Kala Muktamar Nahdlatul Ulama Dilaporkan Kepada Nabi, Beliau pun Merestui NU Kembali ke Khitthah

Kala Muktamar Nahdlatul Ulama Dilaporkan Kepada Nabi, Beliau pun Merestui NU Kembali ke Khitthah

Pecihitam.org – Dikutip dari channel YouTube Radio NU, ada kisah menarik yang disampaikan oleh RKH. Azaim Ibrahimy perihal peristiwa pasca Muktamar dan Munas Nahdlatul Ulama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam acara Ijazah dan Istighatsah Kubro yang dilaksankan di kantor PBNU yang turut pula dihadiri beberapa tokoh, seperti KH. Said Aqil dan Haddad Alwi serta beberapa kyai dan habaib tersebut, cucu mediator terbentuknya NU, RKH. As’ad Syamsul Arifin ini menyampaikan pentingnya memegang teguh Khittah NU 1926.

Putra Kyia Dhofier ini bercerita mengenai peristiwa yang syarat akan karomah Nahdlatul Ulama. Adalah Kyai Mujib Ridwan yang dikenal sebagai pembuat lambang NU.

Konon pada tahun 1987, beliau pernah ditugaskan oleh RKH. As’ad untuk ziarah ke Makam Nabi Ibrahim dan Ismail di Mekkah setelah digelarnya Muktamar dan Munas tahun 1983 dan 1984, yang salah satu ketetapannya adalah NU harus kembali ke Khitthah 1926.

Baca Juga:  Kisah Kewalian Syekh Abdul Qadir al Jailani Dikalahkan oleh Seorang Perempuan

Dengan amalan tertentu yang diijazahkan RKH. As’ad, maka sesampainya di Mekkah, Kiai Mujib melakukan riyadhah dan amalan tertentu, hingga beliau bisa berjumpa dengan Nabi SAW. Dalam perjumpaan itu, Nabi SAW menyetujui agar NU kembali ke Khittah 1926.

Bahkan, Nabi menunjuk Shahibul Baghdad, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan Wali Quthub itu pun kemudian memberikan mandat kepada Raden Rahmat Sunan Ampel untuk menindak-lanjuti keputusan Munas dan Muktamar NU itu.

Ini adalah kisah karamah yang memang jauh dari nalar. Cerita semacam ini mungkin akan dotolak oleh mereka yang anti dengan konsep karomah. Padahal dalam linhkungan NU, kisah di atas bukan kisah spiritual satu-satunya.

Masih banyak kisah-kisah lain, semisal kisah awal terbentuk NU yang menampilkan karomah Syaikhona Kholil, RKH. As’ad maupun karomah Hadratus Syiakh KH. Hasyim Asy’ary.

Baca Juga:  Kisah Abdullah bin Mubarrok yang Haji Mabrur Tanpa Berangkat ke Tanah Suci

Orang-orang yang berfikir rasional murni, yang menafikan adanya karomah akan bertanya-tanya bahkan mengkritik bagaimana mungkin RKH. As’ad yang hidup di abad 20, Sunan Ampel abad ke 15, Syaikh Abdul Qadir Jailani abad ke 12, dan Nabi SAW di abad ke 6 bisa saling terhubung-berkomunikasi satu sama lain.

Tapi inilah uniknya NU. Bukan hanya kisah berdirinya yang mengandung kisah supra rasional, melainkan juga dalam setiap tahap perkembangannya selalu ada kisah-kisah spiritual yang menyertai.

Dan tampaknya jalur spiritual itu yang menyebabkan para kiai NU tak bisa berpisah dari khittah perjuangan para leluhurnya, dari dulu hingga sekarang. Salah satu khittah perjuangan leluhur itu adalah Khittah NU 1926 yang mengajak NU untuk tidak terjun di politik.

Simbol tongkat Nabi Musa yang pernah menjadi ular dan menelan, menghancurkan musuh-musuhnya, sudah saatnya kembali menjadi tongkat pengembala yang menggiring nahdliyyin. Membawanya pada kebaikan, ketentraman, kedamaian dan kemakmuran.

Baca Juga:  Sahabat Nabi Yang Murtad Versi Hadits Riwayat Bukhari Dan Muslim

Ra Zaim pun mengutip firman Allah dalam Surat Thaha

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى

Dia (Allah) berfirman, “Peganglah tongkat iti dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. (QS. Thaha ayat 21)

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman