Jika Kau Inginkan Surga, Buatlah Kematianmu Sebagai Kebahagiaan yang Kekal

kematian yang indah

Pecihitam.org – Segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Itulah takdir Tuhan kepada setiap makhlukNya. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di diawali dari ketidakadaan, dan akan kembali kepada wujud asalnya. Itulah sebabnya, saat ruh ditiupkan ke dalam raga, kita akan berjalan ke arah kematian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kematian akan membuka dunia kekekalan. Dunia dimana seluruh kehidupan berjalan secara seharusnya. Tanpa adanya kepura-puraan apalagi sistem pengadilan yang timpang. Semuanya yang terjadi di sana merupakan wujud nyata pembalasan dari Allah swt kepada makhluknya. Hanya ada dua pilihan, menderita atau bahagia. Dan semua itu ditentukan oleh amal perbuatan yang selama ini kita lakukan di dunia.

Setiap manusia pasti berharap hidup bahagia. Menikmati segala rupa kenikmatan yang terangkum dalam sebuah definisi “surga”. Semua orang berlomba-lomba mendekatkan diri pada pencipta surga. Siang untuk bersedekah dan malam untuk sholat sunnah. Tidak lupa mereka meniatkan ibadah dengan kata-kata ikhlas, karena hanya kata itu yang bisa memberatkan timbangan amal.

Meskipun surga yang selalu mereka nantikan, ternyata ada kenyataan pahit bahwa ada beberapa manusia yang takut memasuki gerbang. Diantara mereka ada yang mengkhawatirkan kematian. Takut akan semua kesakitan pada sakaratul maut dan ada yang mengkhawatirkan kurangnya amal perbuatan yang mereka lakukan. Sehingga dari mereka menambahkan doa saat selesai beribadah agar diberikan umur panjang.

Baca Juga:  Kyai Wahab Hasbullah, Representasi Perjuangan Kaum Santri

Ragib al-Asfihani dalam kitab Adz-Dzariah ila Makarim as-Syariah menjelaskan 4 sebab manusia takut akan kematian. “Penyebab kesedihan atau ketakutan dalam mengahadapi kematian ada empat hal: Pertama, Kekhawatiran tidak akan merasakan nikmatnya perut kenyang dan terpuaskan nafsu libidonya. Kedua, takut harta yang ditinggalkannya menjadi hilang atau ludes. Ketiga, disebabkan ketidaktahuan akan masa depannya. Keempat, ketakutan disebabkan banyaknya maksiat atau dosa yang telah dilakukan.”

Dari sini dapat dipahami bahwa ada ketakutan lebih pada manusia saat dirinya tidur di atas tanah. Mereka takut akan siksaan serta azab yang tidak henti-hentinya menyerang. Ada rasa khawatir bercampur pasrah menjalani setiap kehidupannya. Mereka hanya bisa berdoa dan meminta ampunan atas segala dosa yang dilakukannya.

Baca Juga:  Silaturahmi Secara Virtual: Trend Masa Kini yang Belum Ada di Zaman Nabi

Namun ada diantara mereka yang mengabaikan ancaman siksaan yang datang setelah kematian. Mereka percaya bahwa siksa Tuhan itu nyata, namun dalam menjalani kehidupannya tidak henti-hentinya mereka melaksanakan tindakan kejahatan. Mereka menuruti semua perintah setan yang sebenarnya menggiring mereka kedalam kematian yang sangat menyakitkan.

Terkadang ada rasa khawatir dalam hatinya ketika mereka terjebak dalam kubangan maksiat. Ada rasa bersalah, ada rasa takut, akan tetapi semua itu lenyap saat setan menggoda. Dirinya hanyut dalam godaan, dirinya lebur dalam kemaksiatan, sehingga lupa akan Tuhan dan tidak sadar akan kemaksiatan apa yang telah dia lakukan.

Dengan itu semua, hendaklah mereka bertaubat, hendaklah mereka mendekat, kepada Tuhan yang satu dan kepada Tuhan yang mau berbelas kasih kepadanya. Percayalah cinta Allah begitu besar kepada makhluknya. Dosa yang begitu banyaknya akan diampuni oleh Allah swt.

Tentu tobat itu akan terlaksana bila kita selalu mengingat kematian. Karena kunci ketakutan ada pada kematian itu sendiri. Orang yang senantiasa mengingat kematian akan senantiasa pasrah dan qanaah. Berjuang sepenuh tenaga menghapus segala dosa yang ada pada dirinya. Kemudian dia akan mencapai jalan sejati dengan pendekatan-pendekatan spiritual kepada Tuhannya.

Baca Juga:  Memperingati Hari Toleransi Internasional 2019

Jika kau menginginkan surga, buatlah kematianmu sebagai kebahagiaan yang kekal. Persiapkan sebanyak mungkin amal kebaikan untuk menuju kehidupan yang menyenangkan. Merindu surga berarti merindu kematian yang menyenangkan. Itulah yang menjadi tujuan kita. Dan semoga kita hidup bersama dalam kenikmatan surga.  

Muhammad Nur Faizi