Mengenal Konsep Mahabbah dalam Dunia Tasawuf

Mengenal Konsep Mahabbah dalam Dunia Tasawuf

Pecihitam.org – Mahabbah atau cinta, jelas istilah ini sering kita dengar di beberapa lagu lagu arab atau india dikala kita sedang asyik menonton film bollywood. Dan tentu istilah ini memiliki konsep yang berbeda dengan istilah umumnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berbeda dengan konsep Mahabbah yang ada pada dunia tasawuf, yakni dunia yang betul betul fokus pada perihal menyucikan jiwa ataupun menjernihkan Akhlak seorang hamba guna menghadirkan cinta yang teramat dalam, dan pastinya cinta yang dimaksud hanya ditujukan kepada Tuhan semata bukan kepada yang lainnya.

Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Dalam Mu‘jam al-Falsafy jilid II, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci.

Selain itu al-mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan, dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, orang tua pada anaknya, seseorang pada sahabatnya, hamba kepada Tuhannya ataupun seorang pekerja pada pekerjaannya.

Sedangkan konsep Mahabbah dalam dunia tasawuf yang dikemukakan oleh Al Qusyairi dalam bukunya Al Risalah al Qusyairiyah yakni suatu hal (Keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (Kemutlakan) Allah Swt oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan seorang hamba mencintai Allah.

Baca Juga:  Zuhud: Pengertian, Landasan, Tanda-tanda dan Tingkatannya Menurut Ulama Sufi

Lain halnya dengan Harun Nasution dalam bukunya Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, beliau menjelaskan bahwa pengertian Mahabbah diberikan kepada tiga pengertian yakni memeluk kepatuhan Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi mengosongkan hati dari segala galanya kecuali yang dikasihi, yaitu Tuhan.

Sedangkan jikalau Konsep Mahabbah dilihat dari segi tingkatannya akan terbagi menjadi tiga tingkatan seperti yang dikemukakan oleh Al Sarraj sebagaimana yang dikutip oleh harun Nasution seperti yang termaktub pada buku yang sama (Falsafah dan Mistisisme dalam Islam) diantaranya:

Cinta orang biasa, mahabbah pada jenis ini akan selalu mengingat Allah dengan Zikir, suka menyebut nama nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.

Cinta orang Shidiq, mahabbah pada jenis ini akan membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.

Cinta orang Arif, mahabbah pada jenis ini adalah orang yang betul tahu pada Tuhan, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta akan tetapi diri yang dicintainya. Hingga pada akhirnya sifat sifat yang dicintainya masuk ke dalam diri yang mencintainya.

Baca Juga:  Empat Penyebab Hilangnya Agama Islam Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilany

Pertanyaannya kemudian, dengan cara apa kita dapat meraih bentuk bentuk mahabbah diatas?

Tentu para Sufi memiliki jawaban akan pertanyaan tersebut, yakni dengan menggunakan pendekatan psikologi yang artinya melakukan pendekatan dengan melihat potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia.

Masih dalam pandangan Al Qusyairi bahwasanya ada tiga alat dalam diri manusia yang dapat dijadikan sebagai sumber Mahabbah kepada Tuhan.

Yang pertama, hati sanubari untuk mengetahui sifat sifat Tuhan, kedua Roh yang lebih halus dari hati sanubari dan digunakan untuk mencintai Tuhan. serta yang ketiga yakni sir (Alat untuk melihat Tuhan).

Sehingga dari pandangan ini dapat disimpulkan bahwa alat yang digunakan manusia dalam mencintai Tuhan adalah Roh, dimana manusia sendiri tidak tahu hakekat roh itu sendiri sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al- Isra’ ayat 85 “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Lantas siapakah tokoh yang amat familiar dalam mengembangkan konsep Mahabbah dalam dunia Tasawuf? Maka jawabannya ialah Rabi’ah Al Adawiyah, sang Zahid perempuan yang berasal dari Basrah. Dalam riwayat dikatakan bahwa Beliau meninggal dunia pada tahun 185 H/796 M (Hamka, tasawuf perkembangan dan pemurniannya).

Sebuah riwayat menyatakan bahwa Rabi’ah selalu menolak lamaran lamaran pria yang Sholeh dengan mengatakan “Akad Nikah adalah bagi pemilik kemaujudan yang luar biasa. Sedangkan pada diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya adalah milik-Nya. aku hidup dalam naungan firman-Nya. Akad nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku” (Aththar, Tadzkirat Al-Aulia I)

Baca Juga:  Dzauq dan Syarab, Minuman dari Hidangan Rohani yang Memabukkan dalam Dunia Sufi

Dan cinta Rabi’ah yang amat luar biasa kepada Allah dapat dilihat dalam berbagai Syair syairnya. Yang diantaranya ialah sebagai berikut

Ya Tuhanku, bila aku menyembah-Mu lantaran takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun jika aku menyembah-Mu hanya demi Engkau, maka janganlah Engkau tutup Keindahan Abadi-Mu”

*Sumber kutipan (Akhlak tasawuf dan karakter mulia, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.