Sekilas Tentang Anregurutta Abunawas Bintang, Ulama Bugis Sulawesi Selatan

Anregurutta H. Abunawas Bintang (Ulama Bugis Sulawesi Selatan)

Pecihitam.org – Sebagai masyarakat sulawesi selatan yang berasal dari kalangan orang orang bugis terlebih dari bugis bone ataupun Santri Pondok Pesantren As’Adiyah pastinya tidak akan pernah lupa dengan Anregurutta Abunawas Bintang, yakni sosok ulama Kharismatik dan berwibawa namun tetap rendah hati.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mari kita mengenal beliau lebih dekat dari masa kecil sampai pada penghujung hidup beliau.

Sebagaimana kebanyakan warga masyarakat di desanya, Anregurutta K.H. Abunawas Bintang terlahir dari keluarga berlatar belakang petani. Ia lahir pada tahun 1946 di Kajuara Kabupaten Bone.

Namun demikian, berkat ketekunannya menuntut ilmu ia berhasil keluar dari lingkungan kehidupan petani dan menjadi pegawai pemerintah sebagai seorang guru. Pekerjaannya sebagai guru itulah yang ditekuninya sepanjang hidupnya. .

Tanda-tanda ke-ulama-annya telah diperlihatkan ketika ia memilih jalur pendidikan agama sejak kecil. Mula-mula ia belajar di desanya dan kemudian dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyah di Pesantren As’adiyah Sengkang.

Setamat Tsanawiyah, ia tidak langsung melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Sesuai ketentuan, ia harus mengikuti program mengajar selama setahun di lingkungan As’adiyah.

Meski dirasakan sebagai suatu hambatan untuk cepat memasuki sekolah lanjutan tingkat atas, apalagi usianya pada waktu itu sudah menjelang 20-an tahun, ia menjalani tugas mengajar tersebut sebagai tantangan dan peluang. Mengajar di usia dini merupakan cara pematangan diri sebagai bekal untuk menunaikan tugas yang lebih berat di masa datang.

Baca Juga:  Biografi Lengkap Imam Al Ghazali Sang Hujjatul Islam

Setelah menyelesaikan tugas mengajar ia pun melanjutkan studi di Madrasah Aliyah As’adiyah. kemudian melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin sampai sarjana muda. Ia mengikuti program pendidikan kader ulama di Ma’had ‘Aly (Pesantren Tinggi), dan berhasil menyelesaikan program tersebut tahun 1984 dengan gelar Kiai Muda. Bersamaan dengan itu, ia pun berhasil menyelesaikan program SI di Fakultas Ushuluddin.

Karirnya sebagai pegawai negeri diawali ketika dalam tahun 1966 ia mengikuti Ujian Guru Agama (UGA) untuk menjadi Guru Agama Negeri. Ia mengajar di sebuah Sekolah Dasar di Sengkang, kemudian pindah ke PGA 4 tahun As’adiyah dua tahun kemudian. Karir keguruannya terus meningkat ketika ia dipercayakan memimpin Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Pusat pada tahun 1976.

Empat tahun memimpin Tsanawiyah ia kemudian ditugaskan untuk memimpin Madrasah Aliyah As’adiyah Putra. Pada waktu penelitian ini dilakukan beliau masih menjabat sebagai Kepala Madrasah tersebut, yang berarti jabatan itu sudah diduduki selama lebih dua puluh tahun.

Baca Juga:  AGH Abduh Pabbaja, Sosok Ulama, Aktivis dan Pendidik yang Disegani di Sulsel

Sebagaimana ulama lainnya ia bukan hanya bertugas untuk mengajar tetapi juga ia harus terlibat di dalam kepengurusan pesantren. Setidaknya jabatan yang pernah dijabat di kepungurusan Pengurus Besar As’adiyah adalah menjabat majelis dakwah, mejelis pengkaderan ulama, bahkan pernah menjabat sebagai Sekertaris Jenderal Pengurus Besar As’adiyah. Ketika penelitian ini dilakukan ia duduk dalam jajaran wakil Ketua PB-As’adiyah.

Meski memiliki beberapa jabatan di As’adiyah Anregurutta Abunawas Bintang tetap aktif berdakwah di masyarakat khususnya di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. Ia memberikan pelayanan dakwah dalam bentuk ceramah pada hari-hari besar Islam, melayani permintaan untuk membawakan khutbah Jum’at di masjid-masjid, dan majelis taklim.

Hingga keaktifan beliau dalam dunia santri pun di uji oleh sang Maha Kuasa dengan diberi sakit, hingga beliau pun harus dirawat di Rumah Sakit Makassar.

Namun dengan hal itu, rupanya tidak membuat beliau lupa dengan dunia Santri yang telah mendarah daging dalam dirinya. Dalam sakitnya beliau masih saja terus mengingat santri santrinya, bahkan sampai pada bangku bangku Madrasah beliau masih khawatirkan dengan ucapan

Baca Juga:  Mengenal Istilah-istilah Ulama di Kalangan Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan

Maganiro bangkona ananae kesina, messi babuaku mitae ananae tudang mangaji na de gaga bangkona”

Yang artinya “Bagaimana dengan kursi/meja anak anak, saya merasa kasihan jikalau mereka mengaji tanpa kursi/meja”.

Dan beliau pun menutup usia tepat pada hari Jumat 4 september 2015 sekitar pukul 23.15. Sudah beberapa tahun silam atas kepergian Anregurutta K.H. Abunawas Bintang, semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah, Amin.


Sumber Referensi:
*asadiyahpusat.org
*Dr. Abd. Kadir Ahmad, M.S. 2008. Ulama Bugis. Makassar: indobis publishing (Cetakan I, hlm. 341-344)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.