Pengertian Amm dan Klasifikasinya dalam al-Quran

Pengertian 'Amm dan Klasifikasinya dalam al-Quran

PeciHitam.org – Di dalam Al-Quran terdapat sistem hukum tasyri’  (penetapan perundang-undangan). Hukum tersebut memiliki sasaran tertentu, tergantung kepada siapa hukum diperuntukkan. Suatu hukum di dalam al-Quran kadangkala mengandung sejumlah karakteristik yang menjadikannya bersifat umum dan meliputi semua individu dan atau cocok untuk semua keadaan. Namun, kadang pula sasaran itu terbatas dan bersifat khusus. Oleh karenanya di dalam al-Quran ditemukan ‘amm dan Khass.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pengertian ‘Amm

Menurut bahasa, ‘amm menurut bahasa berarti merata atau yang umum. Sedangkan menurut istilah ialah:

اللفظ المستغرق لجميع ما يصلح بحسب وضع واحد دفعة

Lafad yang meliputi pengertian umum terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafad itu dengan hanya disebut sekaligus.

‘Amm juga diartikan sebagai lafad yang sengaja dikehendaki oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna yang benar yang dapat mencakup seluruh kesatuan-kesatuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Makna ‘amm meliputi dan mencakup semua kesatuan yang tidak terbatas tanpa terkecuali.

Manna’ al-Qaththan dalam bukunya Mabahith fi Ulum al-Quran menyatakan bahwa sighat ‘amm yang biasa dipakai antara lain, pertama, kull, seperti firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 127; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Semakna dengan lafad kull adalah lafad jami’.

Kedua, lafad yang dima’rifahkan dengan al (alif lam) yang bukan al-‘ahdiyah.

Contoh: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”

Al (alif lam) yang dimaksud di sini pada lafad “al-insan”. Maksudnya setiap manusia, berdasarkan ayat selanjutnya:  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh).

Ketiga, isim nakirah dalam konteks nafy dan nahy, seperti: فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ (maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji).

Keempat, التي dan الذي serta cabangnya.

Kelima, semua isim syarat. Contohnya:

Keenam, ism al-Jins (kata jenis) yang disandarkan kepada isim ma’rifah. Sebagai contohnya surat An-Nur ayat 63:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ

Maksudnya, melanggar segala perintah Allah.

Klasifikasi ‘amm

Para ulama’ berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan ‘amm. Ada yang membagi ‘amm menjadi dua, yaitu pertama, umum shumuliy, semua lafad umum yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku bagi setiap manusia.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam). (QS. al-Nisa’: 1)

Baca Juga:  Surah Al Baqarah Ayat 56-60; Terjemahan dan Tafsir

Kata an-nas di atas merupakan bentuk lafad umum yang berarti manusia. Pada ayat ini seluruh manusia dituntut untuk bertakwa kepada Allah SWT tanpa terkecuali. Perintah tersebut berlaku bagi setiap manusia. Kedua, umum badaliy, lafad yang dipergunakan dan dihukumkan serta berlaku bagi afrad (pribadi).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Pada ayat di atas yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang Mukmin (الَّذِينَ آمَنُوا). Keimanan hanya bisa diketahui oleh Tuhan dan pelaku sendiri. Keumuman yang terdapat dalam ayat ini merujuk kepada masing-masing individu. ‘amm ini dikenal dengan ‘amm badaliy atau umum badaliy.

Kitab Mabahits fi Ulum al-Quran mengklasifikasikan ‘amm menjadi tiga. Pertama, ‘amm yang tetap dalam keumumannya. Jalaluddin al-Baqilani mengatakan, ‘amm seperti ini jarang ditemukan, sebab tidak ada satu pun lafad ‘amm kecuali di dalamnya terdapat takhsis. Tetapi, Zarkasyi dalam kitab al-Burhan mengemukakan, ‘amm demikian banyak terdapat dalam al-Quran. Ia mengajukan beberapa contoh, antara lain:

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 23-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ

‘Amm dalam ayat-ayat ini tidak mengandung kekhususan.

Kedua, ‘amm yang dimaksudkan khusus. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 173:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

‘al-Nas’ yang pertama adalah Nu’aim ibn Mas’ud. Sementara al-Nas yang kedua adalah Abu Sufyan. Kedua lafad tersebut tidak dimaksudkan untuk makna umum, tetapi yang dimaksudkan adalah makna khusus.

Ketiga, ‘amm yang dikhususkan. ‘Amm semacam ini banyak ditemukan dalam al-Quran, seperti yang telah di bahas di atas.

Mohammad Mufid Muwaffaq