Kisah Ulama Besar Dan Wanita Penghibur Yang Jadi Bu Nyai

kisah ulama dan wanita penghibur

Pecihitam.org – Jika mendengar kata Pelacur pastinya akal kita membayangkan seseorang yang pekerjaanya kotor dan hina. Namun apa jadinya jika seorang pelacur mendadak jadi bu Nyai atau istri Kyai? Kisah ulama dengan metode dakwahnya sering di ceritakan oleh mubaligh-mubaligh sebagai contoh bahwa dakwah bil hikmah selalu berdampak baik di masyarakat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ciri khas dakwah Ulama Nusantara yang sesuai dengan firmanNya

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Wafii riwayatin, kisah ulama besar KH. Ali Yahya Lasem dan Wanita Penghibur yang jadi bu Nyai.

KH. Ali Yahya Lasem terkenal tampan berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya di buka Beliau mirip bule Eropa, Amerika, atau Australia. Tak heran kalau banyak wanita terpesona.

Suatu hari Beliau ada undangan mengisi pengajian di Jepara, saat di perjalanan Mobil yg Beliau tumpangi berhenti di sebuah lampu merah. Saat itu beliau duduk di samping sopir dengan melepas sorban dan kopiah yg di pakainya. Tiba – tiba seorang wanita muda, menor, dan sexy menghampirinya. Wanita penghibur itu mengira bila lelaki gagah dalam mobil itu adalah turis banyak duit yg sedang mencari kesenangan di Indonesia.

” Malam, om ” sapa wanita tersebut.
” Malam ” jawab sang kyai.
” Ikut dong, om. Boleh, ya ? “.
” Oh, boleh boleh. Silahkan masuk “.

Wanita muda itu bergegas masuk mobil. Pintu ditutup dan mobil mulai jalan.
” Mau kemana , om. Butuh aku, gak ? Aku temenin sampai pagi ya, om ? “
Sambil memakai lagi kopiah dan sorban kyai Ali santai menjawab.
” Oo , ini lho mau ngaji di jepara. Ndak apa-apa , silahkan ikut aja. “
Wanita itu kaget dan salah tingkah.
” Oh, jadi Bapak ini kyai, ya ? “
” Tadi panggil om sekarang panggil pak kyai. Lucu, ya ? ” Kiai Ali tersenyum geli.
” Maaf, kyai. Saya benar-benar tidak tahu. Sekali lagi maaf. ” Wanita itu kian tegang dan raut wajahnya pucat ketakutan.
Tapi kyai Ali santai saja berkata ” Oo, Ndak apa-apa santai saja, mbak. Sekali-kali ikut pengajian, bagus itu. ”
” Ndak usah kiai, saya turun di sini aja. “
” Nggak bisa, pokoknya harus ikut. Tadi kan sampeyan bilang mau ikut, ya harus ikut. ”
” Tapi saya kan gak pakai jilbab, kyai ? ”
” Gampang, nanti tak pinjam jama’ah. “
” Tapi saya malu, kiai ? “
” Lho, sampean jadi pelacur ndak malu, kok pengajian malah malu. Piye to ? ”
” Bagaimana ini, kyai ? Saya takut, kiai ? ” Wanita itu makin salah tingkah.
” Tadi bilang malu sekarang bilang takut. ”
Dengan bijak Kiai Ali menenangkan, ” Sudahlah, santai saja. ”

Baca Juga:  Kisah Aisyah dan Ali Bin Abi Thalib; Fitnah, Perang Jamal Hingga Penyesalan Keduanya

Mobil pun terus berjalan hingga akhirnya sampai ke tempat tujuan. Jepara. Suasana tempat diselenggarakannya pengajian sudah ramai. Para jama’ah laki-laki dan perempuan memadati area tempat acara. Gegap gempita para panitia menanti kedatangan Kiai Ali. Begitu turun dari mobil Kiai Ali langsung menghampiri jama’ah ibu-ibu, ” Maaf Bu, bisa pinjam jilbabnya. Ini lho, Bu Nyai lupa bawa jilbab. “( Bu Nyai adalah panggilan kehormatan yg biasanya disematkan pada istri kyai )

Dengan sedikit bingung ibu itu menjawab tergesa-gesa, ” Oh, bisa pak kyai. Sebentar saya ambilkan. ” Ibu itu bergegas pergi dan tak lama sudah kembali. Jilbab yg dibawanya itu di sodorkan ke dalam mobil dan langsung dipakai oleh sang wanita.

Baca Juga:  Kisah Ulama Yang Membayar Apel Secara Mencicil

Setelah rapi wanita itu turun dari mobil dan masyaAllah… Langsung diserbu rombongan ibu-ibu untuk mencium tangannya ( ngalap berkah, katanya ). Mendapati sambutan kehormatan seperti itu, wanita yang kini disulap jadi Bu Nyai langsung berwajah pucat. Ia dipersilahkan masuk, dijamu, dan dilayani bagaikan seorang ratu. Ada rasa haru campur malu menyelinap di hatinya.

Pengajian pun digelar dengan seksama, Kyai Ali menjadi pembicara yg luar biasa, penyampaiannya ringan tapi dalam makna kandungannya.Usai acara Bu Nyai dadakan dipersilahkan menikmati jamuan rupa-rupa makanan lalu makan berat. Tapi sebelum makan rombongan jamaah ibu-ibu mohon didoakan keberkahan dari Bu Nyai Dadakan. Sontak saja ia kaget setengah mati. Sudah lama tak berdoa, sudah lupa doa yg dulu dihafal waktu kecil ngaji di kampung. Untungnya masih ingat Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Wa Fil Akhiroti Hasanah….

Pun demikian sebelum pulang, jama’ah ibu-ibu bergantian cium tangan dan di antar dengan hormat sampai masuk mobil. Selama perjalanan di mobil wanita penghibur itu menangis tersedu-sedu, sesenggukan dengan air mata bercucuran. Kyai Ali dan sopir membiarkannya hingga reda. Setelah suasana agak tenang, Kyai Ali menasehati., :

” Apakah kamu tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu. Dan rela juga mereka antri hanya dapat mencium tanganmu satu demi satu, bahkan minta berkah doa darimu, padahal tahu sendiri kamu siapa ? ”

Baca Juga:  Inilah Alasan Kenapa Imam Abu Hanifah Tidak Pernah Tidur Malam Selama 40 Tahun

Kembali sang wanita menangis, merasa hina, miris, dan sedih mengingat perbuatan dosa yg selama ini dilakukannya. Tapi Allah menutup aibnya, Allah sangat menyayanginya.

” Hari ini, ” lanjut Kyai Ali, ” Sampean dapat nasihat yang mungkin nasihat berharga selama hidupmu. Maka, segera lah taubat dan mohon ampun sama Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum taubat. ”

Sambil terisak wanita itu berkata, ” Terimakasih Kyai atas nasihatnya, dan berkah dari kejadian ini saya bertaubat dan berhenti dari pekerjaan bejat ini. Sekali lagi terimakasih, Kyai. ”

Meneladani kisah ulama dalam metode berdakwah berarti kita belajar bijaksana. Para Ulama’, pendahulu, dan Guru kita para Kyai Mubaligh berdakwah dengan baik dan bijak. Mengajak tanpa menginjak, menasehati tanpa menyakiti, dan menunjukkan kebenaran tanpa merendahkan derajat kemanusiaan. Inilah salah satu telaga yang indah dan menyejukkan, Yang menjadikan banyak orang tertarik dengan Islam. Dari kisah ulama tersebut, semoga jadi pelajaran bagi kita untuk menyampaikan kebenaran dengan baik. Wallahu’alam Bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *