Sifat, Watak Dan Tabi’at Masyarakat Arab Pra Islam

Sifat, Watak Dan Tabi’at Masyarakat Arab Pra Islam

Pecihitam.org – Situasi dan kondisi alam tempat masyarakat itu hidup, memiliki dampak pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sifat, watak dan tabi’at, termasuk dalam kasus ini adalah pembentukan watak dan tabiat pada masyarakat arab khususnya pra Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tanah gersang dan tandus, sangat sedikitnya jenis tumbuh-tumbuhan dan hanya ada di sebagian kecil wilayah ini, sangat sulitnya orang mendapatkan air, iklim yang amat panas di siang hari dan dan amat dingin di malam hari, hembusan keras angin bercampur pasir dan debu, semua itu ikut membentuk watak dan tabi’at bangsa Arab khususnya pra islam dalam dua sifat sekaligus, positif dan negatif.

Banyak kesimpulan yang ditulis oleh ahli-ahli sejarah di Barat dan di Timur tentang sifat dan tabi’at masyarakat Arab diantaranya: Pere Lammens mengatakan bahwa tabi’at dan sifat-sifat mereka itu adalah demokratis berlebihan tanpa batas, dimana kecintaan mereka pada prinsip-prinsip kebebasan individu lebih masak atau lebih dalam dari pada tingkat kesanggupan berfikirnya, mereka patuh dan sangat setia pada adat dan istiadat kabilahnya masing-masing.

Baca Juga:  Sejarah Penetapan Waliyul Amr ad-Dharuru bi asy-Syaukah di Indonesia

Ibnu Khaldun bahwa masyarakat arab dikatakan sebagai masyarakat jahiliyah dimana mereka adalah orang-orang yang tidak beradab, gemar melakukan perampasan dan perusakan, sukar tunduk pada pimpinan. Namun pembawaan mereka sebenarnya bersih dan murni, pemberani dan sanggup berkorban untuk hal-hal yang dianggap baik.

De Lacy O’Leary mengatakan, mereka sangat materialistik, berpandangangan sempit dan berperasaan beku, tetapi terlampau peka bila kehormatan, nama baik dan kebebasannya tersinggung. Mereka dermawan terhadap tamu-tamunya dan sangat setia terhadap kabilahnya. Mereka adalah orang-orang yang sangat fanatik dan mudah marah.

Dari uraian ahli sejarah diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya masyarakat Arab juga tidak jauh beda dengan masyarakat lainnya, di mana sifat-sifat mereka banyak dipengaruhi oleh lingkungan, tanah gersang dan tandus menandakan bahwa masyarakat Arab punya sifat yang keras.

Jika kita kontekskan ke Indonesia maka rakyat Indonesia yang hidup pada tanah subur punya sifat yang lembut, dari kelembutannya masyarakat Indonesia banyak yang menganggap lemah sehingga banyak negara yang memanfaatkannya.

Namun jika itu yang dijadikan tolak ukur, itu hanya alasan yang melemahkan, jika masyarakat Indonesia mau menyadari kelemahannya, penulis yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara yang ditakuti oleh negara lain. Indonesia sudah didukung dengan SDA yang memadai tinggal mengubah SDMnya sehingga bisa mengelola SDAnya dengan baik dan tidak akan dibohongi oleh negara lain.

Baca Juga:  Sekilas Sejarah Masuknya Kelompok Islam Trans-Nasional ke Indonesia

Orang-orang Arab adalah orang yang bangga, tetapi sensitif. Kebanggaan itu disebabkan bahwa bangsa arab memiliki sastra yang terkenal, kejayaan sejarah arab dan mahkota bumi pada masa klasik dan bahasa arab sebagai bahasa ibu yang terbaik di antara bahasa-bahasa lain di dunia.

Beberapa sifat lain bangsa arab pra-islam adalah sebagai berikut :

  1. Secara fisik, mereka lebih sempurna dibanding orangorang Eropa dalam berbagai organ tubuh.
  2. Kurang bagus dalam pengorganisasian kekuatan dan lemah dalam penyatuan aksi.
  3. Faktor keturunan, kearifan dan keberanian lebih kuat dan berpengaruh
  4. Mempunyai struktur kesukuan yang diatur oleh kepala suku atau clan
  5. Tidak memiliki hukum yang regular, kekuatan pribadi dan pendapat suku lebih kuat dan diperhatikan
  6. Posisi wanita tidak lebih baik dari binatang, wanita dianggap barang dan hewan ternak yang tidak memiliki hak. Setelah menikah suami sebagai raja dan penguasa.
Baca Juga:  Umar Bin Khattab, Mantan Preman Quraisy yang Mendapat Gelar Amirul Mukminin

Masyarakat arab pada masa pra Islam lebih banyak dalam proses pendapatan ekonominya dari kehidupan alam maupun perdagangan. Perjalanan mereka yang memperjualkan dagangan ke beberapa kota termasuk barang-barang patung maupun kerajinan lainnya.

Hal itulah yang menghidupi keluarga mereka terkadang daerah Arab utara yang bagian selatan untuk masalah perekonomian dititik tekankan pada bercocok tanam. Hal ini karena kondisi geografis masyarakat Arab bagian selatan sangat mendukung sehingga mereka mendapatkan kebutuhan melalui tanaman yang mereka olah.

Mochamad Ari Irawan