Masifnya Gerakan Salafi di Kampus, Mahasiswa dan Media Sosial

gerakan salafi

Pecihitam.org – Perubahan zaman yang terjadi sekarang ini berdampak terhadap perkembangan teknologi yang semakin canggih dan memasuki hampir setiap aspek kehidupan manusia. Aspek kehidupan beragama pun tidak luput dari perkembangan teknologi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi penyebaran pendidikan agama Islam. Pengaruh perkembangan teknologi bagi penyebaran Islam, contohnya dapat dilihat pada aplikasi-aplikasi telepon genggam pintar (smartphone).

Pada dasarnya fungsi teknologi informasi pada dunia maya adalah keikutsertaan massa secara langsung dalam melakukan proses komunikasi. Jadi, model komunikasi yang dibentuk oleh dunia maya adalah komunikasi massa yang melibatkan banyak manusia dalam prosesnya.

Jika dianalogikan, komunikasi menjadi bahan sedangkan dunia maya menjadi wadah atau media. Hal ini akan menjadi pasangan yang cocok dalam penyebaran dakwah melalui teknologi informasi

Media sosial menjadi tempat ajang untuk berjuang istilah agama berjihad dalam menyebarkan ajarannya. Berbagai startegi dilakukan oleh para muslim bermanhaj salaf untuk memberikan arahan dan ajaran-ajarannya kepada masyarakat. Banyak hal yang mereka lakukan di media sosial, seperti bergerak di Televisi, Istagram, Facebook, Twiter, Telegram dan Website.

Baca Juga:  NU Sejak Dulu Hingga Kini Tidak Pernah Goyah dan Berubah

Melalui media sosial seperti di atas, para salafi bergerak dan secara rutin memberikan kajian-kajian yang mereka berikan kepada masyarakat. Setidaknya ada lima prinsip fikih  Imam Ahmad bin Hambal yang menjadi dasar salafi dalam berijtihad dan menyimpulkan istimbat hukum, dianataranya sebagai berikut :

  1. Nass al-Qur’an dan Sunnah sahihah dalam pengertian literal. Jika telah mendapati nass yang memberikan penjelasan secara literal, maka tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan juga tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang memiliki pendapat berbeda.
  2. Fatwa sahabat yang disetujui oleh semua sahabat.
  3. Pendapat sebagian sahabat. Yakni ketika para sahabat berbeda pendapat, maka beliau mengambil pendapat yang paling dekat dengan pengertian literal nass.
  4. Hadis da’if dan mursal juga beliau gunakan sebagai dalil sepanjang isinya tidak bertentangan dengan pendapat sahabat.
  5. Qiyās. Dalil ini digunakan dalam porsi yang amat terbatas yakni ketika sama sekali tidak ditemukan penjelasan berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan sebelumnya.
Baca Juga:  Asyura, Hari Kasih Sayang, Politisasi Agama, dan Isu PKI

Jika melihat lima prinsip dasar yang menjadi gerakan salafi di atas. Maka akan banyak kita temui di beberapa kampus khususnya kampus-kampus PTN. Hal mendasar yang menjadi faktor banyaknya mahasiswa PTN terpengaruh dengan manhaj salaf yakni dengan media sosial.

Penggunaan teknologi informasi sebagai media penyebaran dakwah dapat menjadi salah satu opsi untuk pengembangan metode dakwah itu sendiri. Begitu pula manfaat yang akan dirasakan oleh mahasiswa berupa kemudahan mengakses informasi yang berkaitan dengan dakwah.

Pentingnya informasi juga dapat kita lihat ketika ada masanya burung merpati digunakan mengirimkan informasi. Hal tersebut bertujuan agar informasi tersebut dapat sampai dengan cepat dan tepat sasaran.

Ada beberapa prinsip yang terdapat dalam budaya informasi. Pertama, informasi itu selalu ada serta tidak dapat dibendung. Artinya tidak dapat dibendung dalam artian sekecil apa pun yang terjadi merupakan informasi.

Kedua, keinginan mahasiswa ataupun seseorang khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi cenderung lebih besar. Oleh karena itu, keberadaan teknologi informasi ini dapat menjadi solusi yang bijak.

Baca Juga:  Surat Cintaku Untuk Kakanda Felix Siauw

Konsep ruang publik yang digagas oleh Habermas sedikit demi sedikit akan tergeser karena seiring semakin besarnya budaya penggunaan internet pada masyarakat kita, informasi nyata berubah menjadi informasi virtual. Dengan demikian, penting kiranya para mahasiswa bijak dalam filterisasi dalam mencarai informasi yang diakbitkan oleh rasa keingintahuannya yang besar.

M. Dani Habibi, M. Ag