Kiai Bisri Syansuri dan Pemikiran Gendernya

Kiai Bisri Syansuri dan Pemikiran Gendernya

PeciHitam.org – Berbicara tentang gender, kita perlu mempelajari perjuangan ulama-ulama terdahulu dengan memahami pemikiran mereka sebelum memahami pemikiran yang lebih moderat di era ini. Untuk itu perlu kita mengetahui Kiai Bisri Syansuri dan pemikiran gendernya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebelum mengetahui Kiai Bisri Syansuri dan pemikiran gendernya, berikut biografi singkatnya.

KH. Bisri Syansuri adalah ulama yang sangat dihormati. Dalam mengambil keputusan, ia selalu berhati-hati sehingga keputusan terhadap suatu kasus itu menjadi keputusan yang bijak dan mengandung kemaslahatan bagi umat. KH. Bisri Syansuri adalah adik ipar sekaligus sahabat karib dari KH. A. Wahab Hasbullah dan juga santri dari KH. M. Hasyim Asy’ari.

Namanya pun harum dan populer di kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan namanya sering juga dikenang ketika orang-orang melihat sebuah pesantren yang kini berdiri kukuh di Jombang, Jawa Timur. Pesantren Mambaul Ma’arif di Denanyar itulah hasil perjuangan KH. Bisri Syansuri dalam dakwah Islam. Dengan kata lain, dia juga turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kendati begitu, KH. Bisri Syansuri juga seorang ulama yang bergerak aktif dalam membesarkan NU, sebagaimana perjuangan KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Tidak sekadar dalam perjuangan agama Islam, KH. Bisri Syansuri juga turut membawa NU dalam gencar politik, baik di era Orde Lama maupun Orde Baru.

Adapun buah pemikirannya bisa ditangkap melalui pesantren yang dibangunnya di Denanyar. Ketika itu, pesantren tersebut membuka kelas untuk para santri perempuan. Dengan demikian, menggunakan kacamata fikih yang mendalam, KH. Bisri Syansuri melakukan ijtihad dan hasilnya bisa diterima oleh khalayak. Bahkan, hal itu menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan pesantren.

Baca Juga:  Nasiruddin Ath-Thusi, Sang Pemikir dan Astronom Muslim Terkemuka dari Persia

Untuk lebih jauh dan mendalam, mari membaca sepak terjang KH. Bisri Syansuri, ulama yang mencintai hukum fikih ini.

Pada tahun 1912 sampai 1913 Kiai Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekah bersama Abdul Wahab Hasbullah. Di kota suci  itu, mereka belajar kepada Syekh Muhammad Bakir Syekh Muhammad Said Yamani Syekh Ibrahim Madani, dan Syekh Al-Maliki. Juga kepada guru-guru Kiai Haji Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Haji Ahmad Khatib Padang dan Syekh Mahfudz Trema.

Sebelumnya berangkat ke Mekah, Bisri muda telah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di pesantren inilah ia kemudian bertemu dengan Abdul Wahab Hasbullah, seorang yang kemudian menjadi kawan dekatnya hingga akhir hayat di samping sebagai kakak iparnya.

Lalu Bisri berguru kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Di pesantren itu, ia belajar selama 6 tahun. Ia memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama mulai dari kitab fiqih Al-Zubad hingga ke kitab-kitab hadits seperti Bukhari dan Muslim.

Sepulang dari Mekkah, Kiai Bisri mendirikan pesantren di Denanyar, Jombang. Pada tahun 1919 KH Bisri Syansuri membuat percobaan yang sangat menarik yaitu dengan mendirikan kelas untuk santri perempuan di pesantrennya. Para santri putri itu adalah anak tetangga sekitar yang diajar di beranda belakang rumahnya.

Baca Juga:  Upaya Imam Qushayri dalam Meluruskan Penyimpangan Kaum Sufi

Menurut Gus Dur, langkah Kiai Bisri tersebut terbilang aneh di mata ulama pesantren, namun itu tidak luput dari pengamatan gurunya yaitu Kiai Hasyim Asy’ari yang datang di kemudian hari melihat langsung perkembangan kelas perempuan tersebut.

Bisa dikatakan pula bahwa Pesantren Denanyar di bawah pengasuhan Kiai Bisri itulah pesantren pertama di Jawa yang menerima santri-santri perempuan. Hal itu pun kemudian mencoba ditiru oleh banyak pesantren di zaman modern ini. Namun demikian, ujung-ujungnya adalah pemikiran Kiai Bisri tentang persoalan gender.

Selama ini, masyarakat umum hanya mengenal R.A. Kartini sebagai pejuang emansipasi. Secara usia, R.A. Kartini memang lebih dulu lahir dan lebih dulu memiliki peran. Akan tetapi, Kiai Bisri justru tidak menggebrak. Dia membuka kelas khusus untuk santri putri belajar di rumahnya sendiri dan bahkan dia sendiri yang turun tangan langsung dalam pengajarannya.

Pada awalnya, santri-santri perempuan yang belajar kepadanya adalah anak-anak dari msyarakat sekitar. Namun lambat laun, berdatanganlah santri-santri perempuan dari berbagai daerah ke Denanyar. Hal itu merupakan terobosan baru dan mendapatkan sambutan yang luar biasa bagi dunia pesantren pada umumnya meskipun bahwa awalnya dipandnag aneh.

Tidak lepas bahwa terobosan tersebut adalah hasil pertimbangannya secara matang. Kiai Bisri melihat bahwa perempuan justru menjadi pihak yang berada di kelas dua. Dengan begitu, ada diskriminasi kepada kaum perempuan. Kia Bisri pun mengahancurkan sekat tersebut dan menurutnya, perempuan juga berhak untuk belajar agama Islam secara lebih mendalam karena Islam itu agama untuk seluruh umat bukan hanya untuk kaum laki-laki.

Baca Juga:  Yuk, Lebih Dekat Mengenal Utsman bin Affan, Sahabat Nabi Bergelar Dzun Nurain

Namun demikian, tentu saja Kiai Bisri memasang batasan-batasan tertentu dalam mengajar dan menerima santri-santri perempuan di pesantrennya. Kelas antara santri laki-laki dan santri perempuan pun harus dipisah. Jika para santri laki-laki menempati surau sebagai tempat belajarnya, maka para santri perempuan menempati bagian belakang rumah Kiai Bisri. Dengan perspektif fikih, Kiai Bisri membangun batasan-batasan tersebut, sehingga apa yang dilakukan itu tidak menyalahi syariat Islam.

Dari apa yang telah dilakukan oleh Kiai Bisri tersebut, nyatalah bahwa Kiai Bisri melihat suatu kasus dengan cara yang bijak untuk menuju kemashlahatan. Sebagaimana pembukaan kelas perempuan di pesantrennya, hal itu menunjukkan bahwa Kiai Bisri ternyata mampu mengambil kemashlahatan dari sebuah terobosan baru di dunia pesantren.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *