Mengenal Wali Qutub dalam Hierarki Kewalian Para Waliyullah

Wali Qutub

Pecihitam.org – Dalam khazanah dan tradisi tasawuf istilah wali Qutub sangtalah terkenal. Jika di Indonesia sendiri istilah ini sering melekat dalam tradisi masyarakat Nahdliyin. Hal ini dikarenakan masyarakat Nahdliyin tidak sekedar mendasarkan basis keilmuannya kepada fiqih dan syariat saja, tetapi juga tasawuf. Maka dengan sendirinya kemudian akrab dengan istilah wali qutub.

Istilah wali qutub terdiri dari dua kata, wali dan quthub. Kata wali sendiri merujuk pada pengertian orang alim yang sangat dicintai Allah dan dilindungi segala urusannya. Dan juga sebaliknya, wali tadi juga mencintai Allah, beribadah, serta istiqamah dalam keadaan senang atau susah. Sang wali tidak memiliki rasa takut, kecuali kepada Allah.

Dalam sebuah hadits riwayat sayyidah Aisyah ra. disebutkan: “Barang siapa menyakiti wali-Ku, maka ia telah menghalalkan permusuhan-Ku….”

Di dalam hierarki para sufi, wali merupakan maqam yang ditempati oleh seseorang karena anugerah dari Allah Swt. Bila telah mencapai maqam (derajat) wali, seseorang biasanya memiliki banyak karamah, meskipun jarang sekali ditunjukkan kepada publik.

Baca Juga:  Benarkah Jika Sudah Bertasawuf Tidak Perlu Lagi Syariat? Ini Penjelasannya

Sedangkan kata qutub, artinya adalah poros. Jadi, wali qutub adalah wali yang menjadi poros para wali lainnya. Wali quthub ini adalah salah satu di antara kategori dan jenis kewalian dan ia adalah pemimpin para wali di seluruh dunia.

Meski begitu, ada sedikit perbedaan wali quthub dan qutbul ghauts. Wali quthub jumlahnya banyak, namun qutbul ghauts jumlahnya hanya satu. Maka dari sini dapat diartikan bahwa, wali quthub adalah pemimpin dalam setiap komunitas wali. Sedangkan qutbul ghauts adalah pemimpin-nya para wali quthub.

Jenis dan kategori kewaliaan

  1. Qutbul ghauts
  2. Wali quthub,
  3. Wali aimmah (wakil dari qutbul ghauts, jumlahnya ada dua)
  4. Wali autad (wali penyangga, jumlahnya empat, berada di empat arah mata angin)
  5. Wali abdal (wali pengganti, jumlahnya tujuh)
  6. Wali nuqaba (wali yang menjadi ahli ilmu syariat, jumlahnya 12)
  7. Wali hawariyyun (wali pembela agama dan kemanusiaan yang dibekali ilmu pengetahuan)
  8. Wali nujaba’ (jumlahnya delapan)
  9. Wali rajabiyun (jumlahnya 40 orang)
  10. Khatamul wilayah (penyegelnya para wali di setiap masa, bertugas mengurusi wilayah umat Muhammad)
  11. Wali maktum (disembunyikan dari pandangan publik)
  12. Wali uwaisyiyin (dibimbing secara rohani oleh para guru secara barzakhi seperti Uwaisy al-Qarni); dan banyak kategori lainnya.
Baca Juga:  Inilah Makna dan Perbedaan Istilah Fana dan Baqa' yang Harus Kalian Ketahui

Posisi Qutbul Ghauts sangat dihormati di kalangan para wali. Ini terjadi karena sebagian para wali mengetahui posisi kewalian sesama mereka, dan mereka juga tahu posisi qutbul ghauts pada zamannya. Sebagian wali hanya diberi batas tahu sesama kategori wali dalam satu jenis kewalian. Bahkan, sebagian hanya menjadi rahasia sang wali dengan Tuhan.

Ada sebagian yang menyebutkan bahwa qutbul ghauts adalah

  1. Hasan bin Ali bin Abi Thalib
  2. Umar Ibn Abdul Aziz
  3. Yusuf al-Hamadani
  4. Abdul Qadir al-Jilani
  5. Ahmad ar-Rifa’i
  6. Abdus Salam bin Masyisy
  7. Ahmad Badawi
  8. Abu Hasan as-Syadzili
  9. Muhyiddin Ibnu Arabi
  10. Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
  11. Ibrahim ad-Dasuqi
  12. Jalaluddin Rumi, dan lain-lain.

Begitu terhormatnya posisi Qutbul Ghauts suatu ketika pernah digambarkan dengan perlambang ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani berkata, “Kakiku ada di atas seluruh wali”.

Baca Juga:  Tasawuf Ala Umar Bin Khattab, Ambil yang Berat Tinggalkan yang Ringan

Beberapa wali terkemuka di berbagai masa memang ada yang menyebutkan, “Meletakkan kepala mereka di bawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani”. Ini adalah perlambang kedudukan dan posisi terhormat qutbul ghauts di dalam hierarki kewalian.

Wallahua’lam bisshawab.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG