Makrifat: Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin Ala Khalid bin Walid

ilmul yaqin ainul yaqin haqqul yaqin

Pecihitam.org – Ketahuilah, hanya Allah-lah yang seharusnya cukup menjadi penolong, yang menjamin segala urusan hamba-Nya. Tidak ada satu pun penghalang jaminan Allah, kecuali su’u zan (buruk sangka) dari makhluk itu sendiri kepada Allah SWT.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam dunia tasawuf kita diajarkan untuk terus meningkatkan mutu keyakinan kepada Pencipta, agar Allah juga selalu yakin untuk memberikan apa pun yang kita minta dan yang tidak kita minta. Yakin ini ada beberapa tingkatan yaitu ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Ilmul Yaqin

Tingkatan Ilmul yaqin adalah keyakinan akan keberadaan Allah swt berdasar ilmu pengetahuan (pendekatan ilmiah), tentang sebab akibat atau melalui hukum kausalitas, seperti keyakinan dari para ahli ilmu kalam.

Misalnya apa saja yang ada di alam semesta ini adalah sebagai akibat dari sebab yang telah ada sebelumnya. Apa yang ada pada sebelumnya itu juga sebab dari sebelumnya lagi dan seterusnya sampai ia menemukan titik dimana satu sebab yang tidak diakibatkan oleh sesuatu sebab. Kemudian ia yakin siapa penyebab pertama atau causa prima. Dan itulah Tuhan.

Ainul Yaqin

Ainul Yaqin adalah keyakinan yang dialami oleh orang yang telah melewati tahap Ilmu al yaqin. Orang yang sudah sampai tahap kedua ini setiap kali dia melihat sesuatu kejadian, sudah tidak berfikir proses sebab akibat lagi karena sudah langsung meyakini akan wujud Allah.

Haqqul Yaqin

Haqqul Yaqin adalah keyakinan dimiliki oleh orang yang telah menyadari dengan hati dan imannya bahwa alam semesta ini pada hakekatnya adalah bayangan dari Pencipta. Sehingga dia hanya dapat merasakan wujud yang sejati itu hanyalah Allah, sedangkan lainnya hanyalah bukti dari wujud yang sejati itu sendiri.

Baca Juga:  Neo-Sufisme dalam Gerakan Pembaruan Pemikiran Tasawuf

Untuk memudahkan pemahaman kita mengenai Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin ini, mari kita lihat penuturan Iman Ar-Razi. Dalam Tafsirnya Ar Razi mengkisahkan tentang seorang Majusi (penyembah api) yang meminta kepada Khalid bin Walid ra. untuk memperlihatkan sebuah ayat atau tanda supaya dirinya yakin untuk memeluk agama Islam.

Khalid bin Walid lantas berkata: “Berikan kepadaku racun yang mematikan,”

Kemudian seorang Majusi tadi membawakan racun untuknya. Khalid bin Walid kemudian mengambil dengan tangannya dan memulai dengan membaca basmallah. Lalu ia meminum racun itu semuanya. Atas izin Allah, Khalid bin Walid selamat tak terkena efek dari racun tersebut.

Melihat kejadian ini, orang Majusi tadi berkomentar: “Ini baru agama yang benar,” Lalu ia yakin masuk Islam dan beriman kepada Allah SWT.

Dalam kisah lainnya suatu hari, Khalid bin Walid singgah di suatu kampung. Orang-orang memperingatkannya, “Waspadalah terhadap racun, jangan minum suguhan orang-orang asing!”

Namun Khalid menjawab, “Berikan racun itu kepadaku!” Kemudian ia mengambil minuman itu, meneguknya sambil membaca basmalah, dan tidak terjadi sesuatu pun yang membahayakannya. (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Al-Baihaqi, dan Abu Na`im dari Abu Safar)

Masih tentang Khalid bin Walid, dalam riwayat lain diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Khalid diutus untuk pergi ke suatu kampung. Penduduk kampung itu menyuruh Abdul Masih menyambut Khalid bin Walid dengan membawa minuman yang mengandung racun ganas.

Baca Juga:  Peran dan Kontribusi Kiai Kholil dalam Menyebarkan Ajaran Tasawuf di Pulau Jawa

Khalid lalu berkata kepada Abdul Masih, “Berikan minuman itu!” Ketika ia istirahat, Khalid mengambil minuman beracun itu lalu berdoa, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan semesta alam. Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan mencelakakan hamba-Nya, karena nama-Nya mengandung obat.”

Kemudian Khalid meneguk minuman beracun itu. Abdul Masih kembali ke kaumnya, lalu berkata, “Hai kaumku, ia telah minum racun ganas itu, tetapi ia tidak apa-apa.” Dari situ akhirnya mereka berdamai dengan orang-orang muslim.

Nah dari sini coba bayangkan, jika suatu ketika anda ditantang orang kafir untuk minum racun. Apakah ilmu dan keyakinan anda bisa seperti Khalid bin Walid atau malah anda menganggap itu hal omong kosong dengan mengatakan Islam tidak menganjurkan demikian?

Dari sini kita bisa mengambil gambaran bahwa Khalid bin Walid sudah sampai ke tahap pembuktian (Haqqul Yaqin), adapun orang yang menyaksikan dia meminum dan beriman karenanya disebut sebagai Ainul Yaqin (Keyakinan karena melihat) dan orang yang mendengar dan membaca kisah Khalid bin Walid disebut dengan Ilmu Yaqin.

Tapi perlu digaris bawahi, bukan berarti setelah membaca kisah Khalid bin Walid ini lantas anda coba-coba minum racun dengan menantang orang lain untuk yakin dengan Islam. Ya, 99 % anda pasti benar! maksudnya benar-benar mati.

Analoginya sama seperti orang yang ingin menyelam ke dasar laut hanya dengan bermodal membaca buku teknik menyelam, sudah pasti dia bakal tenggelam dan mati. Untuk menguasai teknik menyelam dengan benar, dia harus berguru kepada orang yang ahli, terus berlatih sampai dia ketahap (Haqqul Yaqin), bisa membuktikan kehebatan dan kemampuan dirinya menyelam ke dasar laut.

Baca Juga:  Sekilas Mengenali Ajaran Praktis Spiritual Suhrawardi

Ini juga sama, jika seseorang hanya bermodalkan ilmu syariat agama (kata Gus Dur Ilmu syariat bloko), mengganti kata “aku” dengan “ana”, mengganti kata “kamu” dengan “antum”, memperbanyak kata “Subhanallah” dan “Masyaallah” agar terlihat alim. Kami sarankan jangan tantang orang minum racun, karena itu namanya KEBODOHAN.

Khalid bin Walid berani minum racun karena sudah sampai taraf Haqqul Yaqin, kontak dia Allah dan Rasul-Nya sangat baik, kuat dalam Muraqabah sehingga segala sesuatu dilakukan sudah dengan Kepastian bukan sok-sok-an.

Islam itu berlapis bukan hanya kulit, jika anda merasa paling tahu dengan ilmu tentang Islam kemudian tidak mau lagi mencari tentang Kebenaran Islam yang hakiki, apalagi pandai menyalahkan orang lain. Anda salah, kesombongan anda tak sebanding dengan racun yang di minum Khalid bin Walid.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik