Penyakit Ain, Penyebab dan Pengobatannya Menurut Islam

penyakit ain

Pecihitam.org – Selama ini mungkin kita sering mendengar istilah penyakit ain. Namun demikian, ternyata banyak di antara kita yang belum paham apa sebenarnya penyakit ain dan bahaya yang dapat disebabkan penyakit ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penyakit ain itu berasal dari pandangan mata yang bisa menyebabkan orang lain sakit, atau bahkan meninggal dan hal ini nyata adanya. Tentunya penyakit ain ini begitu berbahaya dan menakutkan. Lalu apa sebenarnya hakekat ain tersebut, bagaimana cara mencegahnya dan bagaimana menyemuhkannya? Simak pemaparan singkat ini.

Apa Itu Penyakit Ain?

Penyakit Ain, Kena Mata atau Mata Jahat, adalah sebuah keyakinan bahwa seseorang dapat membahayakan atau menyihir orang lain dengan cara hanya sekadar melihat korbannya. Dalam terminologi Islam penyakit ‘ain adalah perasaan kagum ataupun iri dengki terhadap orang lain yang ditimbulkan oleh pandangan mata.

Penyakit ain ini bisa bersumber dari pandangan orang yang dengki dan jahat karena iri atau hasud, juga bisa timbul dari pandangan orang yang kagum, cinta dan orang baik karena takjub yang meluap-luap tanpa dibarengi dzikrullah juga dapat membawa pengaruh negatif terhadap objeknya.

Pernah dikisahkan sebanyak 70.000 penduduk meninggal dunia seketika setelah salah seorang nabi di masa dahulu yang melewati negeri mereka memandang takjub akan padat penduduk dan makmurnya mereka..

Hal ini juga dapat muncul dari orang yang jahat ataupun orang yang baik, entah sang pelaku melakukannya dengan sengaja ataupun tidak menyadari, dengan izin Allah. Sebab pandangan mata tersebut menjadi jalan bagi dan dimanfaatkan oleh Setan sehingga memiliki potensi bahaya bagi orang yang terkena.

Setan suka sekali dengan orang yang ‘ain, dan keadaan ini dimanfaatkan oleh setan untuk menghasut orang yang ‘ain tersebut. Sehingga menimbulkan penyakit bagi orang itu baik berupa penyakit fisik maupun psikis.

Baca Juga:  Berdzikir Menggunakan Tasbih, Bagaimanakah Hukumnya?

Imam Ibnu Atsir mengatakan: “Bahwa seseorang terkena ‘ Ain, yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit.” (An-Nihayah 3/332)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari berkata: “’Ain adalah pandangan suka disertai hasad yang berasal dari tabiat yang jelek, yang dapat menyebabkan orang yang dipandang itu tertimpa suatu bahaya.” (Fathul Bari 10/200). Ia menambahkan, “Bahwa ‘ain dapat terjadi bersama rasa takjub walau tanpa adanya sifat iri, walau dari orang yang mencintai dan dari seorang yang shalih (tanpa disengaja).” (Fathul Bari 10/205)

Dalam kasus tertentu, bahkan penyakit ini bisa terjadi meski tanpa melihat langsung korbannya, semisal melalui foto atau video. Bahkan orang buta sekalipun yang hanya mendengar cerita yang membangkitkan jiwanya untuk mendengki.

Berkata Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad: “Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian kepadanya diceritakan tentang sesuatu, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab yang bisa menjadi sebab-sebab terjadinya ‘ain, meskipun dengan cerita saja tanpa melihat langsung”[6]

Meskipun penyakit ini terlihat tidak masuk akal karena terkadang gejalanya tidak terdeteksi oleh ilmu medis namun penyakit ini nyata dan ada. Rasulullah SAW bersabda:

العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim no. 2188).

Selain itu dapat pula diobati dengan ruqyah yang syar’i. . Sedangkan penggunaan jimat dan gantungan penolak bala tidak diperkenankan dalam Islam.

Perkataan Nabi S.A.W.: “Apabila seorang dari kalian melihat sesuatu dari saudaranya, atau melihat diri saudaranya, atau melihat hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuk saudaranya tersebut, karena sesungguhnya penyakit ‘ain benar-benar ada.”

