Mengenal Hasan Al Bashri Sang Sufi dari Kalangan Tabi’in

hasan al bashri

Pecihitam.org,- Saat kita beranggapan bahwa sufi adalah mereka yang hidup jauh setelah Rasulullah Wafat, tentu ini bisa dikatakan sebagai pandangan yang kurang pas. Bagaimana tidak? Seorang yang zahid di kalangan tabi’in yang sampai namanya cukup terkenal di dunia persufian rupanya hidup di zaman tabi’in. Dialah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar atau yang dikenal dengan nama Hasan al Bashri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau lahir pada tahun 21 H dan wafat pada tahun 110 H, kelahirannya tepat dua malam sebelum Khalifah Umar bin Khattab wafat. Ayahnya bernama Yasar Al Bashri Maula Zaid bin Tsabit Al Anshari. Sedangkan ibunya bernama Khairah yang merupakan budak dari Ummu Salamah (salah satu Istri Nabi Saw.,) yang dimerdekakan.

Itulah mengapa ketika Ummu Salamah mengetahui bahwa si mantan budaknya melahirkan anak laki laki, maka dia segera meminta seseorang untuk membawa Khairah ke rumahnya dan menghabiskan masa nifasnya disana. Tidak hanya itu, nama Hasan sendiri adalah pemberian dari Ummu Salamah.

Sehingga dari sini bisa dikatakan bahwa Hasan Al Bashri yang tumbuh dalam lingkungan sahabat, tentu akan membuat dirinya ditempa sebaik mungkin oleh para orang orang berilmu (sahabat) yang masih didapatinya. Seperti dari Utsman bin Affan, Abu Musa Al Asy’ari, Abdullah bin Abaas, Ali Bin Abu Thalib. Sedangkan menurut Hasan Al Bashri sendiri beliau sangat mengagumi Ali bin Abu Thalib terkait Ilmunya yang begitu luas serta kezuhudannya.

Baca Juga:  Ismail Raji al Faruqi dan Pemikirannya Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Setelah berusia 14 tahun, beliau bersama orang tuanya pindah ke kota Bashrah dan menetap di sana. Dan inilah penyebab mengapa beliau dijuluki sebagai Hasan Al bashri.

Semenjak berpindah ke Bashrah, beliau mula-mula menyediakan waktunya menetap di masjid Bashrah demi memperbincangkan ilmu-ilmu kebatinan, kemurnian Akhlak, dan usaha menyucikan jiwa.

Maka disinilah awal mula Hasan Al Bashri masuk dalam dunia tasawuf, yang dimana ajaran ajaran kerohaniannya senantiasa didasarkan pada Sunnah. Maka tak heran jika sahabat yang masih hidup pada masa itu memang mengakui kedalaman ilmu dan keistimewaannya.

Seperti kisah dari seseorang yang mendatangi Anas bin Malik dalam mempertanyakan persoalan agama, namun Anas malah memerintahkan orang itu menemui Hasan Al Bashri.

Sedangkan kalau kita pandang Hasan Al Bashri dari segi ajaran tasawufnya, beliau merupakan salah satu tokoh yang sangat menolak segala kenikmatan duniawi. Bahkan beliau mengibaratkan dunia layaknya seekor ular, yang terasa mulus jika disentuh namun memiliki racun yang mematikan.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok Sunan Kalijogo, Sang Wali Tanah Jawa

Sedangkan yang dikemukakan Hamka terkait ajaran tasawuf dari Hasan Al Bashri salah satunya ialah dikatakan bahwasanya

“Dunia adalah negeri tempat beramal. barang siapa bertemu dunia dengan perasaan benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun barang siapa bertemu dunia dengan perasaan rindu dan hatinya tertambat dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak ditanggungnya”

Selain itu, kalau kita mengenal terkait ajaran tasawuf dari sufi lainnya seperti Rabiah al Adwiyah yang dikenal dengan konsep mahabbahnya, ataupun Ibnu Arabi yang dikenal dengan konsep Wahdah Al Wujudnya tentu Hasan Al Bashri dikenal dengan prinsip ajarannya yang berlandaskan pada Khauf dan Raja’.

Dalam pengertiannya, Khauf dapat diartikan sebagai Rasa takut terhadap siksaan Allah yang tentu dikarenakan hadirnya dosa, akibat dari pelalaian atas apa yang diperintahkannya. Sedangkan istilah Raja’ dapat diartikan sebagai harapan yang tentu menuntut tiga perkara yakni:

Cinta kepada apa yang diharapkan,
Takut apabila harapannya hilang,
dan berusaha untuk mencapainya.

Sehingga memandang prinsip ajaran dari Hasan Al Bashri, dikatakan oleh Muhammad Mustafa (Guru besar filsafat Islam) bahwasanya yang mendasari rasa takut yang dimaksud bukanlah rasa takut terhadap siksaan di dalam Neraka, melainkan kebesaran jiwa beliau akan kekurangan dan kelalaian dirinya.

Baca Juga:  Enam Hal Yang dapat Merusak Hati Menurut Imam Hasan al Bashri

Dan tentu ini sepadan dengan apa yang disabdakan Nabi Saw.,
“Orang yang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana orang duduk di bawah sebuah gunung besar yang senantiasa merasa takut yang bilamana gunung itu akan menimpanya”

Itulah sekilas kisah hidup Hasan Al bashri, sang Sufi yang memberikan corak kezuhudan Islam yang identik dengan rasa takut dan kekhawatirannya terhadap murka Allah akibat dari kelalaiannya atas apa yang diperintahkan. Semoga bermanfaat!

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.