Inilah Tiga Sufi yang Kaya Raya, Bukti Tasawuf Tak Indentik dengan Miskin

sufi kaya raya

Pecihitam.org – Masih dalam pembahasan dunia Tasawuf. Barangkali dari sebagian orang menganggap tasawuf selalu di identikkan dengan menjauhi dunia, ngumpet menyendiri di gunung atau laut, berpakaian lusuh, atau meninggalkan harta dunia sepenuhnya. Bahkan, yang lebuh parah ada yang meninggalkan keluarganya begitu saja.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebentar.. Sepertinya anda salah informasi atau kurang informasi. Jiak menganggap bahwa dunia Tasawuf demikian tentu saja hal ini salah. Lantas mengapa ada pemahaman kehidupan sufi identik dengan meninggalkan segala hal yang duniawi?

Salah satu jawabannya,, ya karena ada kesalahpahaman tentang makna zuhud yang sesungguhnya. Imam al Ghazali menerangkan dalam Kitab Ihya Ulumiddin “Bab Zuhud”, bahwa zuhud pada hakikatnya merupakan sikap tidak bergantung kepada dunia.

Oke,, dari penjelasan Imam Gozali tersebut sekiranya cukup sedikit merubah pandangan kita tentang Zuhud. Jadi kata kuncinya “tidak bergantung kepada dunia” ya… bukan sikap meninggalkan dunia sepenuhnya. Zuhud adalah mengendalikan dunia dan tidak dikendalikan oleh dunia.

Nah, jika dengan pemaham zuhud yang seperti ini, maka tidak heran jika kita akan menemukan fakta bahwa ada beberapa sufi yang kaya raya dan tetap hidup dalam kenyamanan duniawi. Meskipun demikian mereka tidak pernah lalai, menggunakan secukupnya dan menyedekahkan sisanya.

Berikut adalah 3 nama ulama sufi masyhur dan kaya raya dan patut kita jadikan contoh:

1. Abdullah bin Mubarak

Bagi orang yang biasa terjun di dunia tasawuf atau kajian tentang akhlak Islam, maka nama Abdullah bin Mubarak ini tidak akan asing terdengar di telinga. Beliau adalah salah satu ulama sufi yang hidup sekitar abad ke-2 hijriyah.

Abdullah bin Mubarak sangat masyhur karena ilmu, akhlak, dan kebijaksanaannya. Kalam hikmahnya banyak menghiasi kitab-kitab semacam Ihya’ Ulumiddin, Qutul Qulub, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Kebatinan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Sebuah Karya Sastra Agung “Kidung Rumeksa Ing Wengi”

Mengenai derajat keulamaan beliau Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah mengisahkan bahwa suatu hari beliau datang ke kota Raqqa yang di situ terdapat istana Harun Al-Rasyid.

Orang-orang seluruh kota berkumpul untuk bisa bertemu beliau dan meminta berkah. Selir Harun al Rasyid melihat kerumunan itu dari atas istana kemudian bertanya kenapa orang-orang berkerumun. Lalu salah seorang pengawal menjawab bahwa seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarok berkunjung ke kota ini.

“Itulah raja yang sesungguhnya,” ujar selir Harun, “tidak seperti Raja Harun yang membuat kerumunan menggunakan pedang dan tongkat.”

Abdullah bin Mubarrak lahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya pedagang dari Turki dan ibunya berasal dari Khwarizm. Mengenai hartanya yang melimpah, Ibnu Katsir menceritakan bahwa aset tetap beliau (ra’sul mal) berjumlah sekitar 400.000 yang dinvestasikan ke beberapa daerah.

Sayangnya Ibnu Katsir tidak menjelaskan lebih rinci apakah angka ini dalam mata uang dinar (emas) atau dirham (perak). Namun andaikan dirham pun jumlah ini tetap banyak. Setiap tahun hasil laba bisnis beliau berjumlah 100.000, dan itu semua beliau sedekahkan untuk para ulama, ahli ibadah, dan lain-lain

Meski kaya raya, beliau tetap sufi dengan pribadi yang sangat dermawan. Jika musim haji hampir tiba, beliau selalu bertkata kepada kawan-kawannya,

“Siapa yang hendak berhaji datangilah aku. Akan kuberi uang sebagai bekal.”

Adapun di hari-hari tertentu beliau akan menggelar meja makan dan mengisinya dengan makanan-makanan lezat. Lalu beliau akan membiarkan rombongan haji, orang miskin, atau musafir untuk ramai-ramai menyantapnya. Yang lebih luar biasa beliau sendiri selalu berpuasa hingga meninggal.

2. Syekh Abdul Qadir Jaelani

Bagi penganut Ahlussunnah Wal Jamaah semua pasti sepakakt bahwa ulama setelah abad lima hijriah hingga kini yang disepakati kewaliannya adalah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Beliau adalah guru hampir semua ulama yang hidup di masanya. Ratusan ribu bajingan, perampok, dan penganut sekte menyimpang berhasil dibuat tobat oleh beliau.

Baca Juga:  Perbedaan Wahdatul Wujud dan Wahdatul Syuhud dalam Tasawuf

Sebagai tokoh sufi, beliau tidak diragukan lagi kualitas keilmuannya. Dalam biografi Syekh Abdul Qadir al Jaelani karangan Dr. Abdur Rozzaq al-Kailani dikisahkan bahwa pada usia remaja beliau berangkat ke kota Bagdad untuk menuntut ilmu dengan membawa bekal secukupnya.

Ketika beliau sampai di Baghdad sekitar tahun488 H , orang-orang sedang ramai membincangkan Imam Ghazali yang sedang mengalami krisis intelektual dengan mengasingkan diri dan pergi berkelana.

Di Bagdad, Abdul Qadir muda kehabisan bekal dan akhirnya bekerja sebagai kuli angkut untuk melanjutkan kehidupannya. Guru beliau dalam ilmu syariat bernama Abu Sa’d al-Makhromi, seorang alim dari Bagdad di masanya. Sedangkan guru tasawufnya bernama Hamad ad-Dabbas.

Ketika gurunya, Abu Sa’d, meninggal beliau langsung dipercaya memegang madrasah. Dari situlah ketenaran Syekh Abdul Qadir sebagai ulama sufi, dan wali agung mulai masyhur. Di masa itu para ulama dan pengabdi ilmu mendapatkan jatah harta wakaf dari perkebunan-perkebunan.

Syekh Abdul Qadir yang kemudian menjadi guru seluruh orang Bagdhad dan secara otomatis akan mendapatkan rezeki melimpah yang sebenarnya tak pernah beliau harapkan.

3. Abu Hasan As-Syadzili

Abu Hasan As-Syadzili adalah guru sufi pemimpin tarekat Syadziliyah. Uniknya, beliau sangat berbeda dengan sufi lain yang berpakaian sederhana sebagaimana umumnya. Beliau hanya mau memakai pakaian yang bagus dan selalu ingin tampil sempurna.

Selain guru sufi, beliau juga seorang ulama syariat yang masyhur. Izzuddin bin Abdus Salam dan Ibnu Daqiq al-‘Id adalah beberapa ulama syariat yang aktif mengikuti kajian tarekat Syadiliyah. Kedua ulama sangat kagum dan terpesona dengan ajaran Abu Hasan as Syadizili.

Baca Juga:  Adakah Cara Mencintai Allah SWT dalam Bentuk Perilaku? Berikut Dalil-Dalilnya

Keunikan lainnya adalah, Abu Hasan tidak pernah mengarang kitab dan ketika di tanya tentang hal ini beliau berkata, “Kitabku adalah muridku.” Dan memang murid beliau banyak mewarisi ajaran beliau seperti Abu Abbas al-Mursi, serta muridnya yakni Ibnu Athaillah.

Sebagaimana ulama lain di atas, Abu Hasan dikenal sebagai ulama sufi yang kaya raya. Bahkan sampai muncul anggapan orang awam bahwa tarekat yang paling mudah adalah Syadziliyah karena tarekat ini memperbolehkan hidup kaya.

Kekayaan Abu Hasan As Syadzili diperoleh dari usaha bidang perkebunan. Hal ini bisa diketahui dari ucapan beliau kepada teman-temannya ketika beliau ketinggalan dari rombongan perjalanan yang hendak berangkat.

“Maaf, aku terlambat karena aku harus melihat perkebunanku yang sedang ditanam di tiga tempat.”

Mengenai ini Abdul Halim Mahmud dalam Al-Madrasah Al-Syadziliyah halaman 72 berkomentar,

“Tanah beliau bukan satu atau dua faddan (per faddan sekitar 4200 meter persegi). Tapi lebih dari itu beliau berkata ‘tiga tempat’.”

Namun demikian, baik Abdullah bin Mubarrak, Abdul Qadir Jaelani dan Abu Hasan As Syadzili, meski kaya raya dan berkecukupan harta, mereka adalah sosok sufi yang kedermawannya tak tertandingi. Mereka mendapat dunia karena memang mendapatkannya, bukan mengejarnya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik