Mengatasi Quarter Life Crisis Kaum Muda Menurut Islam

quarter life crisis

Pecihitam.org – Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, dimana dua orang teman datang ke kost sambil mengeluhkan tentang apa yang dirasakannya waktu itu, pernyataannya jelas dengan ucapan;

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“Entah kenapa? Saya sering mencemaskan banyak hal, seperti masalah pekerjaan, masalah kuliah, masalah perasaan, dan saya rasa hidupku hanya terus terusan seperti ini, tidak ada yang istimewa dan tidak ada perubahan”, maka dengan cekatnya teman ku yang satu berkata “ Wajar, karena sekarang ini kita sudah berada di era Quarter life crisis”

Quarter life crisis

Quarter life crisis yakni istilah yang diartikan sebagai masa dimana seseorang yang berusia sekitaran 20 tahunan keatas akan mengalami kecemasan dan kekhawatiran dalam hidupnya yang meliput hal apapun itu.

Baik pada masalah pendidikan yang rasanya tak ada peningkatan sama sekali, ilmu yang serasa tak pernah mengalami kemajuan, mimpi yang tak pernah tercapai, waktu yang rasanya sebentar dan terbuang begitu saja, perasaan yang tak pernah tahu akan berlabuh dihati siapa? Dan pada akhrinya kita berkesimpulan “Apakah hidupku akan seperti ini secara terus menerus? Berada dalam kebimbangan dan tak tahu arah”

Faktanya memang iya, keluhan ini layaknya hantu yang tak henti gentayangan pada hampir sebagian bahkan seluruh muda mudi, dan tak bisa dipungkiri lagi terkait masa keluhan keluhan tersebut yang hanya menghabiskan kita dalam renungan dan khayalan, baik sebelum tidur maupun saat bangun dari tidur.

Pandangan Islam

Sebagai agama yang komprehensif, tentu Islam akan menjawab seluruh problematika kita sebagai manusia, mulai dari masalah yang kecil sampai pada masalah yang besar.

Baca Juga:  Ikhlas Itu Bukan Sebatas Rela, Ini Kata Quraish Shihab

Dan ini tergantung lagi pada pemahaman dan keyakinan kita terhadap agama itu sendiri. Semakin kita meyakininya, maka disaat itulah kita tak akan mencemaskan banyak hal termasuk mencemaskan sesuatu yang belum saatnya untuk kita cemaskan.

Pertanyaannya kemudian  ialah bagaimana Islam memandang problematika muda mudi yang kini tengah bertanya-tanya.,

“Ada apa dengan hidupku sebenarnya? Bagaimana dengan hidupku kedepannya? Apa yang sebenarnya ingin saya raih? Mengapa hidupku hanya terus terusan seperti ini?”

Jawabannya ialah, perlunya kita memandang hidup ini dengan melakukan pendekatan terhadap apa yang diajarkan agama, atau yang diistilahkan dengan istilah Islamic worldview.

Sebenarnya istilah ini memiliki banyak definisi, namun paling tidak istilah ini dapat diartikan sebagai proses hidup kita yang berasas pada ajaran Agama.

Maka tak heran jika kita dituntut untuk selain mempelajari ajaran, kita pun dituntut untuk memahami dan mengamalkannya, karena sejatinya? Dengan cara itulah kita akan benar benar menjadikan Agama sebagai asas kehidupan.

Mengapa sering muncul kegalauan? Kecemasan yang tak pernah berkesudahan padahal sesuatu itu belumlah terjadi? Muncul kegundahan pada sesuatu yang tak sepatutnya membuat kita gundah? Bisa saja karena kita sedang jauh dari keimanan yang sebenarnya,

Maka tak heran jika Imam Al Ghazali mengatakan bahwa “Salah satu penyebab lemahnya cinta kepada Allah adalah kuatnya cinta kita kepada Dunia”.

Mungkin saja karena kita terlalu berambisi terhadap impian dunia itu, terlalu memikirkan apa yang mesti kita capai kedepan tanpa harus tahu bahwa Agama juga punya hak dalam diri kita, hanya saja kita lupa dan pada akhirnya? Kita mudah lelah dan mengeluh.

Baca Juga:  Orang Fakir Bisa Masuk Surga Lebih Dulu daripada Orang Kaya, Ini Syaratnya

Itulah mengapa pentingnya kita untuk mengingat Allah Swt., baik dikala sedang gundah gulana, galau tak berkesudahan, maupun disaat mencemaskan banyak hal termasuk sesuatu yang belum terjadi, jalannya ialah? Ingatlah Allah Swt,

Seperti yang dikatakan dalam Firman-Nya QS. Ar Ra’d [13] ayat 28

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Lantas ketentraman apa yang dimaksdkan ayat diatas? Yakni ketentraman hati pada mereka yang telah dibukakan Allah untuk menerima Agama Islam dan mendapatkan cahaya Tuhannya, Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Az Zumar pada ayat 22

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”

Intinya, tetaplah menjadi seorang pemimpi, namun bukan berarti hanya terus bermimpi. Bermimpi berarti bertindak, hasil? Itu bukan di tangan kita, maunya kalau boleh apapun yang kita impikan akan terkabul, namun  disinilah hebatnya Allah. Mengapa?

Karena tak semua apa kita impikan akan bernilai positif untuk diri kita, mungkin saja kita beranggapan bahwa kedepannya akan berjalan indah, namun siapa yang tahu bahwa dibalik rerumputan yang kita injak rupanya ada lubang yang bisa saja membuat kita terjatuh.

Baca Juga:  Ancaman Nabi bagi Pendakwah yang Penuh Ceramah Kebencian

Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al Baqarah [2]: 216

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”

Allah tahu apa yang akan terjadi sebelum kaki kita melangkah, sedangkan kita? Kita hanya akan tahu tepat disaat kita berpindah arah. Lantas mengapa kita harus mencemaskan sesuatu yang masih jauh didepan mata?

Pasrahkan dan percayakan, semuanya akan baik baik saja. Karena tempat terbaik dalam menaruh kepercayaan ialah hanya kepada-Nya, berharap yang tak pernah membuat kita kecewa adalah berharap kepada-Nya.

Dan mendekatkan diri kepada-Nya tentu tak akan pernah membuat kita mengenal yang namanya patah hati dan terluka. Untuknya? Pasrahkan dan percayakan bahwa semuanya akan baik baik saja,

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim bahwasanya dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda, Allah ta’ala berfirman:

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku”

Itulah sekilas terkait Cara mengatasi Quarter life crisis dengan segi pandang menurut islam, semoga bermanfaat!

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.