Menelisik Jejak Sejarah Makam Mbah Priok

Menelisik Jejak Sejarah Makam Mbah Priok

Pecihitam.Org – Nama Habib Hasan Al Haddad alias Mbah Priok mungkin sukar dilepaskan kaitannya dengan nama Tanjung Priok. Beberapa sumber bahkan menyatakan nama pelabuhan di Jakarta Utara ada hubungannya dengan Makam Mbah Priok.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu sumber, Ketua Yayasan Mbah Priok, Wahyu. Ia bercerita Mbah Priok merupakan seorang penyiar agama Islam dari Palembang yang sering melakukan perjalanan untuk berziarah. “Saat berziarah sambil menjalankan syiar Islam, singkat cerita, dia wafat di tengah laut. (Jenazah Mbah Priok) lalu diiringi ratusan lumba-lumba ke pesisir pantai di Pondok Dayu. Lalu dimakamkan penduduk sekitar di tepi pantai dengan nisan dayung yang patah,”

Beliau selalu membawa periuk yang kemudian ditaruh di makam beliau ditutupi pohon tanjung. Maka jadilah Tanjung Priok.” Kisah Mbah Priok sendiri tak berhenti saat ia dimakamkan. Pada masa penjajahan Belanda, ujar Wahyu, sebuah pelabuhan akan didirikan di daerah Pondok Dayu tersebut.

Tapi keberadaan makam Mbah Priok disebut-sebut membuat pembangunan pelabuhan kandas. Setelah mendatangkan Habib Zein, adik kandung Mbah Priok yang berada di Palembang, barulah proses pemindahan makam ke tempat saat ini di Koja, Jakarta Utara, terlaksana.

Baca Juga:  Kemajuan dan Kejayaan Peradaban Dinasti Turki Utsmani

“Ternyata Habib Zein seorang aulia, jadi bisa komunikasi lansung dengan Habib Hassan. Makam boleh dipindah satu kali, dari Pondok Dayung ke tempat yang sekarang. Dari sini enggak boleh dipindah-pindah lagi,” tutur Wahyu. Di kalangan masyarakat, makam Mbah Priok sendiri dikenal sebagai salah satu makam keramat.

Menurut Wahyu, hal itu karena Mbah Priok bisa disebut sebagai seorang wali atau aulia yang memiliki kedekatan dengan Allah. “Mbah Priok wali, atau kalau dalam bahasa Islam aulia. Kayak Sunan Bonang dan lainnya, orang yang punya kedekatan dengan Allah. Wali itu Allah (yang) kasih, Allah secara langsung,” kata Wahyu.

Akan tetapi bukan berarti keberadaan dan sejarah makam Mbah Priok diterima mentah-mentah masyarakat Jakarta. Ada beberapa yang menyangsikan pemberian nama “Tanjung Priok” berasal dari Mbah Priok.

Demikian pula dengan lokasi makam. Namun, menurut Wahyu, hal itu bisa dibuktikan dengan melihat insiden kerusuhan saat petugas Satpol PP ingin menggusur makam Mbah Priok pada April 2010 silam. “Dibuktikan, waktu kemarin perang, kami di dalam hanya 60 orang melawan ribuan Satpol PP. Dalam logika kami kalah, harus mati, tapi kami dikasih menang. Itu kekuasaan wali,” ujarnya. “Dan keluarga Satpol PP datang ke sini minta maaf, karena setelah mau bongkar makar (mereka) seperti orang gila, ketakutan lihat orang. Gaib, itulah wali, kekuasaan Allah, keramat namanya,” ujarnya.
Sementara itu, menurut sejarawan Alwi Shahab, nama Tanjung Priok sebenarnya tidak memiliki kaitan dengan keberadaan makam Mbah Priok. Bahkan menurutnya, pelabuhan Tanjung Priok itu sudah dibangun lebih dulu dibandingkan dengan makam tersebut. Pelabuhan dibangun karena saat itu pelabuhan Sunda Kelapa sudah tidak mampu lagi menampung kapal yang datang “Enggak ada (hubungan) sama sekali. Sebelum itu, Priok sudah dibangun, dibangun pada abad sejak sebelum kedatangan Mbah Priok. Ketika itu pelabuhan Sunda Kelapa enggak bisa menampung kapal-kapal yang datang, sehingga perlu pelabuhan baru,”
Bahkan Alwi menyebut, ada pihak-pihak yang sengaja menghubungkan makam Mbah Priok dengan sejarah nama Tanjung Priok hanya untuk mencari keuntungan semata. “Itu ada rekayasa saya pikir, untuk mencari keuntungan,” ujarnya. Dalam buku Buku Saku Kasus Mbah Priok karya Ahmad Sayfi’i Mufid, Robi Nurhadi, dan KH Zulfa Mustofa, sejarawan Ridwan Saidi juga menyatakan hal sama, bahwa Tanjung Priok tidak bisa dikaitkan dengan Mbah Priok. Nama Tanjung Priok justru terkait Aki Tirem, penghulu atau pemimpin daerah Warakas yang tersohor sebagai pembuat priok (periuk). Sedangkan kata Tanjung merujuk pada kontur tanah yang menjorok ke laut atau tanjung.

Baca Juga:  Mengenal Tiga Kepercayaan Masyarakat Sulawesi Selatan Sebelum Datangnya Islam
Mochamad Ari Irawan