Kiai Said: Pengurus NU Harus Bisa Membaca dan Paham Al-Qur’an

Kiai Said

Pecihitam.org – Ada banyak tantangan bagi pengurus Nahdlatul Ulama (NU) saat ini. Oleh karena itu, pengurus NU harus kembali meneladankan konsep dakwah utama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di hadapan ribuan peserta Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur di Pesantren Nurut Taqwa, Cemoro, Balak, Songgon, Jumat, 13 September 2019.

“Fondasi utama dakwah Rasulullah SAW adalah mengajarkan kitab suci Al-Qur’an kepada para Sahabat,” kata Kiai Said, dikutip dari situs resmi NU, Jumat, 13 September 2019.

 Lanjut Kiai Said mengatakan, meski tidak dapat membaca Al-Qur’an kondisi Sahabat Rasulullah ketika itu melalui majelis ilmu, Rasulullah ajarkan ayat suci Al-Qur’an secara bertahap.

“Banyak orang yang masuk islam sebab mendengarkan keindahan Al-Qur’an, sebagaimana yang dialami oleh Sayidina Umar bin Khattab,” terangnya.

Baca Juga:  Pelanggaran HAM Israel Terhadap Warga Suriah di Dataran Tinggi Golan Dikecam

Kiai Said lanjut menceritakan, saat itu Umar baru turun dari perburuan padang pasir dengan kondisi marah.

“ Pintu rumah dibuka oleh Umar, dia menemui saudara perempuan kandungnya (Fatimah bin Khatab) sedang membaca Al-Qur’an pada awal surat Tãhã,” kata Kiai Said.

“Keindahan dan kedalaman makna dari ayat suci yang dibacakan oleh saudara perempuannya itu, membuat Umar lemas, tensi marah turun drastis, dan berfikir. Bahwa benar Al-Qur’an diturunkan tidak membikin kamu menjadi susah. Melainkan diturunkannya Al-Qur’an sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Tuhan Yang Maha Pemurah,” lanjut Pengasuh Pesantren ats-Tsaqafah ini.

Saat itu juga, kata dia, kediaman Nabi didatangi dan pintu rumah diketuk oleh Umar. Ditemuinya Rasulullah sedang memimpin majelis ilmu. Disaksikan masuknya Umar kepada Agama Islam oleh Nabi dan puluhan Sahabat yang hadir.

Baca Juga:  Buya Syakur: Terjadi Pergeseran Fungsi Masjid, dari Pusat Peradaban Jadi Tempat Ujaran Kebencian

Maka dari itu, Kiai Said mengimbau agar pengurus NU harus dapat membaca dan memahami Al-Qur’an secara mendalam, supaya senantiasa menjalankan dakwah yang penuh dengan rahmat, ajakan, dan rangkulan sebagaiman telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, dan bukan sebaliknya.

“Selepas Sahabat mampu membaca ayat suci Al-Qur’an, kata pria bersongkok hitam itu, ditingkatkannya pendidikan oleh Nabi dengan pembentukan karakter atau character buiding,” ujarnya.

“Setiap manusia memiliki dua nafsu. Yakni nafsu ghadabiyah dan nafsu syahwatiyah. Oleh Rasulullah, dijadikan dua nafsu tersebut sebagai himmah (niatan yang kuat) dan azimmah (tekad yang kuat). KH Hasyim himmahnya besar, KH Wahid Hasyim himmahnya besar, juga termasuk Wali Songo memiliki himmah yang besar. Sehingga menjadi orang NU itu harus kuat, jangan gampang menyerah,” sambungnya.

Baca Juga:  PBNU Minta Masyarakat Jangan Tolak Jenazah Pasien Corona

Maka dari itu, ia tidak sependapat dengan orang lain yang menilai cinta dunia dan rakus kepada saudara kita yang kaya.

“Selama memiliki niatan, cara, dan tujuannya yang benar dalam  mencari dunia benar, maka kita tidak bisa menilai seperti itu. Jadi pengurus NU itu harus kaya, kuat, dan pintar,” tegasnya.

“Setelah kedua tahapan tersebut, barulah yang terakhir diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan. “Jadi begitu pak, tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan oleh para pengurus NU kepada para jamaah. Sebagaimana yang telah dilaksanakan Rasulullah kepada sahabatnya. Pertama dipahamkan Al-Qur’an, pembentukan karakter, dan baru diajarkan ilmu-ilmu,” tutup Kiai Said.

Muhammad Fahri

Leave a Reply

Your email address will not be published.