Islam Menolak Rasisme, Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

tidak ada rasisme dalam islam

Pecihitam.org – Perbuatan rasisme tidak dibenarkan oleh agama manapun. Menjelekkan orang lain hanya untuk menaikkan status sosialnya sangatlah tidak dibenarkan dalam Islam. Terdapat dalil kuat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menunjukkan larangan untuk berbuat rasis. Sampai-sampai pada awal dakwah, misi utama Nabi adalah membebaskan orang yang selalu ditindas oleh mereka yang berkuasa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tendensi larangan rasis dalam Al-Qur’an ditunjukkan pada surat Al-Hujurat ayat 11.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al-Hujurat: 13)

Sedangkan dalam Hadits, Rasulullah pernah berkata kepada Abu Dzar “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.”

Jelas dua tendensi ini menggambarkan bahwa larangan rasisme bersifat tegas karena bisa menyakiti hati sesama manusia.

Sejak dahulu Islam konsisten mengangkat kemanusiaan sebagai bendera agama. Dalam laku hidupnya, Nabi selalu mengutamakan sifat belas kasih sekalipun pada mereka yang membencinya. Tak pernah timbul sedikitpun dalam diri Nabi untuk menghina umatnya. Malahan Nabi selalu bersabar dan menulurkan bantuan saat umatnya merasakan kesulitan.

Baca Juga:  Stop Rasisme! Papua adalah Indonesia, Papua adalah Kita, #KitaIniSama

Sifat rasis bisa mengikis rasa belas kasih dan memancing rasa saling benci. Kemanusiaan akan hilang secara perlahan jika rasisme terus menguasai badan. Pikiran rasanya ingin menghina untuk memuaskan batin yang tertimpa kekosongan.

Batin akan puas jika penghinaan suah dilakukan, batin akan puas jika penindasan telah dilaksanakan, dan batin akan puas jika semua perkataan telah terlontarkan.

Maka diperlukan strategi khusus untuk menghadapi tindak rasisme. Jika kita meladeni tindak rasisme yang mereka lakukan, maka kita akan terjebak dalam gelombang yang sama. Kita pun akan menghina dirinya untuk membela diri kita. Pun sama, kita akan terlihat senang jika dirinya menderita dan kita akan senang jika dirinya sudah tidak bisa berkata akibat ejekan yang kita berikan padanya.

Baca Juga:  Nomen et Omen "Manusiaisme"

Tentu cara semacam ini akan berbuntut panjang yang mengakibatkan tindakan rasisme semakin pesat. Berkembang ataupun menyusut tindakan rasisme yang ada, disebabkan oleh pelaku rasisme itu sendiri.

Tindakan rasisme sejatinya memancing tindakan rasisme yang lain. Sama saja, ketika kita dihina, diri kita tidak akan terima. Dan tentu saja tindakan selanjutnya adalah menyerang orang tersebut dengan nada penghinaan yang lebih kejam dari yang dia berikan.

Akan tetapi, bila kita terus membiarkannya tanpa adanya nasihat, sama saja kita membiarkan rasisme itu terus berjalan. Misalnya, kita melihat suatu kejahatan, lalu kita diamkan, maka pelaku tersebut menganggap tindakannya sebagai sebuah kebenaran. Begitu pula dengan tindakan rasisme, apabila dibiarkan, pelakunya juga akan menganggap tindakan tersebut sebagai tindakan yang wajar.

Lantas bagaimana Islam sebagai agama kemanusiaan memberikan solusi atas tindakan rasisme?

Islam memberikan solusi terhadap rasisme melalui Al-Qur’an sebagai kalam Tuhan. Disebutkan dalam surat Al-Qhosos ayat 55 Allah berfirman;

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Kunci menghadapi rasisme adalah ketegasan dan kesabaran. Tegas saat memberikan nasehat dan sabar saat kita dihinakan. Memang sangat sulit menjalankan dua hal tadi, tegas sekaligus sabar.

Baca Juga:  Dasar "Monyet"! Antara Ketiadaan Etika dan Contoh Baru Bagi Anak Bangsa

Mungkin saja nafsu akan membonceng saat kita terhinakan. Dan mungkin bukan ketegasan memberi nasehat, namun kemarahan yang muncul pada akhirnya. Oleh karenanya, diperlukan latihan untuk bisa mengendalikan diri dan bersifat sabar dan tegas saat dihinakan.

Muhammad Nur Faizi