Perbedaan Silsilah Nabi Muhammad Menurut Para Ulama dan Komentar Mereka Tentang Islam

Perbedaan Silsilah Nabi Muhammad Menurut Para Ulama dan Komentar Mereka Tentang Islam

PeciHitam.org – Islam dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai agama sempurna serta terkonfirmasi agama yang diterima di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad SAW diakui sebagai orang paling sempurna, yang segala tindakannya tidak pernah menyalahi peraturan. Bahkan tindakan Muhammad SAW adalah sumber hukum bagi manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang santun, mengasihi orang banyak musuh maupun lawan, tanpa melihat status mereka. Kepribadian yang begitu kuat inilah, menjadikan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah diterima oleh sebagian besar umat manusia. Siapakah Muhammad SAW itu?

Silsilah Nabi Muhammad

Nabi Muhammad merunut sejarah Genealogi, berasal dari keturunan Ibrahim AS dari istri kedua beliau yaitu Hajar, seorang wanita keturunan Mesir. Dalam Buku Sejarah Nabi, Imam Ibnu Hisyam menulis nasab/ Nenek Moyang Rasulullah Muhammad SAW sebagai berikut:

هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ) وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ) بن هَاشِم (وَاسْمُ هَاشِمِ عُمَرُو) بن عَبْدِ مَنَافِ (وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ المغِيْرَةُ) بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن  النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ (واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ) بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام

“Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib (nama asli Abdul Muttalib adalah Syaibah) bin Hasyim (dan nama asli Hasyim adalah Umar) bin Abdu Manaf (nama asli Abdu Manaf adalah Mughirah) bin Qusayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama asli Mudrikah adalah ‘Amr) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan bin Uddad bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim AS”

Nasab Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sampai Ibrahim AS. Akan tetapi terkonfirmasi berurutan dari Ibrahim AS ke atas sampai Adam AS adalah sebagai berikut;

Baca Juga:  Biografi Ibnu Athaillah As-Sikandari Pengarang Kitab Al-Hikam

إِبْرَاهِيْمَ عليه السلام بن تَارِح(وهوَ آزَر) بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سَام بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ (وَهو إِدْرِيْسُ النَّبِي وَكانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِي النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ) ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عليه السلام

Artinya: “Ibrahim AS adalah anak laki-laki dari Tarih (atau Azar) bin Nahur bin Sarug bin Ra’u bin Falikh bin Aybar bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh bin Lamak bin Mattu Syalakh bin Akhnunkh (Akhnukh adalah adalah nama lain Nabi Idris, yang mana beliau adalah keturuanan Adam pertama yang dianugerahi kenabian dan baca tulis) bin Yard bin Malayil bin Qainan bin Yanisy bin Syits bin Adam  AS”

Perbedaan dalam Silsilah Nabi Muhammad

Sebuah perbedaan dalam urutan Nama nenek moyang nabi sangat dimungkinkan karena perbedaan dalam angka tahun, julukan dan lain-lain. Perbedaan antara yang dituliskan para ahli sejarah dan Imam Ibnu Hisyam pada Nasab di atas Kakek Nabi Adnan. Dalam perbedaan ini disebutkan oleh Prof. Sa’id Ramadhan Al-Buthi;

أَمَّا مَا فَوْقَ ذَالِكَ فَمُخْتَلَفٌ فِيْهِ, لَا يُعْتَمَدُ عَلَيْه في شَيْئٍ غَيْرُ أَنَّ مِمَّا لَا خِلَافَ فِيْهِ أَنَّ عَدْنَانَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ نَبِيِّ اللهِ ابْنِ إِبْرَاهِيْمَ خَليْلِ اللهِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ والسَّلامُ

“Adapun nasab Rasulullah di atas Adnan, para ulama berbeda pendapat, tidak ada yang bisa dianggap paling shahih. Namun, semua ulama sepakat bahwa Adnan merupakan keturunan dari Ismail, Nabi Allah putra Ibrahim Khalilullah ‘alaihis salam”

Perbedaan Nasab Rasulullah SAW yang berbeda adalah hal wajar, karena seorang Ulama mengemukakan pendapat;

سَمِعْتُ أَبَا بَكْر بْنِ سُلَيْمَانَ ابْنِ أَبِي خَيْثَمَةَ, وَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ قُرَيْشٍ بِأَنْسَبِهَا وَأَشْعَارِهَا يَقُوْلُ: مَا وَجَدْنَا أَحَدًا يَعْلَمُ مَا وَرَاءَ مَعَدَّ بْنِ عَدْنَانَ فِي شِعْرِ شَاعِرٍ وَلَا فِي عِلْمِ عَالِمٍ

“Saya mendengar Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Khaitsamah, salah seorang yang paling berpengetahuan mengenai nasab bangsa Quraish dan syair-syairnya berkata: “Tidak ditemukan seorang pun yang mengetahui nasab Rasul setelah Ma’ad bin Adnan, baik dalam syairnya para penyair maupun dalan pengetahuannya orang berilmu.”

Hal ini diungkapkan oleh Abul Aswad bin Muhammad bin Abdul Rahman, salah seorang murid dari Urwah bin Zubair.

Baca Juga:  Hoaks, Arab Saudi Tetapkan Habib Rizieq Keturunan Nabi Muhammad

Seluruh riwayat tentang Nasab Rasulullah SAW menyebutkan tentang ketersambungan Nasab beliau kepada Nabi Adam AS, manusia pertama. Nasab ini juga disebutkan dalam kitab Al-Barzanji yang sering dibaca kalangan Pesantren di Nusantara.

Disifati dalam kitab tersebut, bahwa seluruh nenek moyang Nabi Muhammad SAW adalah suci. Artinyanya Nasab Rasul dari hasil perkawinan sah secara agama dan hukum, tidak ada hasil zina.

Perbedaan Penanggalan Kelahiran Nabi Muhammad

Dalam kalender Indonesia, setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal akan diperingati sebagai hari maulid nabi/ kelahiran Nabi SAW. Akan tetapi, tanggal tersebut tidak disepakati oleh keseluruhan ahli sejarah Islam.

Dalam Hadits Rasul SAW disebutkan, bahwa Nabi menghormati Hari Senin karena hari itu Dia dilahirkan. Akan tetapi Muhammad Al-Baqir, cucu keturunan Nabi SAW, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW diahirkan pada hari jum’at.

Perbedaan lain adalah menyebutkan Nabi SAW lahir tanggal 2; tanggal 8; tanggal 10; tanggal 12; tanggal 17; tanggal 18; hingga tanggal 21/22 Rabiul Awal. Namun, pendapat yang mengatakan beliau lahir tanggal 18 atau 21 pendapat yang paling tidak sahih. Pendapat yang mengatakan tanggal 12 Rabiul Awal adalah pendapat paling masyhur (terkenal).

Oleh karennya jika ada orang memperdebatkan tentang kepastian kelahiran Nabi SAW adalah sama mengulang perdebatan masa lalu yang tidak berujung. KH. Bahaudin Nur Salim menyebut, kembali mempertanyakan kepastian kelahiran Nabi SAW adalah sudah telat. Tidak ikut pendapat yang masyhur dan lebih kuat  akan lebih aman.

Islam dan Muhammad

Islam muncul di Jazirah Arab di tengah degradasi nilai-nilai sosial dan spiritual yang hanya mengenal “Yang Kuat Berkuasa”. Nilai-nilai ini yang kemudian diperbaiki oleh Muhammad SAW sebagai keturunan dari pengurus Kakbah, situs paling ramai untuk traveling.

Peneliti barat membahas tentang Muhammad SAW dan ajaran yang beliau bawa (Islam) dengan istilah yang menarik. Beberapa Orientalis mengatakan bahwa Islam adalah istilah baru yang hadirkan oleh Muhammad SAW, untuk mengidentifikasi kelompok mereka.

Baca Juga:  Ketika Gus Dur Mengaku Sebagai Keturunan Cina, Begini Ceritanya

Huston Smith mengatakan bahwa Istilah Islam adalah sebuah keanehan, karena beberapa agama yang muncul sebelum islam, menamakan diri dengan nama pendiri atau tokoh utamanya.

Agama Budha menamkan diri dari Nama Pohon yang digunakan oleh pendirinya, Sidharta Gautama Putra, untuk bertapa. Nama agama Taoisme juga diambil dari tulisan Laozi, sang pendiri, serta Agama Yahudi dinisbatkan kepada Anak keturunan Yahuda bin Ya’qub. Seharusnya, menurut Huston Smith, Islam dinamakan Muhammadisme atau ajaran Muhammad SAW.

Penamaan Agama Islam dijelaskan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Penamaan ini adalah langsung dari Allah SWT bukan buatan Muhammad SAW. Beberapa ayat itu adalah;

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (١٣١

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam” (Qs. Al-Baqarah: 131)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al-Ma’idah: 3)

Oleh karena dasar ini, Nabi Muhammad SAW tidak menggunakan nama beliau sendiri untuk menamakan Agama baru yang muncul pada kurun waktu awal abad ke-7 M. Nabi Muhammad menggunakan terminologi (أَسْلِمْ) (الإسْلامَ) yang bermakna berserah diri kepada Tuhan Semesta Alam. Nama ini yang kemudian terkenal sebagai Agama yang membaca cinta kasih dan perdamaian.

Mochamad Ari Irawan