Alternatif Perempuan NU Tingkat Bawah Untuk Mengatasi Ketertindasan

Alternatif Perempuan NU Tingkat Bawah Untuk Mengatasi Ketertindasan

Pecihitam.org- Telah banyak pemikiran politik perempuan NU yang mainstream dan melingkupi banyak isu. Namun demikian, kondisi perempuan NU pada tingkat bawah tidak banyak berubah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka masih mengalami banyak ketertindasan dan ketidakadilan. Sistem patriarki hanya bisa menerima hubungan heteroseksualitas, yang didalam masyarakat kemudian dilegalkan dalam lembaga perkawinan.

Dalam kehidupan perkawinan, perempuan seringkali hanya ditempatkan sebagai objek seks, karena seks hanya untuk kepentingan laki-laki. Dalam rumah tangga, perempuan ditempatkan pada posisi untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan di dalam keluarga, dan pada kondisi tertentu, perempuan juga sekaligus menjadi pencari nafkah.

Disisi lain, peluang kerja yang dimiliki perempuan di tingkat bawah terbatas. Mereka yang dianggap memiliki kompetensi rendah hanya bisa mengakses jenis-jenis pekerjaan tertentu dengan upah rendah.

Perempuan juga mengalami berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh lakilaki, di ranah publik, juga di ranah privat yang seringkali dianggap sebagai tempat teraman bagi perempuan.

Sedangkan masyarakat cenderung permisif terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, bahkan dengan alasan tertentu, perempuan dianggap wajar menerima perlakuan tersebut.

Baca Juga:  Hukum Mencintai Istri Orang Lain menurut Islam

Cara hidup, perilaku dan sikap perempuan sehari-harinya ditentukan oleh patriarki yang dikonstruksi melalui agama, lembaga pendidikan, juga dari berbagai media yang ada di masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh negara yang diskriminatif terhadap perempuan dengan mengeluarkan produk-produk kebijakan patriarki.

Diluar lingkaran elite dan kelembagaan perempuan NU diatas, ada pemikiran yang berbeda secara substansi, yang disebarkan tidak melalui lembaga-lembaga formal perempuan NU.

Di forum-forum pengajian, arisan, dan forum aktivitas ekonomi perempuan NU tingkat bawah, bisa ditemukan pemikiran alternatif yang non-mainstream.

Forum-forum tersebut menjadi ruang bagi perempuan NU di tingkat bawah untuk berdiskusi, mengaktualisasikan kepentingannya, sekaligus sebagai media ekspresi pemikiran-pemikirannya.

Peluang terbatas perempuan di ruang politik tergantikan dengan forum yang memberikan ruang untuk membangkitkan kesadaran menuju keberdayaan yang esensi bagi kehidupan mereka.

Perempuan NU di tingkat bawah dengan kompleksitas latar belakang budaya, pendidikan, dan tingkat ekonomi, memiliki pemikiran alternatif untuk mengatasi ketertindasan dan ketidakadilan yang masih terus dialaminya.

Baca Juga:  Konsep Kafa’ah Dalam Hukum Perkawinan Di Indonesia

Pemikiran untuk mengubah struktur yang menindas dalam keluarga, pemikiran untuk menggugat sistem ekonomi yang diskriminatif perempuan, pemikiran anti kekerasan dan pemikiran untuk menggugat patriarki yang membatasi gerak dan ekspresinya, bahkan terkait dengan seksualitas, bisa ditemui dalam forum-forum tersebut.

Perempuan di tingkat bawah berpikir bahwa struktur yang didominasi oleh lakilaki, baik dalam posisi sebagai ayah, ataupun sebagai suami dalam rumah tangga adalah salah dan perlu diubah.

Sistem ekonomi yang dibangun pemerintah dan masyarakat patriarki tidak memberi tempat bagi perempuan tingkat bawah untuk membangun perekonomiannya.

Meskipun perempuan ditingkat bawah terbiasa melakukan jenis-jenis pekerjaan yang sama dengan yang dilakukan oleh laki-laki, namun anggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama bagi keluarga masih ada. Mereka lantas berpikir untuk berbagi beban atas pekerjaan-pekerjaan dalam rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai tugas perempuan.

Kekerasan yang dialami oleh perempuan, baik secara fisik maupun psikologis, telah memunculkan pemikiran untuk membongkar akar kekerasan, bahwa dengan alasan apapun, tidak ada yang boleh melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Baca Juga:  Begini Penjelasan Tentang Mitos Nikah di Bulan Suro Atau Muharram

Bukan hanya kekerasan yang dilakukan oleh individu, yang kebanyakan pelakunya adalah laki-laki, tetapi juga kekerasan oleh perempuan lain, oleh institusi negara, maupun kekerasan oleh masyarakat.

Pemikiran tentang kebebasan berekspresi bagi perempuan, termasuk yang terkait dengan seksualitasnya, muncul seiring dengan meningkatnya kesadaran akan otoritas perempuan atas tubuhnya.

Mereka mulai berpikir bahwa perempuan berhak untuk memilih pasangan hidupnya, memilih untuk menikah atau tidak menikah, bahkan memilih untuk punya anak atau membatasi jumlah anak yang diinginkannya.

Mochamad Ari Irawan