Puasa Sebulan Penuh

Pembahasan berikutnya tentang niat puasa Ramadan yang harus diketahui adalah mengenai niat puasa penuh sekaligus selama satu bulan yang dilakukan pada malam pertama saja di bulan Romadhon. Apakah ini diperbolehkan atau bagaimana?

Madzhab Mayoritas

Dalam madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali, niat puasa Ramadhan harus dilakukan tiap malam selama bulan Ramadan. Oleh karena itu, jika ada orang berpuasa Ramadan dengan hanya melakukan niat satu kali untuk satu bulan penuh yakni hanya pada malam pertama bulan Ramadan, misalnya dengan niat

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمْيعِ شَهْرِ رَمَضَان

Nawaitu sauma Syahri ramadhan (Saya niat puasa seluruh bulan Ramadhan)

Maka puasa yang dihukumi sah hanya puasa hari pertama saja, kecuali jika ia melakukan niat puasa satu bulan penuh pada malam pertama sebagai antisipasi ketika dia lupa melakukan niat pada malam-malam yang lain dan dengan diniatkan taqlid kepada Imam Malik yang memperbolehkan hal itu, maka puasanya dihukumi sah, bahkan hal itu disunahkan.

Madzhab Maliki

Sedangkan menurut madzhab Imam Maliki, niat puasa bisa dianggap cukup walaupun hanya pada malam pertama bulan Ramadan saja. Bagi kita yang ingin taqlid terhadap pendapat ini, boleh asalkan harus mengetahui ketentuan-ketentuan puasa yang diterapkan dalam mazhab Maliki sebagaimana sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘ala Madzhab al-Arba’ah Juz I halaman 463 – 464 sebagai berikut:

Baca Juga:  Kajian Fiqh Puasa Bagian III: Dari Sunnah-Sunnah hinga yang Membatalkan Puasa

Pertama, syarat-syarat wajib puasa versi Malikiyah adalah: 1). baligh; 2). mampu melakukan puasa.

Kedua, syarat-syarat sah puasa versi mazhab Malikiyah adalah: 1). Islam; 2). dilaksanakan pada hari-hari yang diperbolehkan berpuasa; dan 3). niat.

Ketiga, syarat-syarat wajib sekaligus syarat sah puasa versi Malikiyah adalah: 1). berakal; 2). bersih dari haid dan nifas; dan 3). masuk bulan Ramadan.

Keempat, rukun-rukun puasa versi mazhab Malikiyah adalah: 1). niat; 2). menahan diri dari makan dan minum hubungan suami-isteri dan muntah yang disengaja. (Al-Kalabi dalam Qawanun al-Fiqhiyyah)

Adapun adapun sighat niat puasa satu bulan penuh pada malam pertama bagi kita yang ingin taklid pada madzhab Maliki adalah sebagai berikut

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمْيعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma Syahri Ramadhana haadzihis sanati taqlidan lil Imam Malik fardlan lillahi ta’ala.

Saya niat berpuasa seluruh bulan Ramadan tahun ini karena taqlid pada Imam Maliki karena Allah Ta’ala.

Demikian beberapa penjelasan penting berkaitan dengan niat puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

Faisol Abdurrahman