Kiai, Santri dan Budaya Korupsi di Lingkungan Pesantren

Korupsi di Lingkungan Pesantren

Pecihitam.org – Kiai, Santri dan Pesantren adalah tiga komponen yang tidak bisa di pisahkan dalam konteks menuntut ilmu dalam lembaga agama. Santri yang mempunyai identitas sebagai murid dan kiai yang mempunyai identitas sebagai seorang guru.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dua komponen ini tidak bisa di piesahkan. Tentu kita mengetahui bahwa, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Agus Sunyoto pernah mengatakan bahwa Pesantren adalah tempat yang mempunyai sistem pendidikan tradisional dan sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan dulu,

Kiai sebagai seorang tokoh dalam hal ini saya menyebutnya sebagai Agend dalam struktur sosial menjadi sosok yang mempunyai peran penting dalam pengambangan lembaga dan masyarakat di dalammnya.

Kiai yang mempunyai banyak hak, dan kebijakan-kebijakan yang tentu tidak selalu di terima oleh para santrinya, seperti contohnya biaya. Biaya menjadi faktor penting dalam suatu lembaga. Banyak kita temui ketika masyarakat hendak ingin memasukan anakanya kedalam sebuah pesantren.

Faktor pertama yang dilihat adalah biaya. Semakin biaya pesantren mahal maka semakin bagus pula fasilitas yang diberikan. Namun bagaimana jika biaya mahal namun tidak sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Disinilah munculnya berbagai pikiran dalam benak para wali santri.

Baca Juga:  Pesantren dan Masa Depan Moderasi Beragama di Indonesia

Dimana alokasi dananya ?. Bisakah suatu lembaga transparan dalam pembiayaan ?, apa mungkin ada dana dikorupsi ?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering muncul dalam benak para wali santri. Sehingga dalam tulisan kali ini, saya akan sedikit menjelaskan mengenai kasus tersebut.

Disaat rejim Orde baru mulai menuai keruntuhannya dan lahirnya era transisi di negeri ini, yang ditandai oleh liberalisme politik, ternyata praktik korupsi tidak jauh berbeda. Alih-alih berkurang, justru korupsi terjadi semakin marak. Praktik korupsi mengalami proses transformasi seiring dengan pergeseran pusat kekuasaan.

Korupsi ibarat sebuah lingkaran setan, tak jelas ujung pangkalnya. Korupsi juga sudah menjadi bagian budaya masyarakat, melibatkan hampir semua sektor dan dilakukan siapapun, tak peduli predikat yang disandangnya. Pejabat, rakyat biasa, bahkan oleh seorang kiai sekalipun.

Ibarat penyakit, korupsi di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam ini sudah terlanjur kronis. Dahulu Ulama atau Kiai benar-benar kawan masyarakatnya menjadi tum-puan, tempat bertanya dan meminta pertolongan. Begitupun sebaliknya, Kiai yang dipuja dan dihormati masyarakat itu memang mencintai masyarakatnya, dan seperti mewakafkan dirinya untuk mereka.

Ulama atau Kiai yang termasuk golongan mereka yang melihat masyarakat dengan mata kasih sayang. Memberikan pelajaran bagi yang bodoh, membantu yang lemah, menghibur yang menderita dan seterusnya.

Baca Juga:  Perlunya Bermazhab Bagi Umat Islam Akhir Zaman, Terutama yang Awam

Namun, beberapa tahun terakhir ini ulama yang demikian itu mulai sedikit kita temukan, kita malah tidak jarang menemukan ulama-ulama yang berebut kekuasaan misalnya menjadi anggota dewan, bupati, gubernur bahkan sampai presiden.

Masyarakat pun dibuat bingung, dalam kondisi krisis multi dimensi, saat ini masyarakat tak punya teman, tempat bertanya, menaruh harapan pun mereka kebingungan. Dimana ulama yang selama ini dijadikan guru tempat curhat dan meminta pertolongan sekarang meninggalkannya.

Tidak disadari bahwa perilakunya tersebut akan memunculkan konflik horizontal masyarakat. Kemudian siapa lagi yang akan mengendalikan masyarakat? bahkan bangsa ini? jika para ulama ramai-ramai bermain politik atau menjadi tokoh politik.

Tidak hanya bermain di dalam politik saja. Banyak kita temui bahwa pesantren menjadi salah satu lahan subur untuk dijadikan ajang bisnis. Dalam setiap bisnis, tentu seorang yang punya modal tidak mau dirugikan. Ia harus merasa untung meskipun dalam keadaan terpuruk sekalipun.

Hal demikian tentu bisa kita lihat di lingkungan kita sekitar, banyaknya Pesantren modern berdiri. Pesanren yang mengadopsi pelajaran modern ( sekolah ) dan sistem tradisional ( salaf ). Dua komponen ini yang sekarang menajadi program jitu untuk mengiklankan kepada khalayak publik.

Baca Juga:  Islam di Pesantren, Tak Seperti Islam di Dunia Maya

Peran kiai dan Nyai sebagai sebuah agen yang berpengaruh terhadap santri dan wali. Menjadikan pusat perhatian oleh masyarakat. Baik dalam segi positif maupun negatif. Perilaku (agend) dalam berpolitik akan selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan/tujuan.

Kemudian banyak orang mengatakan bahwa kekuasaan itu cenderung korup karena mereka selalu melakukan kompromi-kompromi politik yang terselubung dan masyarakat tak mengerti, disamping transparansi yang ada di birokrasi kita belum begitu berjalan atau memang sengaja di buat untuk kepentingan kekuasaan.

M. Dani Habibi, M. Ag