Mengobati Penyakit Ain

Sayangnya penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan taupun perawatan medis. Karena ‘ain merupakan bentuk penyakit hati yang mengganggu kesehatan secara mental. Oleh karena itu penyakit ‘ain merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang mana gejala dari penyakit ‘ain ini muncul tanpa kita sadari dan akan berlangsung secara terus-menerus bahkan sampai menyebabkan pada kematian.

Baca Juga:  Sejarah dan Filosofi Ketupat Lebaran, Kaum Milenial Harus Tahu!

Penyakit ‘ain bukanlah penyakit pada jaman modern ini saja, namun sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW. Banyak juga hadist-hadist yang menjelaskan tentang bahaya dari penyakit ‘ain ini , seperti hadist berikut;

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ

“Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain”

Adapun setiap masalah pasti ada solusi dan obatnya begitu pula dengan penyakit ‘ain yang pastinya ada cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi kemalangannya.

1. Dzikir dan mendekatkan diri pada Allah

Orang yang terkena penyakit ain bisa mengatasinya dengan sering-sering memperdengarkan bacaan dan mengajak untuk membaca Al-Qur’an serta dzikir dan doa kepada Allah. Karena sesungguhnya segala suatu perkara datangnya adalah dari Allah maka dengan berdoa, mengingat dan tawakal kepada-Nya insyaAllah penyakit ain akan sembuh.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

“Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).

2. Membaca doa yang diajarkan Nabi

Penyakit ‘Ain ini ditanggulangi dengan cara dituntunkan bagi orang yang terpukau atas sesuatu untuk mengucapkan doa keberkahan atas sesuatu tersebut. Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai berikut untuk melindungi anak-anak dari semua pengaruh tersebut.

أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ

U‘idzuka bikalimatillahit tammati min kulli syaithanin, wa hammatin, wa min kulii ‘ainin lammah. Allahumma barik fihi, wa la tadhurrah.

Artinya, “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.”

Baca Juga:  Definisi Bid’ah Menurut Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah

Doa ini diangkat oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar. Di dalam karyanya itu, ia menyebutkan sejumlah hadits yang berkenaan dengan sejumlah gangguan yang dapat menyebabkan mudarat pada anak-anak.

3. Tidak berlebihan dan sombong

Terlalu membanggakan kehidupan pribadi dan membagikannya kepada orang lain secara berlebihan yang dapat menimbulkan rasa kagum dan benci yang hal ini sangat mungkin dimanfaatkan oleh setan untuk meluncurkan hasad pada korban.

4. Berwudhu.

Wudhu juga dapat dilakukan untuk mengatasi kemalangan akibat penyakit ain. Jadi orang penyebab kemalangan ain tersebut berwudhu, lalu air bekas wudhunya dipakai untuk mandi atau membasuh tubuh orang yang terkena Ain tersebut.

Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata :

كانَ يُؤمَر العائِنُ، فيتوضّأُ، ثم يَغْتَسِلُ منه المَعِينُ

“Dahulu orang yang menjadi penyebab ‘ain diperintahkan untuk berwudhu, lalu orang yang terkena ‘ain mandi dari sisa air wudhu tersebut” (HR Abu Daud no 3885)

5. Ruqyah syariyah

Ruqyah Syariyah, yaitu ruqyah yang diperbolehkan menurut syariat Islam seperti dengan cara membacakan ayat Al-Qur’an, meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah, dzikir dan doa dengan maksud menyembuhkan sakit.

Dari Asma binti Umais radhiallahu’anha, ia berkata:

يا رسول الله ، إن بني جعفر تصيبهم العين ، أفنسترقي لهم ؟ ، قال : نعم ، فلو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

“Wahai Rasulullah, Bani Ja’far terkena penyakit ‘ain, bolehkah kami minta mereka diruqyah? Nabi Saw menjawab: iya boleh. Andaikan ada yang bisa mendahului takdir, itulah ‘ain” (HR. Tirmidzi no.2059, Ibnu Majah no. 3510

Demikian semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik