Karomah Syaikh Nawawi Al Bantani; Tidur di Lidah Ular Hingga Jasad yang Tetap Utuh

Karomah Syaikh Nawawi Al Bantani; Tidur di Lidah Ular Hingga Jasad yang Tetap Utuh

Pecihitam.org– Jika para nabi dan rasul oleh Allah diberi dibekali mukjizat dalam menghadapi kaumnya, maka para wali pun oleh Allah dianugerahi karomah. Namun bedanya, jika mukjizat wajib ditampakkan kepada kaumnya, sedangkan karomah tidak wajib ditampakkan kepada orang lain bahkan para wali lebih senang jika karomahnya tidak diketahui oleh orang lain. Berikut kami ceritakan lima karomah yang dimiliki oleh Syaikh Nawawi Al Bantani.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, Tidur di Atas Lidah Ular Raksasa
Diceritakan, pada suatu malam di mana Syaikh Nawawi Banten melanjutkan perjalanan ke Mekkah, beliau kelelahan dan mencari sebuah gubuk yang tak berpenghuni. Setelah mencari-cari akhirnya beliau menemukan lampu yang sangat redup dan kecil.

Akhirnya beliau tiba disuatu tempat tersebut dan memulai untuk beristirahat. Dalam benak beliau bertanya-tanya “Kok rasa-rasanya dasar saung ini sangat lembut dan empuk ya?”. Namun saking lelahnya, beliau tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut. Tidurlah beliau dengan meletakan tongkatnya dengan posisi berdiri.

Pagi pun datang dan beliau terbangun dari tidurnya untuk shalat dan kemudian beranjak melanjutkan perjalananya. Setelah kurang lebih tujuh langkah dari tempat peristirahatanya semalam, beliau menyentuh darah dari ujung tongkatnya. Dengan heran kemudian beliau menoleh ke belakang dan menemui ular raksasa yang sedang beranjak pergi. 

Ternyata tanpa disadari semalem beliau tidur di atas lidah seekor ular raksasa dan tongkatnya yang berposisi berdiri tersebut merintangi kedua gigi ular itu sebagai penyangga hingga membuat ulat itu berdarah.

Beliau pun langsung menyebut kalimat istighfar dan memuji kebesaran Allah SWT dengan mengucapkan kalimat kebesaran-Nya.

Kedua, Telunjuknya Berfungsi Sebagai Lentera
Pada suatu waktu Syaikh Nawawi Banten mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk beliau yang dijadikan sebagai lampu. Saat itu dalam sebuah perjalanan, karena tidak ada cahaya dalam tendanya sementara ilmu tengah kencang mengisi kepalanya.

Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah agar telunjuk kirinya dapat menjadi lentera agar dapat menerangi jari kanannya yang digunakan untuk menulis itu.

Baca Juga:  Karomah Syaikh Nawawi al-Bantani, Menjadikan Telunjuk Sebagai Lampu

Kitab yang kemudian lahir dengan nama Murâqi al-‘Ubudiyyah Syarah Matan Bidâyah al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali itu harus dibayar beliau dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri beliau itu membawa bekas yang tidak hilang.

Ketiga, Melihat Ka’bah dengan Telunjuknya
Karomah beliau ini terjadi saat beliau masih remaja. Begini ceritanya. Dulu Syeikh Nawawi Banten kira-kira masih berusia belasan tahun pernah shalat di Masjid Pekojan, Jakarta Kota dekat kediaman Habib Utsman bin Yahya, seorang ulama dan Mufti Betawi.

Selesai shalat, Syaikh Nawawi menghampiri dan berkata kepada Habib Utsman dengan nada lemah lembut dan penuh hormat (kebetulan Habib Utsman berada di dalam masjid)

“Wahai Habib, yang saya hormati! Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

Jawab Habib: “Ya, ada apa anak muda? 

Begini Habib, “Masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah Utara)”.

Kata Habib Utsman, “Majsid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak (memang Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak)”

Kemudian, Syaikh Nawawi Banten dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat dan seketika itu juga ka’bah kelihatan dengan amat jelasnya di hadapan mereka berdua. 

Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk dan ingin mencium tangan Syeikh Nawawi al-Bantani, namun Syeikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium tangani oleh Habib Utsman bin Yahya, dan beliau berkata: 

“Wahai Habib yang mulia! Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib. Karena Habib adalah orang mulia dan keturunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa.

Mendengar kata-kata Syeikh Nawawi al-Bantani itu, kemudian Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badannya Syeikh Nawawwi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.

Baca Juga:  Sekilas Tentang Abu Al-Hasan Al-Asy'ari, Pendiri Ahlussunnah wal Jamaah

Keempat, Mengeluarkan Buah Rambutan dari Tanganya
Di Mekkah, Syaikh Nawawi Banten mendirikan tempat sekolah dengan murid yang lumayan banyak.

Suatu hari, beliau menjelaskan di hadapan segenap santrinya: “Sunnah Islam kalau berbuka puasa itu hendaknya memakan yang manis-manis terlebih dahulu. Kalau di sini terdapat buah kurma, ditempatku ada yang tidak kalah manisnya dengan kurma!

Santri-santri: ” Betul, Syaikh. Kalau di tempat kami kurma, lalu bagaimana dengan di tempat Syaikh yang tidak tumbuh buah kurma?”

Syaikh Nawawi berkata, “Sebentar”
Beliau langsung menyembunyikan tanganya ke belakang tubuhnya. Santri-santri pun sangat heran apa yang dilakukan gurunya tersebut dan terdengar di telinga para santri-santri suara seperti orang yang sedang mengambil buah-buahan dari pohonnya.

Kemudian Syaikh Nawawi menyuguhkan buah rambutan yang persis seperti baru diambil dari pohonnya. Santri-santri pun sangat terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh gurunya tersebut.

“Nah, ini yang aku makan pertama ketika berbuka puasa di tempatku. Silahkan dicicipi”. Kata Syaikh Nawawi sambil membagikanya kepada para santri di kelasnya mengajar.

Para santri pun langsung mencicipi dan sangat menikmati kemanisan buah rambutan yang diberikan gurunya itu

Kelima, Jasadnya Tetap Utuh hingga Kini
Karomah Syaikh Nawawi Al Bantani lainnya adalah jasadnya walupun sudah lama wayat masih tetap utuh.

Jadi begini. Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya.

Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti.

Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim.

Baca Juga:  Belajar Aqidah Kepada Syeikh Abdul Shomad Al Falimbani

Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek, masih harum dan tidak lapuk sedikitpun.

Sontak saja, kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil.

Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah dan yang paling aneh kuburan beliau satu-satunya kuburan yang tumbuh rumput bahkan rumputnya hijau dan subur. Masya Allah!

Demikianlah lima karomah Syaikh Nawawi Al Bantani, guru dari kaum muslimin Indonesia bahkan dunia. Sebenarnya karomah beliau masih banyak, tidak terbatas pada yang disebutkan dalam tulisan ini. Tapi ringkasan kisah karomah beliau ini semoga dalam hati kita bahwa para wali Allah akan dijaga dan dimuliakan selalu oleh-Nya walupun sudah wafat. Wallahu a’lam!

Faisol Abdurrahman