Inilah Beberapa Variasi Kisah Nabi Sulaiman yang Banyak Beredar, Termasuk Kisahnya dalam Borobudur

Inilah Beberapa Variasi Kisah Nabi Sulaiman yang Banyak Beredar, Termasuk Kisahnya dalam Borobudur

PeciHitam.org Dalam kisah Nabi Sulaiman, Kekayaan, kekuasaan dan pangkat duniawi tidak menghalangi beliau menjadi orang sholeh, sebagai Nabi. Bukti bahwa godaan kekuasaan dan kekayaan tidak menghalangi orang bertakwa kepada Allah SWT dan menjadi panutan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi Sulaiman menjadi raja bukan hanya bagi manusia, akan tetapi juga dipatuhi oleh makhluk lain seperti hewan-hewan dan jin. Kemampuannya berbicara dengan binatang adalah salah satu mukjizat beliau. Kisah Nabi Sulaiman bukan hanya diakui dalam sejarah Islam, akan tetapi Yahudi dan Nasrani juga mempunyai cerita tentang beliau.

Nabi Sulaiman, Dari Mana?

Kisah Nabi Sulaiman termaktub dalam 3 kitab Agama Samawi, Islam, Nasrani dan Yahudi. Karena nabi ini memang diklaim oleh 3 agama besar tersebut.

Nabi Sulaiman AS adalah anak dari Nabi Daud AS, seorang raja Bani Israel. Orang barat sering menyebut Sulaiman AS dengan nama Salomo atau Solomon, sedangkan Nabi Daud AS sering disebut sebagai King David.

Letak kerajaan Daud AS dan Sulaiman menurut pendapat yang mu’tamad atau kuat berada disekitaran Illiya atau Baitul Maqdis di Kota Yerusalem sekarang.

Kelahiran Nabi Sulaiman AS tidak ada kepastian dan catatan sejarah yang valid, akan tetapi berkuasa menjadi Raja pada tahun 975-an sebelum masehi. Beliau berkuasa menjadi Raja menggantikan Nabi Daud AS dan juga meneruskan dakwah risalah kenabian ayahnya.

Nabi Sulaiman AS diangkat menjadi Nabi pada tahun 970 SM. Urutan Nasab Nabi Sulaiman akan sampai kepada Nabi Ya’qub AS, yakni Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid bin Yahuza bin Ya’qub. Nabi Sulaiman bukan hanya mewarisi kerajaan Nabi Daud, akan tetapi juga mewarisi keilmuannya.

Kejeniusan Nabi Sulaiman

Akan tetapi Nabi Daud dan penerusnya,  Sulaiman AS lebih pandai dan bijak Sulaiman AS. Hal ini dinyatakan oleh KH Bahaudin Nursalim dalam membahas tafsir ayat;

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (٧٨) فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (٧٩

Saat Nabi Daud AS masih menjadi Raja, dan Sulaiman masih berumur belia, beliau sudah menunjukan kecerdasan seorang Nabi. Sulaiman AS sangat pandai dalam memutuskan masalah. Kisah pertama dalam ayat di atas menceritakan ada seorang Petani Tanaman mengadu kepada Raja Daud AS tentang tanaman rusak oleh kambing milik orang lain.

Baca Juga:  Karomah Syaikh Nawawi al-Bantani, Menjadikan Telunjuk Sebagai Lampu

Allah menjelaskan cerita ini dalam Surat Al-Anbiya ayat 78 yang artinya;

Artinya; “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu” (Qs. Al-Anbiyaa’: 78)

Daud AS dan Sulaiman mendengar keluhan dari petani Tanaman terkait perusakan tanaman oleh gembala kambing. Maka Daud AS memutuskan bahwa kambing-kambing perusak tanaman menjadi milik orang yang dirusak tanamannya.

Akan tetapi Sulaiman AS yang masih kecil mempunyai opini kebijakan berbeda. Kisah Nabi Sulaiman menghukumi pemilik kambing tetap memiliki hak atas kambingnya, akan tetapi untuk sementara waktu diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai kafarat atau denda atas perusakan tanaman.

Kambing dimanfaatkan oleh pemilik tanaman sampai perkebunan pulih menjadi sedia kala sebelum dirusak. Pemilik tanaman memiliki hak untuk mengambil manfaat dari kambing tersebut. Allah SWT menjelaskan dalam ayat 79 surat Al-Anbiyaa’.

Artinya; “Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya” (Qs. Al-Anbiyaa’: 79)

Riwayat Ibnu Abbas mengatakan bahwa keadilan Sulaiman AS mengungguli Daud AS. Riwayat Ibnu Abbas adalah sebagai berikut;

Nabi Sulaiman AS memutuskan kambing diserahkan Sementara kepada Pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Orang yang punya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. putusan Nabi Sulaiman AS adalah keputusan yang tepat”

Cerita lain diceritakan oleh Gus Baha dalam kajian Tafsir Jalalain, karya Imam Suyuthi bersaudara yaitu kisah 2 orang  Ibu kakak beradik yang mengadu kepada Daud AS.

Baca Juga:  Kisah Ummu Mahjan, Marbot Masjid Perempuan di Masa Rasulullah Saw

Dua orang ibu yang mengadu kepada Raja Daud AS menceritakan bahwa salah satu anak kecil mereka dimakan serigala di hutan. Dan sekarang mereka berdua saling mengklaim/ menganggap bahwa anak yang tersisa adalah anak mereka.

Daud AS dengan kedudukannya sebagai raja dan hakim mengalami kebuntuan, karena masing-masing ibu ngotot bahwa anak yang tersisa adalah anaknya. Sifat dasar Daud AS adalah seorang yang lugu dan pemurah hati, maka anak tersebut diberikan Ibu yang kecil.

Walaupun sesungguhnya anak yang dimakan serigala adalah anak ibu yang kecil. Sulaiman AS yang hanya melihat putusan ayahnya sebagai Hakim hanya berseloroh, Jika saya Hakimnya tidak akan membuat keputusan seperti itu (seperti putusan Daud AS).

Nabi Daud AS yang mendengar selorohan anaknya kemudian menunjuk Sulaiman sebagai hakim. Maka Sulaiman tampil sebagai hakim dan memutuskan untuk membawa pisau guna membagi Anak kecil menjadi dua dan masing-masing bagian diberikan kepada 2 ibu kakak beradik.

Suasana dramatis pembagian anak kecil menjadi dua bagian menjadikan Ibu yang tua menjadi tidak tega dan menangis menjadi-jadi. Akan tetapi reaksi berbeda ditunjukan Ibu yang Kecil, ia menunjukan reaksi datar melihat anaknya akan dibagi dua bagian.

Sulaiman AS mengamati dengan seksama reaksi masing-masing ibu tersebut. Kejanggalan terjadi ketika melihat reaksi ibu yang kecil tersebut. Tidak mungkin seorang ibu kandung akan tega melihat anaknya dibelah menjadi dua bagian.

Putusan Sulaiman AS akhirnya menyerahkan anak kecil kepada Ibu yang lebih tua, yang memang adalah ibu asli dari anak kecil tersebut.

Kisah Nabi Sulaiman dan Kontroversi Borobudur

Beberapa tahun belakangan muncul pendapat ngawur yang mengatakan pendapat bahwa Borobudur adalah bekas peninggalan Raja Sulaiman AS dan Ratu yang dikirimi surat adalag Ratu yang berkedudukan dicandi Boko Timur kota Yogyakarta.

Wilayah kerajaan Sulaiman berada di Sleman, Yogyakarta dan Borobudur adalah salah satu peninggalan Istana beliau. Dan cerita Negara Saba yang bertahta ratu Bilqis berada di Wonosobo Jawa Tengah. Gus Baha sangat menentang dan tidak menyetujui pendapat ini.

Ketidak-setujuan beliau karena bukti sejarah pendapat di atas sangat kacau dan ngawur. KH Bahaudin Nursalim mengatakan bahwa kepastian Daud dan Sulaiman AS adalah orang Palestina sekitaran Kota Yerusalem, Baitul Maqdis.

Baca Juga:  Kisah Abu Dzar al Ghifari Memeluk Agama Islam

Bukti sejarah lain juga menunjukan bahwa Nabi Sulaiman AS pernah mengirim surat kepada Ratu Bilqis yang berkedudukan di Negara Saba. Pengiriman surat kepada Ratu Bilqis merupakan hasil laporan burung Hud-Hud. Burung tersebut melaporkan bahwa di Saba ada Negara Makmur yang masih menyembah Matahari.

Nabi Sulaiman AS menyuruh burung Hud Hud mengantarkan sebuah surat kepada penguasa negeri Saba. Hud Hud membawa surat Nabi Sulaiman AS ke Negeri Ratu Balqis dan menjatuhkannya di istana Ratu Saba’, Hud-hud diperintahkan untuk mengamati apa respon mereka. Allah SWT mengabadikan dalam al-Qur’an,

قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ  أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (٢٧) اذْهَب  بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِه  إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا  يَرْجِعُونَ (٢٨

Surat dijatuhkan di Istana Ratu Balqis dan Hud Hud bersembunyi sambil mengawasi apa reaksi Balqis kemudian. Setelah surat terbaca oleh Ratu Balqis, segera dia kumpulkan para pembesar kerajaan untuk berunding apa yang harus mereka lakukan untuk merespon surat dari Sulaiman tersebut. Allah SWT berfirman,

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلأ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (٢٩) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣٠)  أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (٣١

Burung Hud Hud terus mengawasi reaksi dari Ratu Balqis dan para pembesar kerajaan Saba. Ratu dan para pembesar mengadakan rapat untuk membalas surat Sulaiman AS. Hasil keputusan Ratu Balqis yaitu mengirim utusan untuk mengantarkan hadiah kepada Raja Sulaiman AS di Yerusalem.

Letak keberadaan Kerajaan Saba’ bukanlah di Wonosobo sebagaimana tulisan orang-orang ngawur belakangan ini. Kerajaan Saba’ berada di selatan jauh Yerusalem, yakni di sekitaran Kota San’a Yaman pada masa sekarang.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan