Jangan Asal! Inilah Adab dan Tata Cara Buang Hajat dalam Islam ala Rasulullah

Adab dan Tata Cara Buang Hajat ala Rasulullah

Pecihitam.org – Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik. Padanya tidak ada kecacatan sedikitpun. Setiap sabdanya menjadi tuntunan kebenaran, dan setiap ketetapannya adalah petunjuk dari Allah. Dan perilaku beliau merupakan praktek nyata dari luhurnya agama ini. Maka dari itu, sekilas akan kami bagikan tentang adab dan tata cara buang hajat ala beliau, Rasulullah SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam agama Islam segala sesuatunya telah diatur dengan amat sangat baik, sehingga memudahkan bagi penganutnya untuk melakukan segala hal dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan petunjuk dan pedoman agama.

Dan hampir semua apa yang kita lakukan dalam hidup ini bisa berpeluang sebagai ibadah, bukan hanya shalat, berpusa, bersedekah dan sebagainya, bahkan ketika kita membuang hajat bisa dicatat sebagai ibadah jika kita melakukannya sesuai adab dan tata cara buang hajat walaupun itu sekilas hanya perilaku remeh dan bahkan ‘jorok’.

Membuang hajat dapat kita jadikan sebagai ibadah mana kala kita mengikuti tuntunan Rasulullah. Ketika kita mengikuti tuntunan Rasulullah, secara otomatis kita telah melakukan kesunnahan. Dari situlah, kita dapat mengartikan bahwa yang kita kerjakan adalah suatu ibadah.

Perlu kita ketahui ada beberapa tata cara buang hajat ala Rasulullah yang perlu kita ikuti dan jadikan standar dalam hal ini.

Pertama, Melepas Cincin

Baca Juga:  Doa Untuk Orang Naik Haji, Adakah Lafal Khusus dari Alqur’an dan Hadis?

Mengenai hal ini, ada riwayat yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ )  أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ وَهُوَ مَعْلُول

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi waSallam apabila masuk kakus (WC) beliau menanggalkan cincinnya. Diriwayatkan oleh Imam Empat tetapi dianggap ma’lul.

Kedua, Membaca Doa Masuk WC

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ قَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ )  أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَة

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk kakus beliau berdo’a: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal yang keji dan kotor.” Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.

Ketiga, Tidak menghadap Kiblat

Tentang ini terdapat riwayat yang bersumber dari Salman Al-Farisi


وَعَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: ( لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم “أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ” )  رَوَاهُ مُسْلِم وَلِلسَّبْعَةِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه ( لَا تَسْتَقْبِلُوا اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا )

Baca Juga:  Hukum Jasa Design Dengan Software Bajakan, Boleh Atau Tidak?

Dari Salman Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi waSallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil atau ber-istinja’ (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan atau beristinja’ dengan batu kurang dari tiga biji atau beristinja’ dengan kotoran hewan atau dengan tulang. (HR. Muslim)

Keempat, Duduk di atas Kaki kiri dan Merentangkan Kaki Kanan

وَعَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( عَلَّمْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْخَلَاءِ: ” أَنَّ نَقْعُدَ عَلَى اَلْيُسْرَى وَنَنْصِبَ اَلْيُمْنَى” )  رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ

Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi waSallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan kaki kanan. (HR. Baihaqi)

Kelima, Mengurut Kemaluan

وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ )  رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه

Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali.” (HR. Ibnu Majah)

Keenam, Beristinjak

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ أَهْلَ قُبَاءٍ فَقَالُوا:إِنَّا نُتْبِعُ اَلْحِجَارَةَ اَلْمَاءَ )  رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ بِسَنَدٍ ضَعِيف وَأَصْلُهُ فِي أَبِي دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيّ

Baca Juga:  Menangani Kencing Bayi Perempuan Dan Laki-Laki

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah bertanya kepada penduduk Quba beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memuji kamu sekalian.” Mereka berkata: Sesungguhnya kami selalu beristinja’ dengan air setelah dengan batu. (HR. Al-Bazzar)

Ketujuh, Membaca doa Keluar WC

وَعَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ اَلْغَائِطِ قَالَ: “غُفْرَانَكَ” )  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَالْحَاكِم

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam jika telah keluar dari buang air besar beliau berdo’a: “Aku mohon ampunan-Mu.” (Diriwayatkan oleh Imam Lima. Hadits shahih menurut Abu Hatim dan Hakim)

Demikian yang bisa kami sharing berkaitan dengan adab dan tata cara buang hajat ala Rasulullah yang disatukan dari kitab-kitab hadis. Semoga bermanfaat.

Lukman Hakim Hidayat