Ismail Raji al Faruqi dan Pemikirannya Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

ismail raji al faruqi

Pecihitam.org – Ismail Raji al-Faruqi lahir pada tahun 1921 dari keluarga terpandang di Jaffa, daerah di Palestina. Sebagai orang warga Negara Palistina sudah barang tentau kecintaan lahir dan batinnya dengan Negaranya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dia juga mengalami sendiri tragedi yang dialami rakyat Palestina dan menjadi salah seorang penentang gigih masyarakat zionisme. Hingga kematiannya, al-Faruqi berpendapat bahwa negara Israel harus dirobohkan, dan rakyat Palestina berhak melakukan aksi melawan mereka.

Ismail Raji Al-Faruqi mengenyam pendidikan yang menjadikannya menguasai tiga bahasa (Arab, Prancis, dan Inggris) dan memberinya sumber-sumber intelektual multibudaya yang memberikan informasi bagi kehidupan dan pemikirannya. Al-Faruqi belajar di sekolah masjid, sekolah Katolik Prancis, College des Freres(St. Joseph) di Palestina.

Hampir semua bidang ilmu dijelajahinya. Dari etika, seni, ekonomi, metafisika, politik, sosiologi, dan lain-lain, semua ia kuasai dan kemudian disajikan dalam bentuk komprehensif.

Di antara karyanya yaitu: On Arabism, Urabah and Religions, An Analysis of the Dominant Ideas of Arabism and of Islam as its Highest Moment of Conciousness (1962). Usul as-Sahyuniyah fi ad-Din al-Yahudi (Analytical Study of the Growth of Particularism in Hebrew Scripture (1964). Christian Ethics, Historical Atlas of the Religions of the World (1967.

Baca Juga:  Kisah Waliyullah, Imam Ja’far Shadiq; Karomah dan Kalam Hikmahnya

Kemudian dalam proses islamisasi pengetahuan, Ismail Raji al-Faruqi menegaskan bahwa esensi pengetahuan dan kebudayaan dalam Islam adalah Tauhid. Tauhid sebagai prinsip penentu pertama dalam Islam, kebudayaannya, dan sainsnya.

Tauhid inilah yang memberikan identitas kedalam peradaban Islam, yang mengikat semua unsurnya bersama-sama dan menjadikan unsur-unsur tersebut sebagai suatu kesatuan integral dan organis.

Dalam mengikat unsur yang berbeda tersebut, tauhid membentuk sains dan budaya dalam bingkainya tersendiri. Ia mencetak unsur-unsur sains dan budaya tersebut agar saling selaras dan saling mendukung. Tanpa harus mengubah sifat-sifat mereka, esensi tersebut mengubah unsur-unsur yang membentuk suatu peradaban, dengan memberikannya ciri baru sebagai bagian dari peradaban tersebut.

Sebuah gagasan tantang Islamisasi ilmu pengetahuan berangkat dari kondisi yang selalu memperhatikan dunia Islam. Pada masa modern ini, ilmu pengetahuan yang lebih mempunyai kecenderungan ilmu  pengetahuan sekuler yang tumbuh di dunia Islam.

Kiprah dan perjuangan Faruqi tidak bisa terlepaskan darri konteks perkembangan sosio politik dan sejarag panjang Negara Palestina. Ia sangat semangat dalam mensinyalir penyebab tertinggalnya dunia Islam dibandingkan dunia barat modern.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Membincangkan Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib

Hal ini menurut beliau salah satu sabab musababnya adalah dalam pendidikan Islam yang mengalamai krisis identitas akibat filsafat dan menyebabkan terbelahnya sebuah sistem dalam pendidikan Islam.

Dari latar belakang tersebut Ismail Raji Al-Faruqi  muncul dan membawa sebuah pemahaman tentang islamisasi ilmu pengetahuan. Pemikirannya dalam ranah tersebut membuat para cendikiawan muslim modern untuk melakukan upaya redefinisi dan reislamisasi terhadap ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa modern dengan konsep-konsep ideal ilmu pengetahuan dalam bingkai filsafat Islam.

Di Indonesia juga terdapat pengaruh pemikiran Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas Al-Faruqi. Terutama mempengaruhi beberapa tokoh pembaharu Islam kontemporer Indonesia. Ada kemungkinan bahwa kecenderungan berupa semangat pengintegrasian ilmu yang terjadi belakangan ini dibeberapa perguruan tinggi Islam adalah efek secara langsung ataupun tidak langsung dari Islamisasi ilmu pengetahuan Al-Faruqi pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an dan pengaruh beberapa pemikir muslim lainnya yang satu ide dengan Al-Faruqi.

Baca Juga:  Karomah Kyai Kholil, Sebab KH Hasyim Asyari Ngaji 120 Tahun

Islamisasi ilmu pengetahunan akan menjadi sebuah langkah besar jika Universitas-Universiatas dan sekolah-sekolah tinggi di dunia Islam mengagendakan pelajaran-pelajaran wajib mengenai budaya islam sebagai program studi pokok bagi semua pelajar dan mahasiswa.

Hal ini membuat para pelajar merasa yakin bahwa pentingnya kebudayaan islam sehingga mereka menaruh kepercayaan kepada diri sendiri dan dapat mengahadapi serta mengatasi kesulitan-kesulitan mereka di masa kini. Oleh sebab itu, perlu adanya mengintergrasikan  ilmu pengetahuan dengan Islam.

M. Dani Habibi, M. Ag