Peci Hitam; dari Pesantren hingga Istana Negara

peci hitam

Pecihitam.org – Dalam satu kelas kuliah “Komunikasi Agama dan Budaya” ada pernyataan yang menghentak kesadaran saya. Kala itu argumentasi antar kami, mahasiswa, menyudut ke soal penjajahan di era modern ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari sekian hujjah, argumen bahwa penjajahan paling jitu adalah penjajahan budaya merupakan yang paling kami mufakati sebagai paling realistis terjadi pada tempo mutakhir.

Gempuran dan hantaman ide, gagasan, ilmu pengetahuan, politik, hingga kebudayaan mendapat tempat paling mulus dan amat cepat di era teknologi sekarang ini. Era di mana antar teritorial suatu bangsa seakan tidak ada sekat yang membatasi. Tersebutlah istilah global village.

Global village, atau dalam penyederhanaan bahasa sebagai pendesa-buanaan adalah keadaan akibat globalisasi teknologis sehingga garis-garis pembatas antar bangsa di-maya-kan oleh jejaring internet. Batas teritori dan peta geografis seolah hangus dilahap bara api jejaring internet yang saling terkoneksi.

Orang di belahan bumi satu bisa amat mudah mengakses informasi tentang kondisi di belahan bumi yang lain berjarak bermil-mil hanya bermodal gawai teknologis dan koneksi internet. Keterjangkauan informasi dengan sekali “klik” itu tidak hanya berdampat positif.

Baca Juga:  Ribuan Pengasuh Pondok Pesantren Ini Sepakat Kembalikan Fungsi Masjid

Di jejaring internet terjadi kesalingan mendominasi bahkan apa yang disebut dengan pertempuran budaya. Kebudayaan satu berusaha mengungguli dan bahkan menegasikan kebudayaan lain.

Di era sekarang, penting sekali suatu kesadaran untuk mencintai, memuliakan, dan melestarikan produk budaya bangsa sendiri. Ketahanan budaya bukan sekadar jargon omong kosong.

Ketika Tentara Nasional Indonesia (TNI) selalu berusaha menciptakan benteng pertahanan militer, maka seyogianya segenap rakyat bahu-membahu berikhtiar membentuk ketahanan budaya bangsa sendiri. Agar eksistensinya tak tergerus zaman. Agar tetap lestari.

Salah satu produk budaya bangsa Indonesia yang patut dibanggakan adalah penutup kepala yang disebut peci hitam. Peci hitam adalah produk dari karsa dan karya peradaban bangsa yang khas dan unik Nusantara. Peci hitam ini untuk pertama kali menjadi ciri khas Indonesia sebab selalu dikenakan oleh Presiden pertama, bapak Proklamator Ir. Soekarno.

Peci hitam ini tidak cuma menjadi simbol seorang pejabat negara di mana nyaris setiap aparatur pemerintah dari tingkat RT hingga Presiden mengenakannya. Sebagai simbol budaya khas Indonesia, peci hitam juga umum dikenakan para santri pesantren. Khususnya pesantren ala Nahdliyin.

Baca Juga:  Khalid Basalamah Salah Memahami Tabarruk, Ini Kritik dari Santri

Bahkan di kampung-kampung, pecihitam lekat sebagai simbol dari seseorang muslim taat, yakni santri atau ustadz. Di pelosok kampung, tidak sembarang penduduk mengenakan penutup kepala ini. Ada naluri dan stigma kolektif masyarakat bahwa peci hitam merupakan simbol keilmuan seorang santri lulusan pesantren.

Sehingga, penduduk umum non-santri paling banter mengenakannya ketika salat berjamaah di langgar atau ketika ada acara tahlilan dan ritus keislaman lain. Tidak sembarang orang mengenakan pecihitam di dalam aktivitas keseharian.

Simbolitas pecihitam merupakan kekayaan budaya khas Indonesia yang patut dibanggakan. Peci hitam itu kini, di tahun 2019, mendapat momentum perpaduannya. Dua makna dari simbol pecihitam sebagai penutup kepala para pejabat dan para santri memperoleh kedudukan yang “pas”.

Di mana orang pesantren, KH. Ma’ruf Amin, orang yang lahir dari rahim budaya dan intelektual pesantren duduk mendampingi Ir. Joko Widodo di istana negara. Keduanya tampak tersenyum, menyiratkan arah baru Indonesia di masa esok.

Baca Juga:  Nahdlatul Ulama dan Masa Depan Sumber Daya Energi Indonesia

Keduanya dipotret mengenakan peci hitam. Dilantik di bulannya orang-orang pesantren; Oktober. Di mana telah dimafhumi umum bahwa dua hari paska pelantikan RI-1 dan RI-2 itu adalah Hari Santri Nasional (HSN): 22 Oktober.

Peci hitam bukan sekadar simbolisme orang-orang pesantren. Peci hitam telah menjelma menjadi identitas bangsa dan negara. Sebagai simbol kebudayaan, peci hitam bermakna menegaskan (kembali) bahwa Negara Indonesia lahir dari rahim bangsa Indonesia di antaranya dibidani oleh orang-orang pesantren.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.