Klepon Tidak Islami? Tenang, Rasulullah Saja Pernah Makan Keju dengan Santainya

Rasulullah Saja Pernah Makan Keju

Pecihitam.org – Islam itu adalah agama yang mudah, namun ada sebagian orang yang berfikiran sempit dan menjadikan agama Islam ini tampak merepotkan. Padahal kerepotan itu tak lain muncul dari pemeluknya yang tidak memahami secara lengkap pandangan Islam. Salah satunya adalah masalah makanan klepon yang beberapa waktu ini sempat viral karena diangggap tidak syari.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Padahal Islam sama sekali tidak membagi makanan dalam kategori ini makanan syari dan tidak, yang ada makanan halal dan haram. Lah,, kalau klepon itu dianggap tidak Islami, bagaimana dengan keju yang notabene itu bukanlah produk makanan orang-orang Muslim?

Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Nabi Muhammad sendiri pernah memakan makanan olahan dari negeri pemeluk agama lain yaitu keju. Bahkan beliau Saw tanpa menanyakan, apakah makanan yang hendak beliau makan itu halal atau tidak.

Dalam kitab syarah hadis berjudul Marqatul Mafatih syarah Misykatul Mashabih karya Mula ‘Ali al-Qari diungkapkan bahwa Imam at-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang jayyid, meski gharib:

أنه عليه الصلاة والسلام أتي بجبنة في غزوة فقال له عليه الصلاة والسلام أين يصنع هذا قال بفارس أي أرض المجوس إذ ذاك فقال عليه الصلاة والسلام ضعوا فيها السكين وكلوا فقيل يا رسول الله نخشى أن يكون ميتة فقال سموا الله وكلوا

Baca Juga:  Ikhwanul Muslimin dari Gerakan Dakwah Jadi Politik dan Sayapnya di Indonesia

Suatu kali, di sebuah peperangan, Rasulullah didatangi seseorang dengan membawa sepotong keju. Rasulullah kemudian bertanya, “Di mana makanan ini dibuat?” orang itu lantas menjawab, “Di negeri Persia”. Lelaki itu menerangkan makanan itu dibuat di daerah orang Majusi, atau para penyembah api. Lalu Nabi SAW pun bersabda, “Letakkan potong makanan tersebut, lalu makanlah!” Lalu ada yang protes: “Wahai Rasulullah, Kami takut makanan itu dibuat dari bangkai”. Nabi kemudian berkata: “Bacalah basmallah lalu makanlah”.

Coba kita lihat, betapa santainya Rasulullah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya mengenai makanan. Padahal beliau saat itu tidak tahu apakah makanan tersebut halal atau haram.

Dalam kitab Sabilul Huda war Rasyad karya Muhammad ibn Yusuf as-Shalihi as-Syami, ada bab tersendiri mengenai bahwa Rassulullah Saw pernah memakan keju buatan orang nasrani:

السابع: في أكله صلى الله عليه وسلم الجبن الذي من عمل النصارى. روى مسدد وأبو داود وابن حبان في صحيحة والبيهقي عن ابن عمر رضي الله تعالى عنهما قال: أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بجبنة في تبوك من عمل النصارى فقيل: هذا طعام تصنعه المجوس فدعا بسكين فسمى وقطع. وروى الطيالسي عن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما فتح مكة رأى جنبة فقال: (ما هذا ؟) فقالوا: طعام يصنع بأرض العجم فقال: (ضعوا فيه السكين وكلوا). وروى الإمام أحمد ومحمد بن عمر الأسلمي والبيهقي عنه قال: أتي رسول الله صلى الله عليه وسلم بجبنة في غزاة تبوك، فقال صلى الله عليه وسلم: (أنى صنعت هذه ؟) قالوا: بفارس، ونحن نرى أنه يجعل فيها ميتة فقال صلى الله عليه وسلم: (اطعموا). وفي رواية: (ضعوا فيها السكين واذكروا اسم الله تعالى وكلوا).

Baca Juga:  Piagam Madinah Konstitusi Tertulis Pertama dan Tertua di Dunia

Bagian ketujuh, menerangkan bahwa Nabi Muhammad memakan keju buatan orang nasrani.

Imam Musaddad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dalam sahihnya, serta al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibn ‘Umar Ra bahwa ia berkata: Rasulullah tatkala di perang Tabuk dibawakan sepotong keju buatan orang Nasrani. Lalu ada yang protes: “Ini makanan buatan orang Nasrani”. Kemudia Nabi meminta pisau lalu menyebut nama Allah dan memotong keju tersebut

Imam at-Thayalisi meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas ra bahwa Rasulullah salallahualaihi wasallam tatkala Fathul Makkah melihat sepotong keju. Beliau lalu bertanya: “Ini apa?” “Makanan yang dibuat di daerah non arab” jawab orang-orang. Nabi lalu berkata: “Potong dan makanlah.”

Imam Ahmad, Muhammad ibn ‘Umar al-Aslami, al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah didatangi dengan dibawakan sepotong keju di perang Tabuk. Lalu Rasulullah salallahualaihi wasallam bersabda: “Dimana ini dibuat?” mereka menjawab di Persia. Dan kami mengira bahwa ada campuran bangkai di dalamnya. Lalu Nabi berkata: “Makanlah”

Dalam satu riwayat: “Potong, sebut nama Allah, lalu makanlah”.

Hadis-hadis di atas memang kebanyakan dijadikan pijakan oleh para ulama’ fikih dalam menyikapi makanan-makanan yang diragukan kehalalannya, dalam artian ada prasangka bahwa makanan itu terkontaminasi oleh benda najis.

Baca Juga:  Memahami Ayat Qauliyah dan Kauniyah, Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Namun dalam kasus klepon yang viral, setidaknya kita bisa mengambil hikmah dari kisah dalam hadits tersebut. Jika Rasulullah saja dengan santai tetap makan keju yang saat itu belum tahu akan kehalalan (diragukan sahabat) makanan tersebut, apa salahnya klepon hingga dianggap tidak Islami padahal sudah jelas kehalalannya? Tabik!

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik