Inilah Strategi Dakwah Khulafaur Rasyidin yang Patut Diaplikasikan Para Dai Kekinian

Inilah Strategi Dakwah Khulafaur Rasyidin Yang Patut Diaplikasikan Para Dai Kekinian

Pecihitam.org- Keempat khalifah adalah para penguasa ideal yang membimbing umat di atas jalan yang benar dan telah melaksanakan tugas dengan penuh keimanan. Karena alasan ini mereka dikenal sebagai Khulafa al-Rasyidin. Keempat sahabat beliau tersebut memperlihatkan laga dakwahnya pada masa kekhalifahannya masing-masing. Berikut akan dijelaskan mengenai  Strategi Dakwah Khulafaur Rasyidin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Abu Bakar al-Siddiq, kaum muslimin memanggilnya khalifah Allah, tetapi dia keberatan terhadap julukan itu dan berkata bahwa dia hanyalah “kahlifah dari pesuruh Allah”. Oleh karena itu julukan “Khalifah Rasulullah” telah digunakan dengan namanya.

Abu Bakar secara ke dalam (internal kaum muslimin) untuk menegakkan ajaran-ajaran Islam, relatif tetap menggunakan jargon perang sebagai strategi dakwah. Ahmad Syalabi menulis bahwa sesudah Rasulullah wafat, agama Islam menghadapi krisis dengan adanya golongan yang murtad, golongan yang mengaku diri sebagai nabi dan golongan yang enggan membayar zakat.

Dalam hal ini di antara kaum muslimin terjadi pro-kontra dalam menyikapinya. Ada yang berpendapat tak ada alasann untuk memerangi mereka dan ada pula yang berpendapat wajiob memerangi mereka dalam kesulitan yang memuncak ini. Tampak kebesaran dan ketabahan hati Abu Bakar untuk menyeru mereka kembali kepada kebenaran, di mana yang tetap enggan beliau perangi, demi memperjuangkan kemuliaan agama Allah.

Satu tindakan yang demikian tegas dan fleksibel dari sosok sederhana itulah yang membuat Islam mampu hidup di tengah tantangan yang demikian serius dari berbagai pihak yang mengancam wujud dan keberadaannya.

Dengan misi yang demiliki, pandangannya yang jauh ke depan dan kebijakannnya, Abu Bakar mampu mempersepsikan bahwa sebuah bahaya besar telah mengancam dari sekitar Madinah dan kemudian ke berbagai negeri, di saat koleganya menganggap hal itu sesuatu yang tidak mesti mendapat perhatian besar dan berkat kekokohannya serta usahanya yang demikian keras untuk tidak berkompromi dan memberikan konsesi kepada musuh-musuh, maka Islam tetap berdiri kokoh dan jaya.

Abu Bakar bukan saja mampu mempertahankan batasbatas geografis, namun sekaligus juga mampu mempertahankan batas spiritual Islam. (lihat Afzal Iqbal, Diplomasi Islam)

Umar bin Khattab mengikuti jejak pendahulunya. Begitu dikukuhkan sebagai khalifah yang kedua dia terus naik mimbar masjid dan berpidato kepada mereka yang hadir. Dia menyatakan antara lain bahwa bangsa Arab ibarat seekor unta yang ditarik dengan gelang pada hidungnya. Kemanapun ditarik ia akan ikut.

Baca Juga:  Sejarah Lahirnya GP Ansor (Gerakan Pemuda Ansor)

Tetapi dalam mengikuti Umar dia meminta hendaknya mereka melihat ke mana mereka akan dihela. Sementara itu dia menjanjikan akan memimpin mereka pada jalan yang benar.

Sebagaimana halnya Abu Bakar yang melanjutkan peperangan yang tidak sempat dilakukan oleh Rasulullah (karena wafat), namun telah dipersiapkannya, Umar juga melanjutkan peperangan yang tidak sempat dilakukan Abu Bakar karena wafat, namun telah dirintisnya. Dalam masa kekhalifhannya, ia melakukan ekspansi Islam ke Persia, Romawi, dan Mesir.

Dalam ekspansi Islam yang dilakukan Umar itu menimbulkan tiga kondisi nyata, yaitu :

  1. banyaknya penganut Islam baru akibat derasnya arus penduduk yang berbondong-bondong masuk Islam.
  2. terdapatnya penduduk /warga setempat (pada daerah-daerah yang baru ditaklukkan) yang beragama non-Islam atau masih menganut kepercayaan lama (Kristen).
  3. bertambah luasnya wilayah pemerintahan Islam yang memerlukan pengelolaan dan penanganan administrasi yang efektif.

Untuk yang pertama, Umar menyusun ketentuan-ketantuan khusus mengenai materi pendidikan dan metode pengajaran agama, baik mengenai pokok-pokok iman maupun soal-soal ibadah.

Dalam hal ini diangkat dan ditunjuklah guru-guru untuk setiap daerah yang bertugas mengajarkan kepada penduduk tentang isi Alqurān dan soal-soal yang berhubungan dengan kepercayaan lama (kekristenan ) mereka. Ia memerintahkan pula kepada pembesar pemerintahan untuk mengawasi apakah penduduk (tua dan muda) selalu mengikuti atau melaksanakan, shalat jamaah terutama shalat Jum‟at dan ibadah pada bulan Ramadhan.

Untuk yang kedua, Umar menerapkan kebijaksanaan toleransi (antar umat beragama) dalam hal ini, Umar misalnya melarang adanya tekanan kekerasan apabila mereka ternyata tidak rela meninggalkan kepercayaan mereka semula dan menjamin mereka melakukan ibadah, namun sebaliknya, mereka tidak diperkenankan melarang anggota-anggota mereka yang ingin masuk Islam dan tidak pula membaptis anak-anak mereka yang sudah masuk Islam.

Tidak ada paksaan bagi mereka mengenai soal-soal yang berhubungan dengan keyakinan mereka, dan tidak seorang pun di antara mereka yang akan dianiyah.

Baca Juga:  Sejarah Awal Mula Ibadah Haji dan Qurban dalam Kisah Nabi Ibrahim As

Akan tetapi dalam pada ini, demi kontribusi mereka kepada khilafah Islam, Umar menetapkan sumbangan wajib mereka dengan 5 Dinar bagi golongan kaya, 4 Dinar bagi golongan menengah dan 3 Dinar bagi rakyat biasa/ golongan bawah.

Dan untuk yang ketiga, Umar menyusun dewan-dewan, mendirikan baitul mal, menempa mata uang, membentuk angkatan bersenjata (tentara) untuk menjaga / melindungi tapal batas mengangkat hakim, mengatur perjalanan pos, menciptakan penanggalan tahun Hijriyyah dan sebagainya.

Berdasarkan data tersebut, memperlihatkan bagaimana Umar merencanakan dakwah dengan begitu optimal, yang meliputi pembinaan intern umat / penduduk muslim, antara umat beragama dan kenegaraan. Dengan ini, Michael Hart menempatkan Umar sebagai tokoh rangking nomor 51 dunia.

Usman bin ‘Affan, termasuk juga salah seorang di antara alsabiquna al-awwalun. Ia dikenal sebagai seorang kaya yang dermawan yang banyak membantu pengembangan risalah Muhammad. Ia menikahi 2 puteri Rasulullah dan melakukan hijrah 2 kali, sehingga beliau dijuluki zunnurayn wa al-hijratayn.

Adapun upaya besar (yang menonjol) yang dilakukan Utsman dalam rangka pengembangan Islam, ada 2 aspek yaitu (1) menumpas pemberontakan dan pendurhakaan yang terjadi di beberapa daerah pada masa kekhalifahan Umar dan (2) memperluas kekuasaan Islam yang terhenti pada masa kekhalifahan Umar.

Selain itu, satu upaya besar (karya spektakuler) yang dilakukan Utsman (sebagai buah dari pengalamannya menjadi sekretaris sekaligus penasehat 2 khalifah pendahulunya, Abu Bakar dan Umar), sebagaimana yang sudah banyak diketahui umat teristimewa kalangan terpelajar Islam ialah pengumpulan dan penulisan Alquran, yang kemudian dikenal dengan mushaf utsmani.

Ali bin Abi Thalib, termasuk juga salah seorang di antara assabiquna al-awwalun dari kalangan anak-anak. Ia memiliki ilmu yang banyak terutama ilmu rahasia ketuhanan dan persoalan keagamaan. Ia yang menjaga dan tidur ditempat tidur Rasulullah ketika hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar.

Adapun upaya dakwah yang dilakukan Ali pada masa kekhalifahannya, antara lain sebagaimana dikemukakan panjang-lebar oleh Taha Husain seperti berikut: Betapapun banyak persoalan gawat mengenai peperangan yang dihadapi Ali, namun semua itu tidak menghabiskan seluruh waktu dan kegiatan sehari-harinya di Kufah (untuk peperangan).

Ia dapat membagi waktunya. Waktu untuk urusan perang, soal politik dan soal keagamaan. Ia tidak lalai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin umat, dan tidak tenggelam pada kesedihannya betapapun beratnya.

Baca Juga:  Gerakan Kaum Sufi dalam Melawan Penjajah Kolonial

Dalam hal ini, ia tidak berbeda dengan khalifahkhalifah pendahulunya yang mengimami shalat jamaah, mengingatkan kaum muslimin agar tetap mematuhi ajaran-ajaran agama, dan mengajarkan kepada mereka tentang pengetahuan agama seluas-luasnya.

Semua itu dilakukan kadang-kadang dari atas mimbar (khutbah) sambil berdiri dan duduk bersama mereka. Ia selalu duduk-duduk bersama kaum muslimin di dalam masjid, menanyakan kesukaran-kesukaran yang dihadapi tentang berbagai segi kehidupan, baik soal keagamaan maupun keduniaan. Ia benar-benar bertindak sebagai imam dan guru.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai khalifah Rasulullah, Abu Bakar menaruh perhatian khusus pada penyebaran jalan hidup yang benar. Karena usahanya seluruh Arab sekali lagi dan untuk selamanya masuk kembali ke dalam Islam.

Umar sebagai wakil dari Rasulullah saw. tugas terpentingnya adalah menyebarkan dan mengajarkan Islam. Tujuan utama dari pertempuran dan perjuangan adalah membersihkan jalan bagi kaum muslim untuk mengajarkan Islam.

Kapan saja suatu pasukan perang menyerang suatu tempat tertentu harus menyeru penduduk setempat kepada Islam. Umar r.a sangat tegas dalam hal ini dan telah memberikan pesan tetap kepada para komandan untuk tidak memulai perang kecuali mereka pertamatama telah mengajak orang-orang kepada Islam.

Usman menghabiskan banyak waktunya dalam pengajaran kepada para tawanan perang. Banyak di antara mereka menerima Islam karena usahanya. Ia juga mengajar hukum Islam kepada kaum muslimin. „Ali menganggap bahwa penyebaran dan pengajaran cara hidup yang benar yakni Islam, adalah satu di antara tugas-tugas terpenting seorang khalifah.

Mochamad Ari Irawan