Jangan Buat Hidup Dilema Seperti Makan Buah Simalakama, Masih Ada Pilihan Ketiga

Jangan Buat Hidup Dilema Seperti Makan Buah Simalakama, Masih Ada Pilihan Ketiga

Pecihitam.org – Seringkali kita mempersulit diri sendiri dengan membuat diri seolah-olah sangat penuh dilema seperti makan buah simalakama. Serba salah. Serba tidak enak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mau menikah, sering bingung untuk memilih antara dua. Dengan wanita shalihah tapi jelek atau dengan yang cantik tapi tidak shalihah. Padahal masih ada pilihan ketiga, yakni istri shalihah sekaligus cantik.

Mau kerja dengan penghasilan tinggi tapi jauh dengan keluarga atau dekat dengan keluarga tapi dengan penghasilan pas-pasan. Padahal masih ada pilihan ketiga, yakni kerja dengan penghasilan tinggi dan tetap dekat dengan keluarga.

Selepas SMA, mau kuliah, tapi tak bisa kerja. Mau kerja, tapi tak bisa kuliah. Begitulah…. dan seterusnya dan seterusnya. Memang pada suatu kondisi benar-benar dihadapkan pada dua pilihan yang dilematis.

Tapi tak jarang pula, sebenarnya ada pilihan lain yang justru opsi ideal. Hanya saja, itu kadang tak terpikirkan, karena pola pikirnya sudah selalu merasa dilematis.

Ini merupakan paradigma mengakar yang harus dibongkar. Bahwa Allah membentangkan pilihan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Cukuplah kita mengambil pelajaran dari apa yang menimpa Nabi Yusuf. Ketika terungkap kesalahan yang dilakukan Zulaikha karena telah menggoda Yusuf, maka seluruh negeri Mesir utamanya perempuan yang memang suka menggosip menjelek-jelekkan Zulaikha karena telah tergoda oleh pembantunya sendiri.

Baca Juga:  Hati-hati, Inilah 7 Perkara yang Bisa Datangkan Kesulitan Hidup

Kesal dengan gosip ibu-ibu, Zulaikha pun mengundang semua mereka untuk makan malam. Tujuannya adalah agar mereka tahu bahwa ketampanan Nabi Yusuf memang luar biasa.

Singkat cerita. Setelah semuanya berkumpul dan sedang menikmati makanan, didatangkanah Nabi Yusuf ke tengah-tengah mereka. Menjadi terpanalah mereka akan ketampanan Nabi Yusuf sampai-sampai tanpa sadar di antara mereka ada yang mengiris tangannya sendiri saat mengupas buah.

Mereka pun ikut menggoda Nabi Yusuf. Saat itulah, putra kesayangan Nabi Ya’kub berdoa senagaimana dalam Surat Yusuf ayat 33

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”

Dengan doa ini, Nabi Yusuf diselamatkan dari godaan para wanita. Tapi ia harus mendekam dalam penjara. Semua terjadi memang atas kuasa dan iradah Allah.

Baca Juga:  Tiga Nikmat Allah yang Harus Disyukuri Karena Tak Ternilai Harganya

Tapi doa beliau ini ada kaitannya dengan teman tulisan ini, di mana kadang seseorang karena kondisi sedemikian tertekan, akan menganggap hanya ada dua jalan pilihan untuk keluar dari masalah. Seperti inilah pula yang terjadi pada Nabi Yusuf – walau sekali lagi, semua ini sudah takdir Allah dengan sifat Ilmu-Nya.

Ketika Nabi diancam untuk dimasukkan penjara oleh para wanita, maka Nabi Yusuf lebih memilih untuk dimasukkan penjara padahal menurut Allah masih ada di pilihan ketiga, yakni selamat dari godaan wanita dan juga selamat dari zina.

Para ulama Tafsir pun umumnya, meminta kita mengambil pelajaran dari kisah dan doa Nabi Yusuf, yakni agar kita tahu bahwa masih ada pilihan ketiga di saat kita dihadapkan pada situasi dilematis.

فلنحرص اخوتى فى لله و نحن ندعى و لنتعلم من قصة سيدنا يوسف و لنطلب العفو و العافية اللهم امين

Maka perhatikanlah wahai saudara-saudara karena Allah bagaimana kita berdoa dan agar kita tahu dari kisah Sayyidina Yusuf serta kita memohon maaf dan keselamatan. Kabulkan, ya Allah.

Maka setelah ini, jangan buat dilema sendiri seolah-olah pada kondisi seperti makan buah simalakama. Jangan ada yang bilang: “Daripada kuliah di kampus dengan akreditasi C, mending saya tidak kuliah”. Tapi ubahlah dengan: “Ya Allah, saya ingin kuliah dan berilah aku kesempatan di kampus dengan akreditasi A”.

Baca Juga:  Jangan Pilih Kasih, Berlakulah Adil pada Semua Anak Agar Hidup Mereka Penuh Cinta

Karena saya dulu pernah punya teman yang berkata, “Daripada saya kuliah di kampus anu lebih baik tidak kuliah”. Dan sampai sekarang ia tidak pernah merasakan bangku kuliah padahal termasuk anak yang berbakat di saat teman-teman seangkatannya dengan kemampuan rata-rata bisa kuliah hingga lulus.

Faisol Abdurrahman