Qasidah Salamullah Ya Sadah; Tradisi Nusantara Ketika Mengunjungi Makam Auliya

Qasidah Salamullah Ya Sadah; Tradisi Nusantara Ketika Mengunjungi Makam Auliya

PeciHitam.org – Penyebar Islam kiranya berhak untuk mendapat penghormatan atas jasa-jasa mengenalkan Islam kepada mereka yang belum masuk Islam. Penyebar Islam periode awal, seperti Nabi Muhammad SAW, para Sahabat dan Tabiin, Tabi Tabiin.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka pada sahabat dan salafus shaleh dan yang utama Nabi Muhammad SAW selalu mendapatkan doa dari segenap umat Islam seluruh dunia melalui shalawat yang sering dibaca dalam majlis-majlis Ilmu. Untaian doa akan selalu terpanjat kepada mereka dalam rangkain Diba, Manaqib dan Istighasah serta berbagai acara lainnya.

Penyebar Islam di Nusantara kiranya juga pantas untuk mendapatkan penghormatan dari kaum muslim melalui doa, tahlil, tawassul dan menziarahi makam  mereka untuk mendoakan.

Sebagaimana dalam kegiatan ziarah makam Wali dan tokoh penyebar Islam di Nusantara biasanya sebagai penghormatan, peziarah melantunkan Qasidah Salamullah Ya Sadah.

Qasidah ini biasanya digunakan sebagai pengiring doa masuk makam yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW. Berikut penjelasan tentang Qasidah Salamullah Ya Sadah.

Dasar Hukum Ziarah Makam

Ulama dari Pesantren Krapyak Yogyakarta, KH. Ali Maksum menyusun kitab, Hujjatu Ahlis sunnah wal Jamaah untuk mengcounter pendapat orang yang melarang ziarah makam, termasuk makam para walisongo.

Harus diketahui, hukum tentang ziarah kubur adalah amalan yang mengalami perubahan (nasikh-mansukh). Nasakh-Mansukh adalah amalan ibadah yang pernah dilakukan kemudian di mansukh atau digantikan dengan amalan ibadah lainnya.

Hukum awal ziarah Kubur memang Haram akan tetapi hukumnya dimansukh dengan amalan baru bahwa Ziarah Kubur adalah Sunnah.

Bukan tanpa dalil, Rasulullah pernah bersabda dalam Hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab sahih Muslim;

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Artinya; Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, (HR. Muslim)

Jika kita analisis redaksi Hadits di atas akan kelihatan bahwa hukum awal menjadi mansukh dengan adanya Nasikh. Sederhananya, Islam pernah melarang ziarah kubur, akan tetapi sekarang menjadi sunnah sesuai dengan perintah Rasulullah SAW (فَزُورُوهَا)-maka sekarang kalian berziarahlah.

Hukum Ziarah Kubur adalah Sunnah maka siapa saja yang berziarah akan mendapat pahala. Oleh karenanya jika ada orang yang menuduh peziarah Makam Wali adalah golongan Musyrik, maka penuduhnya akan mendapat dosa besar.

Baca Juga:  Hubungan NU dan Santri yang Tak Terpisahkan

Selian hukum menziarahi makam adalah sunnah, manfaat yang terkandung dalam ziarah kubur juga tidak dapat dikesampingkan. Dalam riwayat Rasulullah tidak hanya memerintahkan ziarah kubur, akan tetapi beliau juga menjelaskan manfaat-manfaat ziarah kubur. Keterangan manfaat ziarah Kubur sebagaimana Hadits berikut;

فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً

Artinya; “Sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan air mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah), (HR. Hakim).

Setidaknya dari Hadis di atas disebutkan bahwa manfaat ziarah kubur ada 4 manfaat sebagai berikut;

  1. (يُرِقُّ الْقَلْبَ)-melunakan Hati. Faidah Orang yang berziarah Kubur akan membuat hati seseorang lembut karena teringat akan hari kemudian tidak ada bekal kecuali amal. Orang sekaya apapun hanya akan diletakan pada tanah yang sempit dan kegelapan liang lahat. Tidak mungkin orang akan bersombong jika ingat kematian dan pekuburan yang sempit.
  2. (تُدْمِعُ الْعَيْنَ)-menitikan air mata. Orang berziarah seketika akan dihadapkan kepada pemandangan sepi dan sunyi. Membayangkan orang mati yang tidak memiliki teman akan sangat membuat hati trenyuh dan menitikan air mata.
  3. (تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ)-mengingatkan kepada Akhirat. Jelas sekali bahwa ziarah akan membuat orang ingat dengan akhirat dan kematian. Mengingat bahwa tidak ada kemegahan dalam kematian, apalagi sombong dengan harta. Untuk bisa memanfaatkan harta setelah kematian saja tidak akan mampu.
  4. (لَا تَقُولُوا هُجْرً)-jangan berkata buruk saat ziarah. Sopan santun ketika berziarah harus dijaga sebagaimana orang bertamu.

Manfaat yang terkandung dalam ziarah makam, tidak terkecuali makam para walisongo dan tokoh penyebar Islam lainnya, sangat besar untuk mengingatkan perjuangan mereka ketika hidup. Gunanya, kita mencari Itibar atau bandingan contoh untuk bisa ditiru kisah dan perjuangan mereka.

Doa Masuk Makam

Rasulullah SAW sendiri dalam memerintahkan  untuk berziarah makam sudah melakukan terlebih dahulu praktek tersebut. Bahkan sejak kecil, Rasulullah SAW sudah dikenalkan dengan praktek ziarah Kubur sebagaimana Aminah RA, ibunda Rasul, mengajak Muhammad kecil untuk berziarah ke makam ayahnya di Madinah.

Ketika menjadi Nabi, Rasulullah SAW membiasakan diri untuk mengunjungi pemakaman Baqi pada saat mendapat giliran bermalam bersama Aisyah binti Abu Bakar, Istri Nabi. Aisyah RA meriwayatkan bahwa;

Artinya; Rasulullah setiap kali giliran menginap di rumah Aisyah, beliau keluar rumah pada akhir malam menuju ke makam Baqi seraya mengucapkan salam: Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukmin. Segera datang apa yang dijanjikan pada kalian besok. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penghuni kubur Baqi Gharqad, (HR. Muslim).

Ketika mengujungi Makam Baqi pada malam hari, Rasulullah SAW bukan hanya sekedar jalan-jalan dan melihat makam para sahabat saja, akan tetapi beliau mengucapkan salam;

Baca Juga:  Inilah 9 Tradisi dan Amaliyah NU yang Umum di Masyarakat

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

Artinya; Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian (HR. Muslim)

Ketika selesai membaca salam tersebut, Rasulullah SAW kemudian membaca Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah bisa dikontekstualisasikan atau disesuaikan dengan makam yang kita kunjungi.

Ketika mengunjungi makam walisongo maka bisa menggunakan redaksi Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Kadilangu, Sunan Kalijaga dan lain sebagainya. Karena doa sendiri bersifat fleksibel dan sangat  tergantung dengan makam siapa yang dikunjungi.

Doa yang dilantunkan ketika ziarah kubur juga tidak melulu hanya doa di atas. Bisa menggunakan redaksi lain salah satunya berupa Qasidah Salamullah Ya Sadah. Doa dalam bentuk Qasidah ini, memiliki kandungan makna yang baik untuk mendoakan para wali dan penyebar agama lainnya.

Qasidah Salamullah Ya Sadah

Memahami Qasidah Salamullah Ya Sadah untuk dilantunkan ketika mengunjungi makam para wali dan tokoh penyebar Islam lainnya harus makna kadungannya. Karena memang Qasidah Salamullah Ya Sadah bukan barasal dari matsurat (doa dari Hadits Nabi).

Akan tetapi tidak berarti semua doa selain dari Nabi SAW menjadi terlarang. Sebagaimana doa yang sering kita utarakan kepada Allah SWT, tidak semua berbahasa Arab atau dari riwayat Nabi, akan tetapi tidak ada larangan untuk itu.

Sama halnya dengan Qasidah Salamullah Ya Sadah bisa digunakan untuk mendampingi doa masuk makam, karena kandungan dalam Qasidah tersebut berupa doa dan pujian. Doa untuk para wali dan penyebar Islam menjadi pantas atas jasa dan perjuangan mereka selama hidup.

Baca Juga:  Bersama PBNU, Arab Saudi Akan Menuju Islam Moderat

Dalam tradisi di Nusantara, qasidah Salamullah Ya Sadah banyak ditemukan ketika peziarah masuk Makam dan setalah mengucapkan salam seperti dalam riwayat Nabi. Berikut Redaksi Qasidah Salamullah Ya Sadah dan makna,

سَـــلاَمُ اللهِ يـَا سَــــادَةْ           مِنَ الرَّحْمٰنِ يَغْـْشَاكُمْ

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Wahai Tuanku, semoga salam Allah tetap tercurah padamu.

 عِبَــــادَ اللهِ جِـئْنــــاَكُمْ            قَـصَدْنَاكُمْ طَلَبْنَاكُمْ

Wahai hamba-hamba Allah, kami datang kepadamu.

Kami bermaksud (bersentuhan dengan rohanimu) dan kami berharap (berkahmu).

تُـعِيـْنُوْنَـــــا تُـغِيْثُوْنَـــا            بـهِمَّتِكُمْ وَجَدْوَاكُمْ

Untuk menolong kami, menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu

 sesuai dengan tekad dan pencapaianmu (selama ini).

عَسَى نُحْظَى عَسَى نُعْطَى        مَـزَايـا مِنْ مَزَايـَاكُمْ

Mudah-mudahan kami diberi (Allah) keberuntungan dan diberi limpahan karunia

yang selama ini dianugerahkan kepadamu.

عَسَى نَظْرةْ عَسَى رَحْمَةْ      تَـغْشَـانَا وَتـَغْشَاكُمْ

Maka cintailahlah dan berikanlah kepada kami hal-hal yang Allah berikan dan hadiahkan padamu.

وَصَلَّى اللهُ مـَوْلاَنـــاَ          وَسَلَّمْ مَا أَتَـيْنـاكُمْ

عَلَى الْمُحـْتَارِشَـافِعِنَـا          وَمُـنْقـِذِنـَا وَإِيَّاكُمْ

Mudah-mudahan rahmat Allah dan keselamatan semakin terlimpah kepada tuan kita,

manusia pilihan yang mensyafaati dan menyelamatkan kita.

 Qasidah Salamullah Ya Sadah mengandung penghormatan kepada para Auliya untuk diberikan derajat tinggi disisi Allah SWT. Melalui doa tersebut harapannya, bagi para peziarah yang melafadzkan maupun yang mendengarnya juga mendapat hal yang sama disisi-Nya atau dengan kata lain kecipratan berkahnya.

Pengharapan sederhana yang sering dicap sebagai penyembah Makam oleh mereka yang tidak paham bahasa keindahan. Doa ini benar-benar mewakili penghormatan, doa dan harapan untuk bisa memiliki derajat dan keistimewaan para wali. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq