Rajin Ibadah Tapi Tidak Menutup Aurat, Ternyata Begini Pahalanya

rajin ibadah tapi tidak menutup aurat

Pecihitam.org – Dalam syariat islam, ketentuan menutup aurat di wajibkan bagi seluruh kaum wanita. Namun, sekarang ini masih banyak para wanita yang merasa ragu untuk berhijab dan menutup auratnya dengan baik. Ada saja yang di jadikan alasan ketika di ingatkan untuk berhijab.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagian besar beranggapan bahwa yang terpenting itu menghijabi hati dulu, baru berhijab menutup aurat dan masih banyak lagi alasan-alasan mereka lainnya.

Memang banyak dari kaum wanita yang rajin dalam beribadah, namun sayangnya dia belum memantapkan hati untuk berhijab atau berjilbab menutup aurat. Kira-kira apakah seorang muslimah yang rajin ibadah tapi tidak menutup aurat itu ibadahnya juga bisa di terima oleh Allah Swt?

Hal pertama yang perlu kita ketahui adalah menutup aurat bagi seorang wanita merupakan sebuah kewajiban yang tidak perlu di pertentangkan lagi (al-ma’lum min ad-din bidh-dharurah). Ketentuannya sama seperti ibadah sholat, puasa dan haji yang di hukumi wajib bagi orang islam.

Sehingga, seharusnya tidak ada lagi keraguan bagi wanita muslim untuk berhijab menutup auratnya. Apalagi Al-Qur’an telah menyebutkansecara tegas tentang perintah bagi seorang muslim untuk menutup auratnya.

Ibadah-ibadah yang di wajibkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya, saling berdiri sendiri sehingga orang yang rajin mendirikan sholat namun tidak berpuasa, maka sholat yang ia kerjakan tidak dapat menggugurkan dosa dirinya tidak berpuasa. Sama halnya dengan seorang yang tidak berhijab, maka dosanya pun tidak lantas terhapus oleh niat sholat yang di kerjakannya.

Baca Juga:  Berpikirlah Kembali Membeli Buku Jika Bertitel Nashiruddin Al Albani

Di dalam Surah Al-Maidah ayat 5 menjelaskan sebagai berikut:

ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآ خرة من الخا سرين

“…Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat Islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5)

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang yang telah beriman namun tidak sepenuhnya melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, maka Allah Swt menyebutkan bahwa mereka termasuk orang yang rugi karena pahala dari amalan yang telah ia kerjakan akan terhapus oleh perbuatan maksiat yang ia lakukan.

Rasulullah Saw juga pernah bersabda sebagai berikut:

“ Ada satu masa yang paling aku takuti, di mana ummatku banyak yang mendirikan sholat, tetapi sebenarnya mereka bukan mendirikan shalat dan neraka jahanamlah bagi mereka.”

Adapun yang di maksud dengan “bukan mendirikan sholat” adalah nilai-nilai yang ada di dalam ibadah sholat. Seorang wanita yang rajin ibadah sholat tapi tidak menutup aurat, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ia masih belum menerapkan sholatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada dasarnya, sholat dapat mencegah seseorang dari perbuatan yang munkar. Sebagaimana yang di sebutkan dalam Dalam Al-Qur’an, pada Surah Al-Ankabut ayat 45 berikut ini:

Baca Juga:  Makanan Haram dan Makanan Halal, Adakah Hikmahnya Bagi Manusia?

ان الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

“Dirikanlah sholat. Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45

Adapun sebuah hadist qudsi yang menjelaskan tentang ibadah sholat yang di terima oleh Allah Swt, sebagai berikut:

انما اتقبل اصلاة ممن تواضع بها لعظمتي ولم يستبطل بها على خلقي ولم يبت مسرا علي وقطع النهار لذكري ورحمالمسكين وابن السبيل ورحم المصاب

“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri dengan sholatnya karena kebesaran-Ku, yang tidak menyombongkan diri karena makhluk-Ku, yang tidak mengulangi maksiat kepada-Ku, yang mengisi sebagian siang dengan berdzikir kepada-Ku, yang menyayangi orang miskin, orang yang dalam perjalanan, wanita yang di tinggal mati suaminya, dan mengasihi orang yang di timpa musibah.”(HR.Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil di atas menjelaskan apabila sholat yag di lakukan belum cukup menjadikan diri kita untuk menutup aurat, maka sebenarnya sholat yang di kerjakan selama ini hanyalah secara lahiriyah saja, namun hatinya belum mencapai kekhusyu’an yang membuatnya merasa takut pada Allah Swt.

Bahkan pada zaman Rasulullah Saw, ada seorang wanita yang rajin beribadah sholat dan berpuasa tetapi ia suka menyakiti hati tetangganya. Maka Rasulullah Saw bersabda:

Baca Juga:  Jangan Loyo! Seorang Mukmin Sejati Harus Semangat Dalam Beramal

“Tidak ada kebaikan padanya, dia di neraka.”

Bagi kaum muslimah sebaiknya segera memantapkan hati untuk berhijab sebagai bentuk rasa takut kita kepada Allah Swt dan siksa-Nya. Apabila seseorang membiarkan auratnya terbuka dan terlihat oleh orang-orang yang bukan mahram, maka sebaiknya bertaubat kepada Allah Swt dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Dari sini dapat kita pahami, bahwa seorang wanita muslimah yang rajin ibadah tapi tidak menutup aurat maka pahalanya akan terhalang oleh dosa dari perbuatan munkarnya tersebut. Karena sama saja ia tidak memenuhi perintah Allah Swt untuk menutupi auratnya. Bahkan di sebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mereka termasuk orang yang merugi karena pahala ibadahnya habis untuk dosa-dosa yang telah di lakukan.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik