Kisah Al Azhar Tidak Jadi Tutup Berkat Presiden Soekarno dan Peci Hitamnya

al azhar tidak kadi tutup berkat Soekarno

Pecihitam.org – Dalam suatu kesempatan Fadhilatu Shaikh DR. Ali Jum’ah Muhammad ‘Abdul Wahab, menceritakan tenntang jasa besar presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno menyelamatkan AL Azhar. DR Ali Jum’ah adalah, Mufti Besar Mesir periode 2003 – 2013. Beliau lahir pada 3 Maret 1951 di Provinsi Bani Suwayf di Mesir.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam sebuah acara yang disiarkan di TV Mesir beliau menceritakan sebuah catatan sejarah tentang al Azhar. Syekh Ali Jumah mengatakan dulu ada Ahmad Soekarno yaitu seorang Presiden RI pertama yang dikenal seorang sosialis, tidak menganut sistem Islam sosialis, bahkan ia menganut banyak system termasuk Komunis. Ahmad Soekarno bersahabat karib dengan Presiden Abdul Nasser dan mereka berdua sama-sama saling menghormati.

Ketika Presiden Abdul Nasir dulu melakukan revolusi Sistem permerintahan Mesir dari sistem monarki menjadi sistem Republik suatu ketika dia berfikir untuk menutup al-Azhar dan kemudian mau digantikan menjadi bangunan lain.

Kabar rencana tersebut terdengar sampai ke telinga presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Soekarno akhirnya tidak tinggal diam, dalam kunjungannya ke Mesir ia langsung menemui Gamal Abdul Nasir dan bertanya mengenai alasan penutupan Al Azhar

“Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al-Azhar? Ya Gamal, Al-Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami orang Indonesia mengenal Mesir itu justru karena ada Al-Azhar,” kata Presiden Soekarno kala itu.

Baca Juga:  Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Kisah Nabi Yusuf Perspektif Quraish Shihab

“Ya, mau bagaimana lagi?” jawab Gamal.

“Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan. Anda wajib menata kembali Al-Azhar, mendukungnya, dan mengembangkannya, bukannya menutup,” imbuh Soekarno.

Percakapan singkat tersebut sangat membekas sehingga membuat Presiden Gamal Abdel Nasir mengurungkan niatnya dan mengamini pandangan sahabatnya Soekarno. Bahwa memang ada ikatan kuat antara Mesir dengan Al-Azhar, keduanya sama-sam penting dan tidak dapat dipisahkan.

Perbincangan ini terjadi sekitar tahun 1959. Lalu Abdul Nasir memanggil Soelaiman Hosen dan Said Aryam agar memproses terbitnya undang-undang no 103 tahun 1961. Yaitu tentang pengembangan Al Azhar agar lebih dikenal oleh dunia Internasional.

Pada klausa pertama undang-undang tersebut adalah Al Azhar menjadi rujukan dunia Islam tidak hanya di Mesir namun seluruh dunia. Kemudian Abdul Nasir membuat Majelis Tinggi Urusan Keislaman dan Majalah Mimbar Islam serta mendirikan Radio Al Quran al Karim. Semuanya berkat Presiden Soekarno dari Indonesia.

Akhirnya, hingga kini Universitas Al-Azhar tetap berdiri kokoh dan menjadi rujukan umat muslim untuk mempelajari ilmu keislaman. Presiden Soekarno pun dianugerahkan gelar kerhormatan, Doktor Honoris Causa pada bulan April 1960.

Baca Juga:  Antisipasi Penyebaran Corona, Dewan Ulama Al-Azhar Liburkan Shalat Jumat

Kisah Soekarno dan Abdul Nasir tersebut bukan saja menjadi simbol hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir, namun juga sebagai bukti nyata bahwa betapa Ir Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia begitu dihormati dan dihargai oleh masyarakat Mesir.

Bahkan untuk menghormatonya Pemerintah Mesir mengabadikan nama Soekarno sebagai nama jalan di Distrik Agouza, Kairo Barat, yakni Syari’ Ahmed Sokarno atau Jalan Ahmad Soekarno.

Selain namanya dijadikan nama jalan, juga doiabadikan menjadi nama buah, yakni Mangga Soekarno. Konon nama manga tersebut disematkan karena, Presiden Soekarno lah yang pertama kali membawa bibit buah itu.

Begitu cintanya rakyat Mesir dengan Presiden Soekarno begitu sampai Ia dikenal dengan Peci hitamnya yang khas. Maka jangan kaget jika kamu datang ke Mesir dan memakai Peci hitam, orang-orang biasanya akan memanggil dengan sebutan Ahmed Sokarno.

ahkan begitu terkenalnya peci hitam dengan sosok Soekarno, Presiden Gamal Abdul Nasir dan Anwar Saddat wakilnya pernah mengenakan peci tersebut secara bergantian ketika foto bersama Soekarno.

Hubungan antara Mesir dan Indonesia memang sudah melekat dari dulu dan tiak dapat terpisahkan, mengingat Mesir merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Baca Juga:  Penuh Makna, Ini Nasihat Seorang Kyai Sepuh Kepada Para Santri

Itulah mengapa Presiden Soekarno begitu mencintai dan menghormati Mesir. Sebaliknya, rakyat Mesir juga sangat menaruh hormat pada Soekarno hingga setiap kali ia datang kesana disambut dengan begitu meriah.

Bagi kita orang Indonesia sudah sepatutnya unyuk berbangga karena pernah punya seorang Presiden sehebat Ir. Soekarno yang buah pemikirannya tidak hanya bermanfaat baik untuk Indonesia namun juga untuk dunia. Salam pecinta Peci hitam Soekarno.

*Kisah ini diambil dari wawancara eksklusif Prof Dr. Ali Jumuah dengan beberapa terjemahan yang disesuaikan. Video aslinya bisa dilihat disini.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik